Kamis, 3 September 2026
Opini  

Industri Udang Nasional, Tantangan dan Peluang

Hasanudin Atjo (tengah). Foto: Istimewa

Oleh Dr. Hasanuddin Atjo (Staf Ahli Menko Marvest)

Revitalisasi tambak udang maupun bandeng milik rakyat menjadi salah satu major project dalam RPJMN 2020 -2024 Presiden Joko Widodo dan wakilnya Mar’uf Amin. Dan, ini tidak lain bertujuan meningkatkan kesejahteraan, pertumbuhan serta devisa bagi Negara.

Melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan, proyeksi peningkatan produksi tidak tanggung- tanggung, langsung meloncat sebesar 250 % yaitu dari 0,.85 juta ton tahun 2020 menjadi 2,00 juta ton tahun 2024. Demikian pula dengan devisanya dari sekitar $ 2 milyar US menjadi sekitar $ 5 milyar US (KKP, 2021).

Sekitar 31.000 ha tambak rakyat akan direvitalisasi untuk dinaikkan produktifitasnya dari 0,6 ton/ha/tahun menggunakan teknologi sederhana menjadi 2 ton, dengan teknologi semi intensif yaitu sudah memakai tandon, pompa, kincir dan pakan serta IPAL. Selebihnya, mendorong investasi swasta masuk ke bisnis ini, mulai usaha mono budidaya vaname dengan teknologi intensif maupun supra intensif atau super intensif hingga usaha integrasi hulu-hilir yaitu pembenihan, pembesaran dan prosesing bernilai tambah. Penetapan target ini didasari oleh sejumlah pertimbangan antara lain, panjang garis pantai nomor dua di dunia setelah Canada, mendekati 100.000 km, beriklim tropis, serta masyarakat familiar dengan usaha ini termasuk teknologi, mulai dari sederhana hingga modern sudah tersedia.

Dan tidak kalah pentingnya pasar terbuka dan pasokan udang dunia diperkirakan masih kurang 1,5 juta ton. Apalagi di masa pandemi ini, permintaan udang tidak menurun signifikan, bahkan pada akhir 2020 trend harga maupun permintaan cenderung naik. Semangat meningkatkan kinerja industri udang nasional boleh jadi ikut dipicu oleh kinerja Vietnam dan Thailand. Negeri ini dengan garis pantai sekitar 3.200 km, mampu memproduksi udang sama dengan Indonesia di angka sekitar 0,500 juta ton ( FAO, 2019). Dan yang menarik India, Equador saat ini telah melampaui produksi udang Indonesia. Padahal mereka mengenal budidaya belum terlalu lama, namun keduanya langsung membenahi faktor yang menjadi penghambat peningkatan produksi dan terbangunnya efisiensi.

Di tahun 2020, ekspor udang dari Indonesia baru sekitar 0,2 juta ton dan 40 % adalah produk olahan dengan devisa mendekati nilai $ 2 miliar US total devisa ekspor hasil Perikanan 2020 sekitar $ 5,2 milyar US. Berbeda dengan Vietnam maupun Thailand, ekspor udangnya 80 % produk olahan, bahkan keduanya mengimpor bahan baku dari India dan Equador untuk diolah . Karena itu devisa keduanya bisa menjadi 2 kali lebih besar dari Indonesia.

Hilirisasi produk olahan berdampak terhadap peningkatan penyerapan tenaga kerja, karena produk olahan akan menyerap tenaga kerja 5 kali lebih banyak dari hilirisasi orientasi bahan baku dan di Idonesia masih sekitar 60 % yang orientasi bahan baku. Kesemua ini, bisa jadi pembenaran terhadap target produksi udang 2 juta ton pada akhir RPJMN 2024. Target besar ini dinilai tidak salah, hanya perlu diketahui bagaimana tantangan major project ini, apa solusinya. Adakah peluang usaha baru dari major project ini. Memproduksi dua juta ton udang, membutuhkan setidaknya 200 miliar ekor benih udang vaname. Dan membutuhkan minimal 2 juta pasang induk udang yang selama ini diimpor dari Hawai dan Florida dengan harga sepasang mendekati $150 US atau 2 juta rupiah. Cacing Laut hasil budidaya untuk pakan induk udang masih diimpor dari Belanda dan Prancis dengan harga mendekat $30 US, sekitar 400 ribu rupiah per kg. Cacing dari alam sangat terbatas suplainya dan berpotensi menjadi carier penyakit. Kebutuhan cacing untuk sepasang induk kurang lebih 8 kg per tahun atau 16.000 ton bagi 2 juta pasang induk.

