Jumat, 4 September 2026
Opini  

Matinya Demokrasi

Oleh: Tasrif Siara

How Democracies Die. Begitu judul buku Steven Levitsky danDaniel Ziblatt. Diterjemahkan menjadi: Bagaimana Demokrasi Mati. Buku ini pernah membuat meriang  sejumlah petinggi negeri karena Anies Baswedan memosting fotonya di media sosial sedang membaca buku ini. Entah kenapa, padahal buku ini tak menyinggung tentang Indonesia.

Buku ini sesungguhnya adalah potret makro berdemokrasi di berapa negara, seperti Amerika Latin, Amerika Serikat dan sejumlah negara di Asia. Levitsky dan kawannya Ziblatt menyimpulkan, praktek  berdemokrasi di sejumlah negara yang di riset itu, sejumlah kepala negara di pilih secara demokratis, namun dalam praktek pemerintahannya menjadi anti demokrasi, bahkan cenderung menarik sumbu demokrasi hingga padam dan gelap.

Levitsky dan Ziblatt mencontohkan, di Amerika Serikat, untuk pertama kali dalam sejarah,  seseorang tanpa pengalaman sebagai pejabat publik, tanpa banyak komitmen terhadap hak-hak konstitusional, dan dengan kecenderungan  otoriter yang jelas, dipilih menjadi presiden. Levitsky dan Ziblatt tak menyebut jika itu adalah Donald Trump dalam bukunya. Namun contoh yang dipaparkan Levitsky dan Ziblatt ini mendapat pembenaran ketika massa pendukung Donald Trump kamis kemarin merangsek masuk ke US Capitol meminta Kongres membatalkan sidang sertifikasi suara Electoral  College  yang menetapkan Jo Biden pemenang Pilpres US. 

Levitsky dan Ziblatt memaparkanselama akhir perang dingin di sejumlah negara Amerika Latin, demokrasi  mati di tangan orang-orang yang bersenjata melalui kudeta, tapi kini demokrasi itu  justru mati bukan ditangan pemilik bedil, tapi ditangan orang-orang yang terpilih melalui Pemilu.  Digambarkan dalam narasi Levitsky dan Ziblatt, “ yang lebih sering adalah demokrasi tergerus pelan-pelan, dalam langkah-langkah yang nyaris tak kasat mata”.

Demikian halnya di negara Venezuela, sebelum terpilih sebagai presiden,  Hugo Rafael Chavez Frias populer dengan Hugo Chavez melancarkan kritik atas praktek pemerintahan yang korup dan tak demokratis oleh Presidente de Venezuela Rafael Caldera Rodriguez. Chavez menjanjikan akan membangun demokrasi yang lebih “otentik”. Ia juga menjanjikan kekayaan negara dari minyak  akan digunakan untuk memperbaiki kehidupan masyarakat miskin. 

Dengan memanfaatkan kemarahan rakyat pada partai politik yang tak pro rakyat,  tahun 1998 Hugo Chavez terpilih sebagai Presiden Venezuela. Malam sebelum pemilihan, seorang pemilih perempuan dari negara bagian asal Chaves berujar, “ Demokrasi terinfeksi. Dan Chavez  satu-satunya antibiotik yang kami punya”.

Di awal pemerintahannya,  Hugo Chavez benar adalah antibiotik  yang mampu menyembuhkan infeksi demokrasi yang menggerogoti pemerintahan di Venezuela. Tahun 1999 Chavez menyelenggarakan Pemilu  demokratis untuk Dewan Konstituante, hasilnya kemenangan buat para chavista, sebutan untuk sekutu Hugo Chavez. Namun tahun 2003, Ia menghambat oposisi yang mengusulkan referendum yang mengusulkan pengunduran diri Chavez. Tahun 2004 Chavez membuat daftar hitam berisi nama-nama pengusung referendum untuk dihabisi. 

Pada tahun 2006 ia kembali terpilih sebagai presiden melalui Pemilu. Chaves memanfaatkan momentum naiknya harga minyak dunia. Dengan begitu ia bebas membuat rencana kerja yang populis  dan karitatif untuk rakyat miskin. Dan rakyat kebanyakan makin menyukainya.  Sebuah survei yang diadakan tahun 2011 oleh lembaga Latinobarometro , membuktikan, 51 % rakyat Venezuela menilai, pemerintahan Hugo Chaves sangat demokratis. 

Hugo Chavez akhirnya tergiur untuk terus memperpanjang masa jabatan presiden tanpa batas. Disisi yang lain rezim chavista  mulai menghabisi lawan-lawan politiknya. Pasca pemilu presiden 2006, Chaves menutup salah satu stasiun televisi terbesar di Venezuela. Ia menangkap dan mengasingkan politisi oposisi, hakim dan tokoh pers dengan tuduhan yang tak jelas.  

Kekuasaan Hugo Chavez makin menguat, Tahun 2012, ia kembali terpilih sebagai presiden melalui pemilu yang bebas tapi curang. Para chavista yang berdiri di ring satu mulai mengendalikan pemberitaan media cetak dan elektronik. Opini publik dikendalikan oleh para chavista untuk kepentingan melanggengkan kekuasaan . Praktek kekuasaan  yang menindas itu ada batasnya, 5 maret 2013 dalam usia 58 tahun, Hugo Chaves mengakhiri masa jabatan dan masa hidupnya karena kanker yang menggerogoti tubuhnya. 

Riset Levitsky dan Ziblatt menemukansejak akhir perang dingin, sebagian besar kehancuran demokrasi  bukan disebabkan oleh para jenderal dan serdadu, melainkan pemerintahan hasil pemilu, seperti  Hugo Chaves dan para pemimpin terpilih yangtelah membajak lembaga-lembaga demokrasi di Georgia, Hungaria, Nigaragua, Peru, Filipina, Polandia, Rusia, Srilangka, Turki dan Ukrania. Kemunduran demokrasi hari ini dimulai di kotak suara. Begitu tulis Levitsky dan Ziblatt dalam bukunya How Democracies Die. ***

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam