Kamis, 13 Agustus 2026
Opini  

Industri Udang Nasional, Tantangan dan Peluang

Hasanudin Atjo (tengah). Foto: Istimewa

Oleh Dr. Hasanuddin Atjo (Staf Ahli Menko Marvest)

Revitalisasi tambak udang maupun bandeng milik rakyat menjadi salah satu major project dalam RPJMN 2020 -2024 Presiden Joko Widodo dan wakilnya Mar’uf Amin. Dan, ini tidak lain bertujuan meningkatkan kesejahteraan, pertumbuhan serta devisa bagi Negara.

Melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan, proyeksi peningkatan produksi tidak tanggung- tanggung, langsung meloncat sebesar 250 % yaitu dari 0,.85 juta ton tahun 2020 menjadi 2,00 juta ton tahun 2024. Demikian pula dengan devisanya dari sekitar $ 2 milyar US menjadi sekitar $ 5 milyar US (KKP, 2021).

Sekitar 31.000 ha tambak rakyat akan direvitalisasi untuk dinaikkan produktifitasnya dari 0,6 ton/ha/tahun menggunakan teknologi sederhana menjadi 2 ton, dengan teknologi semi intensif yaitu sudah memakai tandon, pompa, kincir dan pakan serta IPAL. Selebihnya, mendorong investasi swasta masuk ke bisnis ini, mulai usaha mono budidaya vaname dengan teknologi intensif maupun supra intensif atau super intensif hingga usaha integrasi hulu-hilir yaitu pembenihan, pembesaran dan prosesing bernilai tambah. Penetapan target ini didasari oleh sejumlah pertimbangan antara lain, panjang garis pantai nomor dua di dunia setelah Canada, mendekati 100.000 km, beriklim tropis, serta masyarakat familiar dengan usaha ini termasuk teknologi, mulai dari sederhana hingga modern sudah tersedia.

Dan tidak kalah pentingnya pasar terbuka dan pasokan udang dunia diperkirakan masih kurang 1,5 juta ton. Apalagi di masa pandemi ini, permintaan udang tidak menurun signifikan, bahkan pada akhir 2020 trend harga maupun permintaan cenderung naik. Semangat meningkatkan kinerja industri udang nasional boleh jadi ikut dipicu oleh kinerja Vietnam dan Thailand. Negeri ini dengan garis pantai sekitar 3.200 km, mampu memproduksi udang sama dengan Indonesia di angka sekitar 0,500 juta ton ( FAO, 2019). Dan yang menarik India, Equador saat ini telah melampaui produksi udang Indonesia. Padahal mereka mengenal budidaya belum terlalu lama, namun keduanya langsung membenahi faktor yang menjadi penghambat peningkatan produksi dan terbangunnya efisiensi.

Di tahun 2020, ekspor udang dari Indonesia baru sekitar 0,2 juta ton dan 40 % adalah produk olahan dengan devisa mendekati nilai $ 2 miliar US total devisa ekspor hasil Perikanan 2020 sekitar $ 5,2 milyar US. Berbeda dengan Vietnam maupun Thailand, ekspor udangnya 80 % produk olahan, bahkan keduanya mengimpor bahan baku dari India dan Equador untuk diolah . Karena itu devisa keduanya bisa menjadi 2 kali lebih besar dari Indonesia.

Hilirisasi produk olahan berdampak terhadap peningkatan penyerapan tenaga kerja, karena produk olahan akan menyerap tenaga kerja 5 kali lebih banyak dari hilirisasi orientasi bahan baku dan di Idonesia masih sekitar 60 % yang orientasi bahan baku. Kesemua ini, bisa jadi pembenaran terhadap target produksi udang 2 juta ton pada akhir RPJMN 2024. Target besar ini dinilai tidak salah, hanya perlu diketahui bagaimana tantangan major project ini, apa solusinya. Adakah peluang usaha baru dari major project ini. Memproduksi dua juta ton udang, membutuhkan setidaknya 200 miliar ekor benih udang vaname. Dan membutuhkan minimal 2 juta pasang induk udang yang selama ini diimpor dari Hawai dan Florida dengan harga sepasang mendekati $150 US atau 2 juta rupiah. Cacing Laut hasil budidaya untuk pakan induk udang masih diimpor dari Belanda dan Prancis dengan harga mendekat $30 US, sekitar 400 ribu rupiah per kg. Cacing dari alam sangat terbatas suplainya dan berpotensi menjadi carier penyakit. Kebutuhan cacing untuk sepasang induk kurang lebih 8 kg per tahun atau 16.000 ton bagi 2 juta pasang induk.

Selain itu, ketersediaan daya listrik dan jaringan PLN, jaringan irigasi tambak, akses dari dan ke sentra produksi serta pembenahan sistem logistik negara kepulauan menjadi tantangan tambahan kesuksesan major project ini. Setiap 50.000 ekor benih vaname yang ditabur di tambak atau setiap 0,5 ton produksi udang di tambak membutuhkan energi listrik sebesar 1 house power atau 750 watt. Bisa dikalkulasi berapa besar daya dan jaringan listrik yang dibutuhkan. Ini baru kebutuhan di hulu, belum termasuk kebutuhan listrik di hilir untuk prosesing seperti pabrik es maupun cold storedge. Setiap ton udang butuh es sekitar 2 ton, yang berarti dibutuhkan es sekitar 4 juta ton. Negeri ini juga masih mengimpor sejumlah peralatan penunjang dari China, Taiwan dan negara lainnya seperti kincir, pompa air, blower serta sejumlah peralatan lainnya. Dan membuat kemandirian negeri ini rendah. Dan diperkirakan konten impornya masih sekitar 60-70 %. Karenanya sangat terbuka peluang investasi membangun Broodstock Center untuk memproduksi induk udang. Pola usahanya bisa PMA, kerjasama Bisnis to Bisnis , atau PMDN, Penanaman Modal Dalam Negeri.