Selain itu, ketersediaan daya listrik dan jaringan PLN, jaringan irigasi tambak, akses dari dan ke sentra produksi serta pembenahan sistem logistik negara kepulauan menjadi tantangan tambahan kesuksesan major project ini. Setiap 50.000 ekor benih vaname yang ditabur di tambak atau setiap 0,5 ton produksi udang di tambak membutuhkan energi listrik sebesar 1 house power atau 750 watt. Bisa dikalkulasi berapa besar daya dan jaringan listrik yang dibutuhkan. Ini baru kebutuhan di hulu, belum termasuk kebutuhan listrik di hilir untuk prosesing seperti pabrik es maupun cold storedge. Setiap ton udang butuh es sekitar 2 ton, yang berarti dibutuhkan es sekitar 4 juta ton. Negeri ini juga masih mengimpor sejumlah peralatan penunjang dari China, Taiwan dan negara lainnya seperti kincir, pompa air, blower serta sejumlah peralatan lainnya. Dan membuat kemandirian negeri ini rendah. Dan diperkirakan konten impornya masih sekitar 60-70 %. Karenanya sangat terbuka peluang investasi membangun Broodstock Center untuk memproduksi induk udang. Pola usahanya bisa PMA, kerjasama Bisnis to Bisnis , atau PMDN, Penanaman Modal Dalam Negeri.

Pemerintah harus lebih mendorong dan memfasilitasi kiranya bisnis ini bisa tumbuh dan berkembang, oleh karena ketersediaan induk udang sangat strategis terhadap naiknya produksi udang menjadi 2 juta ton. Peluang bisnis kedua, tidak kalah strategisnya adalah memproduksi biomass artemia maupun cyste artemia yang selama ini di Import. Import cyste artemia setiap tahun sekitar 60 -70 ton (120 -140 ribu kaleng) dan nilainya $ 50 US per kaleng atau $ 6 -7 juta US/tahun. Indonesia memikiki tambak garam seluas 27.000 ha dan bisa dipakai memproduksi secara terintegrasi biomas dan cyste artemia bersama garam. Produksi garam rakyat yang fluktuatif baik mutu maupun jumlahnya sering berpolimik bila negeri ini harus impor garam. Dengan model integrasi seperti ini, garam tidak lagi menjadi produk utama, digantikan oleh biomas dan cyste artemia bahkan mineral kesehatan, karena harganya yang tinggi. Dan ini akan bisa mengurai polimik impor garam yang terjadi setiap tahun. Usaha integrasi ini yang sedang di kembangkan di Vietnam, Thailand, Equador dan India menyebabkan kinerja industri perundangannya menjadi lebih baik dan berdaya saing. Ini dikarenakan tersedianya biomas dan cyste artemia didalam mendukung industri induk udang, pembenihan maupun nursery . Biomass artemia dewasa dapat mengganti cacing sebagai pakan induk. Biomass artemia muda baik untuk kebutuhan nursery udang atau tahap awal pembesaran di tambak.

Selanjutnya cyste artemia sangat dibutuhkan hampir semua usaha perbenihan udang maupun ikan. Green Energy, seperti tenaga surya, baterai lithium akan menjadi lebih strategis bagi sentra tambak yang terisolir dari jaringan listrik PLN. Ini tentunya akan memberi akselerasi terhadap pencapaian major project yang dinilai strategis oleh sejumlah kalangan. Terakhir peran dari pelaku usaha yang tergabung dalam sejumlah asosiasi dan komunitas seperti KADIN, HIPMI menjadi bagian yang tidak terpisahkan mengambil peran dalam upaya merealisasikan major project ini. SEMOGA.

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam