Selasa, 1 September 2026

Hikayat Palu–Donggala–Parigi, 1904–1914

Dan jika kita ingin memahami Palu, Donggala dan Parigi hari ini, mungkin kita perlu kembali sejenak ke sana—ke tepian Teluk Palu pada awal abad ke-20.
Dan jika kita ingin memahami Palu, Donggala dan Parigi hari ini, mungkin kita perlu kembali sejenak ke sana—ke tepian Teluk Palu pada awal abad ke-20.

Tentang kedatangan orang-orang Bala Keselamatan di Palu. Tentang Donggala yang sejak dulu telah jadi Kota Niaga. Tentang koloni pertama Orang Bali dan Lombok di Parigi yang mengenalkan tradisi bertani sawah. 

Pada suatu pagi lebih dari seabad silam, ketika matahari baru naik di balik perbukitan yang mengitari Teluk Palu, kawasan itu tentu belum mengenal nama Indonesia seperti yang kita kenal hari ini. Belum ada Provinsi Sulawesi Tengah, belum ada Kota Palu dengan jalan-jalan yang ramai, dan belum ada garis administratif yang membelah ruang ini sebagaimana tampak pada peta modern. Yang ada adalah teluk, lembah, sungai, sawah, kampung-kampung, jalur perdagangan, kekuasaan lokal, dan manusia yang telah lama membangun kehidupannya di antara pegunungan dan laut.

Dari arah laut, Teluk Palu merupakan sebuah pintu. Di belakangnya terbentang daratan dan lembah yang mengarah ke pedalaman Celebes. Di pesisir terdapat pelabuhan dan tempat-tempat persinggahan; lebih jauh ke dalam, kehidupan pertanian dan masyarakat lokal berlangsung dengan ritmenya sendiri. Donggala berada dalam jaringan pesisir itu, sementara Parigi, di sebelah timur, berkembang dalam lingkungan pertanian yang kelak menjadi salah satu ruang migrasi paling menarik di Midden-Celebes.

Kemudian datang sebuah dekade yang perlahan mengubah cara kawasan itu dilihat.

Dekade tersebut adalah 1904–1914.

Salah satu saksi tertulisnya adalah De Buitenbezittingen 1904 tot 1914, sebuah publikasi kolonial yang disusun oleh Encyclopaedisch Bureau, Departement van Binnenlandsch Bestuur dan diterbitkan pada 1915 oleh N.V. Boekhandel & Uitgeverij v/h G.C.T. Van Dorp & Co. Buku ini merupakan bagian dari seri Mededeelingen van het Bureau voor de Bestuurszaken der Buitenbezittingen. Bahan awalnya berkaitan dengan pameran kolonial di Semarang pada 1914, tetapi kemudian dikembangkan menjadi uraian yang lebih luas mengenai perkembangan wilayah-wilayah Hindia Belanda di luar Jawa dan Madura selama satu dasawarsa.

Membaca buku itu dari Palu hari ini terasa seperti membuka sebuah album tua yang halaman-halamannya tidak dibuat untuk kita. Para penyusunnya tidak sedang menulis sejarah Sulawesi Tengah. Mereka sedang mendata Buitenbezittingen dari sudut pandang pemerintah kolonial: penduduk, pertanian, perdagangan, jalan, pelayaran, pajak, perkebunan, pertambangan, agama, migrasi dan administrasi. Karena itu, Palu, Donggala dan Parigi tidak selalu mendapatkan porsi yang sama. Ada yang muncul sebagai nama wilayah, ada yang muncul dalam tabel ekonomi, ada yang muncul dalam catatan agama, dan ada pula yang hanya tampak sebagai bagian dari struktur administratif yang lebih luas.

Justru dari serpihan-serpihan itu sebuah cerita dapat dibangun.

1904: Ketika Sebuah Dekade Dimulai

Tahun 1904 menjadi titik awal dalam rentang yang dipilih buku tersebut. Pada masa itu, pemerintah kolonial sedang berusaha memperluas pengetahuan dan kendalinya atas wilayah-wilayah yang sebelumnya dianggap belum sepenuhnya dikenal. Buku tersebut menggambarkan bagaimana pada masa sebelumnya informasi mengenai banyak kawasan Buitenbezittingen terutama diperoleh dari daerah pesisir, sementara pedalaman masih sulit ditembus. Bahkan pada 1903, penelitian Sarasin di pedalaman Celebes masih berhadapan dengan kekuasaan lokal yang mampu menghentikan perjalanan mereka.

Peristiwa itu memperlihatkan sesuatu yang sangat penting: Celebes bukan ruang kosong yang menunggu kedatangan pemerintah kolonial. Pedalaman memiliki masyarakat, kekuasaan dan aturan sendiri. Seorang penjelajah tidak dapat begitu saja berjalan masuk hanya karena membawa mandat penelitian. Ada otoritas lokal yang harus diperhitungkan.