Pemerintah harus lebih mendorong dan memfasilitasi kiranya bisnis ini bisa tumbuh dan berkembang, oleh karena ketersediaan induk udang sangat strategis terhadap naiknya produksi udang menjadi 2 juta ton. Peluang bisnis kedua, tidak kalah strategisnya adalah memproduksi biomass artemia maupun cyste artemia yang selama ini di Import. Import cyste artemia setiap tahun sekitar 60 -70 ton (120 -140 ribu kaleng) dan nilainya $ 50 US per kaleng atau $ 6 -7 juta US/tahun. Indonesia memikiki tambak garam seluas 27.000 ha dan bisa dipakai memproduksi secara terintegrasi biomas dan cyste artemia bersama garam. Produksi garam rakyat yang fluktuatif baik mutu maupun jumlahnya sering berpolimik bila negeri ini harus impor garam. Dengan model integrasi seperti ini, garam tidak lagi menjadi produk utama, digantikan oleh biomas dan cyste artemia bahkan mineral kesehatan, karena harganya yang tinggi. Dan ini akan bisa mengurai polimik impor garam yang terjadi setiap tahun. Usaha integrasi ini yang sedang di kembangkan di Vietnam, Thailand, Equador dan India menyebabkan kinerja industri perundangannya menjadi lebih baik dan berdaya saing. Ini dikarenakan tersedianya biomas dan cyste artemia didalam mendukung industri induk udang, pembenihan maupun nursery . Biomass artemia dewasa dapat mengganti cacing sebagai pakan induk. Biomass artemia muda baik untuk kebutuhan nursery udang atau tahap awal pembesaran di tambak.

Selanjutnya cyste artemia sangat dibutuhkan hampir semua usaha perbenihan udang maupun ikan. Green Energy, seperti tenaga surya, baterai lithium akan menjadi lebih strategis bagi sentra tambak yang terisolir dari jaringan listrik PLN. Ini tentunya akan memberi akselerasi terhadap pencapaian major project yang dinilai strategis oleh sejumlah kalangan. Terakhir peran dari pelaku usaha yang tergabung dalam sejumlah asosiasi dan komunitas seperti KADIN, HIPMI menjadi bagian yang tidak terpisahkan mengambil peran dalam upaya merealisasikan major project ini. SEMOGA.

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital
Pendekatan Baru Dalam Pengelolaan Platform Permainan Daring Modern Terbentuk Dari Blockchain Dan Big Data
Skalabilitas Game Online Di Tengah Pertumbuhan Pengguna Digital Global Didukung Infrastruktur Cloud Native
Transparansi Ekosistem Game Online Berbasis Teknologi Masa Kini Didukung Blockchain Modern Dan Smart Contract
Ekosistem Game Modern Yang Lebih Terhubung Terbentuk Dari Integrasi Internet Of Things Dan Artificial Intelligence
Industri Game Modern Menyesuaikan Layanan Dengan Perubahan Perilaku Digital Berkat AI Berbasis Prediksi
Performa Game Multiplayer Meningkat Melalui Teknologi Edge Computing Dengan Pemrosesan Data Lebih Cepat
Platform Game Multiplayer Mengantisipasi Ancaman Siber Lebih Efektif Berkat Cyber Intelligence Modern
Pengembangan Game Modern Menjadi Lebih Fleksibel Dan Adaptif Berkat Artificial Intelligence Berbasis Cloud
Transformasi Digital Perusahaan Skala Kecil Dan Menengah Dipercepat Melalui Pengembangan Aplikasi Low Code
Visibilitas Konten Pada Google Discover Meningkat Secara Organik Berkat Strategi Search Engine Optimization
Menekan Spin Delay Is The Key Dengan Irama Tidak Teratur 2 Detik, 5 Detik, 8 Detik Bisa Membingungkan Randomizer Atau Hanya Ritual Ocd Saja
Masa Depan Hiburan Digital Interaktif Dibahas Melalui Perpaduan Teknologi Dan Narasi Pada Wild Bounty Showdown
Inovasi Seotda Baccarat Dari Pragmatic Play Menggabungkan Budaya Korea Dan Format Baccarat Modern Di Tahun 2026
Infrastruktur Game Digital Lebih Siap Menghadapi Gangguan Berkat Cyber Resilience Architecture
RTP Mahjong Scatter Hitam Pragmatic Play Hadir Nonstop 24 Jam Berkat Inovasi Teknologi AI Terbaru
Mahjong Ways Dioptimalkan Dengan Grafis Engine HTML5 Dan Kecepatan Respons Antarmuka Pengguna
Mahjong Ways Menjelaskan Mekanisme Perhitungan Kombinasi Kemenangan Dari Kiri Ke Kanan
Infrastruktur Digital Menjaga Stabilitas Performa Meskipun Beban Sistem Terus Meningkat
Data Historis Menjadi Dasar Pengembangan Algoritma Prediktif Generasi Terbaru
Literasi Risiko Menjadi Penting Seiring Pertumbuhan Investor Pasar Modal Indonesia