Waduuh, ternyata produksi gelar ini adalah SIM untuk kejar proyek? Celaka dua belas, sudah terbalik-balik dunia akademik kita. Pragmatisme kian melanda kehidupan kampus. Beberapa waktu berselang, ada mahasiswa memposting narasi ada pungli di kampus. Narasi berposter itu muncul di arena wisuda. Anak-anak kita pergi dari kampus, membawa aib. Terdapat juga yang telah diwisuda, padahal banyak mata kuliah belum lulus. Saya menduga, kalau semua dosen jujur dan berani demi martabat moral akademik, data ini pasti terungkap.
Sewaktu memegang beberapa proyek (baca; program) United Nation Development Program (UNDP), saya sering mendapat tawaran berkali-kali. Begitu pula Isteri ku. Ketika menjabat ketua Women Study Center (baca; PSW) Universitas Tadulako, beliau ditawari bertubi tubi. Mereka menawarkan gelar akademik berlabel Internasional. Bayarannya sekian puluh juta. Wisudanya di hotel mewah.
Banyak sekali kaum birokrat, politisi dan akademisi tergiur. Untung, Dikti bertindak cepat. Program jual beli gelar dengan model akademik instan itu berhenti hingga hilang. Sekarang seperti marak kembali. Tapi, dalam bentuk lain. Lebih resmi dan legal. Namun, rasanya mirip. Meminta imbalan rupiah dalam jumlah tertentu. Tapi, belum ada reaksi. Mungkin semua sudah memaklumi. Atau, nantilah waktu yang menjawabnya. (BERSAMBUNG..)
(Penulis adalah Associate Profesor bidang Ekologi Manusia di Faperta Universitas Tadulako)






