Sabtu, 8 Agustus 2026
Opini  

Bisnis “Penangkaran Buaya” Apakah Masih Menarik?

Dr. Hasanuddin Atjo. Foto: istimewa

Oleh Hasanuddin Atjo

Buaya Teluk Palu kembali menjadi trending topik di sejumlah media, baik di medsos, online, elektronik dan media cetak. Dan beritanya tidak kalah bersaing dengan serba serbi pascapilkada di Sulteng tahun 2020.

Pasalnya di minggu pagi, tanggal 13 Desember 2920, sekitar pukul 09.30 Wita, salah seorang warga kota Palu yang sedang berendam di Pantai Talise, tiba-tiba diserang oleh seekor buaya dan salah satu lengannya nyaris putus. Beruntung ada teman korban yang menghalau buaya, sehingga korban dapat diselamatkan.

Musim kawin diduga menjadi salah satu pemicu agresivitas hewan reptil ini meningkat. Selain itu juga ditengarai mendangkalnya DAS Palu, serta pembangunan tanggul sungai dan penahan tsunami di Teluk Palu juga ikut membatasi ruang gerak buaya dan berdampak terhadap naiknya agresivitas itu.

Penangkaran menjadi solusi yang mudah disampaikan dan sejak lama telah diwacanakan, namun sulit diimplementasikan karena biaya investasi dan modal kerja yang besar dan memerlukan waktu lama bagi sebuah bisnis berdaya saing.

Sangat jarang pengusaha tertarik menanamkan modalnya di usaha penangkaran buaya, terkecuali di Papua dan Kalimantan, karena memiliki populasi yang terbilang besar, sehingga masih dibolehkan menangkap dari alam dengan kuota tertentu.

Berdasarkan sumber data BKSDA Sulteng (2020), bahwa populasi buaya muara di sungai dan Teluk Palu masih sekitar puluhan ekor. Data pasti terkait jumlah populasi belum ada, karena harus melalui studi. Tentunya ini harus menjadi perhatian dari BKSDA, karena data yang akurat menjadi dasar untuk kepentingan bisnis penangkaran dan konservasi.

Dengan jumlah hanya puluhan ekor tentunya tidak menarik untuk bisnis penangkaran bagi investor, karena dinilai tidak akan efisien dan efektif.
Masalah buaya yang makin sering menyerang manusia sudah harus dipikirkan solusinya. Kehadiran buaya di muara dan pesisir teluk Palu dinilai telah menjadi ancaman bagi nelayan dan warga kota palu yang datang berendam maupun berenang di pesisir pantai.

Dua opsi dinilai relevan dilakukan bagi penangkaran buaya. Pertama bisnis terintegrasi antara tambang pasir, air bersih, mini mikro hidro, perikanan air tawar dan pariwisata termasuk penangkaran buaya.

Opsi pertama ini, diperuntukan bagi sektor swasta. Pemerintah daerah menyiapkan lahan sekitar 150-200 ha sebagai cathmen area. Boleh jadi disekitar wilayah Dolo Barat.

Sebagian besar air sungai Palu yang mengalir ke muara, dibelokkan masuk ke chatcmen area untuk mengendapkan pasir sekaligus mengurangi sedimentasi muara dan Teluk palu.

Catchment area berfungsi sebagai penambangan pasir, sumber air bersih, sumber pembangkit listrik mini mikro hidro, budidaya ikan, dan pariwisata, yang satu destinasinya adalah penangkaran buaya.

Opsi kedua adalah investasi dari Pemerintah Daerah yaitu sinergitas Provinsi, Kabupaten Sigi dan Kota Palu bekerjasama dengan BKSDA. Namun diprediksi opsi kedua sulit direalisasikan karena keterbatasan fiskal daerah.

Opsi pertama lebih dimungkinkan karena bisnis penangkaran hanya menjadi ikutan, meskipun dalam jangka panjang akan meniliki nilai ekonomi yang tinggi karena harga kulit yang mahal.

Disamping itu dengan model opsi pertama Pemerintah Daerah akan mendapat tambahan pendapatan karena adanya penyertaan modal dan adanya sejumlah retribusi, dari bisnis integrasi itu sehingga dapat meningkatkan kapasitas fiskal daerah ini yang tergolong rendah.

Ini masih merupakan sebuah opsi yang perlu pengkajian lebih dalam. Peran Gubernur Sulteng terpilih, Bupati Sigi dan Wakikota Palu diharapkan membawa semangat baru untuk menjamin keamanan warganya dari ancaman serangan buaya. SEMOGA

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital