Selasa, 29 September 2026
Daerah  

Pengungsi Jalur Dua Korban Gempa Mamuju Tinggal di Kompleks Berlumpur

BERLUMPUR – Kompleks pengungsian di Jalan Juanda, Kota Mamuju, yang becek, Sabtu 16 Januari 2021. Foto: kia/palu ekspres

PALU EKSPRES, MAMUJU – Ratusan pengungsi di wilayah Tambi, Kelurahan Momunyu, Kecamatan Mamuju, terpaksa tinggal di kompleks becek. Hujan yang mengguyur Kota Mamuju – Ibukota Kabupaten Sulawesi Barat pada, Sabtu 15 Januari 2020, membuat kompleks pengungsian tersebut berlumpur.

Saat ini konsentrasi pengungsi terdapat di sejumlah tempat. Selain Jalur Dua, ada pula di kompleks kantor Gubernr Sulbar dan di beberapa kantor pemerintah.

AIR KERUH – Ibu Bahayati (40) mengambil air dari selokan untuk kebutuhannya di tenda pengungsian, Sabtu, 16 Januari 2021. Foto: KIA/palu ekspres

Dari sejumlah titik yang terpantau, kondisi pengungsian yang memprihatinkan adalah pengungsian di Jalan Juanda – pengungsian yang terletak di bagian barat pintu masuk Kota Mamuju. Kawasan yang terletak di ketinggian itu, menjadi pilihan terbaik warga karena dianggap aman dari ancaman tsunami – jika swaktu-waktu terjadi gempa susulan. Seperti yang diungkapkan Darwis (45) warga Tambi, yang sejak peristiwa naas Jumat dinihari sudah memboyong keluarganya di tanah kosong di kawasan Jalur Dua – demikian warga setempat menyebut kawasan jalan dua jalur tersebut.

Darwis mengaku di kompleks pengungsian yang ditempati, mereka mengalami banyak kekurangan khususnya kebutuhan sehari-hari. Ketiadaan pangan pokok memaksa mereka harus mengambil persediaan sembako di rumah mereka. Rekannya sesama warga Tambi aku Darwis, mendapati beras yang tidak bisa lagi dikonsumsi karena bercampur material akibat dihantam gempa dengan 6,2 magnitudo tersebut.

Di pengungsian tersebut aku Darwis, mereka mulai kehabisan stok pangan pokok. Beras lauk dan air bersih yang diangkut dari rumah bahkan sudah habis saat hari pertama di tenda pengungsian. Mereka pun aku pria dengan anak ini, hingga hari kedua gempa, belum sekalipun mendapat bantuan pemerintah. Padahal bantuan dari mana pun datangnya, katanya sangat dibutuhkan.

Sembako yang mulai habis sementara toko yang menjual kebutuhan pangan pokok belum beroperasi. ”Uang ada, tapi toko belum ada yang buka. Bantuan juga belum ada. Mau makan apa,” katanya ditemui di kompleks pengungsian, Sabtu 16 Januari 2021.

Masih di tenda Jalur Dua, Resti pelajar SMK Negeri 1 Mamuju, mengaku, saat ini persediaan sembako di tendanya makin menipis. Sambil menunjuk tempe yang tersisa, ia mengaku beras tinggal tersisa untuk dua kali makan. Demikian pula lauk, hanya tertinggal tempe dan seikat kangkung layu di dekat kompor. Kerabatnya yang bersebelahan tenda menuturkan makanan pokok makin berkurang. Sementara bantuan atau sekadar kunjungan dari pemerintah diakuinya hingga hari kedua belum ada. ”Kalo ada bantuan bisa bantu-bantu kami di sini,” aku ibu ini.

Darwis maupun Hesti, mengeluhkan kondisi kompleks pengungsian yang dinilainya tak layak huni. Sementara, mereka dihadapkan pada pilihan tidak adanya lokasi yang ideal. ”Di sini letaknya tinggi. Jadi mau dimana lagi, kalo ada tsunami aman,” demikian alasan Hesti yang memilih bertahan di lokasi mirip kubangan itu.

Pemantauan Palu Ekspres, lumpur tebal di lokasi pengungsian yang dihuni ratusan jiwa itu, mirip sawah yang sedang dibajak. Lumpur tebal di pintu masuk meluas hingga ke dalam tenda. Di tenda yang didiami Hesti misalnya, peralatan dapurnya belepotan dengan lumpur. Di sana sini, lalat beterbangan di dalam tenda yang banyak dihuni anak-anak. Maryam (34) salah satu ibu yang mendiami tenda biru, mengaku tak punya pilihan lain, dengan kondisi yang dihadapinya saat ini. Sembari berharap musibah yang dihadapinya cepat berlalu, menurut dia bertahan di tenda yang didiaminya kini adalah pilihan terbaik di tengah kondisi yang tidak ideal. ”Diterima saja, mau bagaimana lagi,” ucapnya pasrah.

TIDAK ADA AIR BERSIH WARGA GUNAKAN AIR GOT

Kondisi yang terdesak membuat penghuni memilih menggunakan apa saja, sekalipun dipandang tidak pantas. Salah satunya adalah karena ketiadaan air bersih, maka mereka terpaksa menggunakan air got yang keruh untuk mencuci. Seperti yang dilakukan Ibu Bahayati (40). Ibu dua anak ini tak sungkan mengambil air got yang keruh untuk anaknya yang usai buang hajat. Dengan menggunakan dua buah ember, ia harus menyingkirkan sampah yang menutupi permukaan air. Sesaat kemudian, air keruh dua ember plastik. Badannya tergopoh menahan menapak pintu masuk yang licir oleh lumpur. ”Ini untuk cuci kaki dan cebok anak,” katanya.

Pemandangan di lokasi pengungsian Jalur Dua, hingga sore hari tidak ada air tangki baik dari relawan maupun pemerintah yang menyuplai air bersih. Yang terlihat adalah, kerumunan Polisi yang membubarkan remaja yang memenuhi tepi jalan. Menurut salah satu warga, Polisi membubarkan remaja yang bergerombol di salah satu jalur sibuk tersebut, karena dikhawatirkan akan menjarah bantuan sembako yang masuk dari luar kota. (kia/palu ekspres)

302 Found

302

Found

The document has been temporarily moved.