Tetapi pada awal abad ke-20, hubungan itu mulai berubah.

Pemerintah kolonial semakin banyak menempatkan pejabat di wilayah pedalaman dan mengembangkan sistem informasi yang lebih teratur. Pengetahuan tentang masyarakat tidak lagi hanya diperoleh melalui perjalanan sesekali. Ia mulai diproduksi secara administratif melalui laporan dan pengamatan sehari-hari.

Perubahan ini memiliki arti besar bagi kawasan Palu–Donggala–Parigi.

Sebuah wilayah yang sebelumnya dikenal terutama melalui hubungan lokal dan jaringan perdagangan perlahan menjadi objek administrasi. Pemerintah ingin mengetahui berapa penduduknya, apa yang ditanam, berapa hasilnya, bagaimana transportasinya, dan dari mana pendapatan dapat diperoleh.

Pada saat yang sama, dunia di luar Celebes juga sedang bergerak cepat.

Kapal-kapal uap semakin banyak memasuki perairan Hindia Belanda. Pelayaran pantai berkembang. Jalan dan jembatan mulai dibangun di berbagai wilayah. Di seluruh kepulauan, pemerintah berusaha menciptakan jaringan transportasi yang memungkinkan barang, orang dan aparat bergerak lebih cepat.

Bagi sebuah kawasan seperti Teluk Palu, perubahan semacam itu berarti satu hal: laut yang selama berabad-abad menjadi jalur perdagangan tradisional mulai terhubung dengan sistem pelayaran modern kolonial.

1905: Parigi dan Orang-Orang yang Datang dari Lombok

Lalu datang 1905. Di Parigi, sebuah peristiwa berlangsung yang mungkin pada awalnya tampak kecil jika dibandingkan dengan pembangunan jalan atau statistik perdagangan. Tetapi lebih dari satu abad kemudian, peristiwa itu justru menjadi salah satu bagian paling manusiawi dari catatan buku tersebut.

Pada 1905, sejumlah orang Bali dibuang ke Parigi.

Buku mencatat bahwa pada 1905 dan 1906 sekitar 23 orang Bali ditempatkan di Parigi sebagai orang buangan. Mereka kemudian disusul oleh sekitar 13 orang Bali yang datang secara sukarela. Di antara para pendatang itu terdapat Goesti Madé Djilantik (Red – Djelantik), putra penguasa terakhir Lombok.

Parigi, dengan demikian, menjadi tempat pertemuan yang tidak biasa.

Orang-orang yang datang tidak sekadar membawa tubuh mereka dari Bali atau Lombok menuju Celebes. Mereka membawa adat, hubungan sosial, ingatan, kepemimpinan dan keterampilan bertani. Djilantik, karena kedudukannya sebagai orang Bali dari kasta tinggi, segera memperoleh peran kepemimpinan di antara para pendatang tersebut. Menurut buku, ia menggunakan pengaruhnya untuk mempertahankan rasa kebersamaan dan adat Bali sekaligus mendorong mereka bekerja secara sungguh-sungguh dalam pertanian.

Ada ironi yang kuat dalam kisah ini.

Sebuah komunitas yang sebagian anggotanya datang karena pembuangan justru berkembang menjadi contoh yang oleh pemerintah kolonial dinilai berhasil.

Parigi menyediakan dua modal penting: tanah pertanian yang baik dan air irigasi yang memadai. Kedua faktor tersebut membuat para pendatang dapat membangun kehidupan baru dengan relatif cepat.

Kita dapat membayangkan apa artinya itu bagi orang-orang yang datang.

Mereka harus memulai dari awal, tetapi tidak benar-benar kehilangan dunia lama. Di Parigi, mereka membawa dunia itu bersama mereka. Mereka mempertahankan adat, hidup dalam komunitas, bekerja bersama dan membuka sawah.

Inilah salah satu ciri penting migrasi dalam sejarah Nusantara: yang berpindah bukan hanya individu, melainkan sering kali juga sebuah bagian dari masyarakat.

1906: Sebuah Eksperimen yang Mulai Terlihat Hasilnya

Pada 1906, kelompok kedua datang.

Mereka bukan lagi hanya orang-orang yang dibuang. Ada pula pendatang sukarela yang memilih Parigi sebagai tempat hidup baru. Di antara mereka terdapat Djilantik.

Buku menggambarkan peran kepemimpinan Djilantik sebagai faktor penting dalam keberhasilan komunitas tersebut. Ia membantu mempertahankan solidaritas internal dan adat Bali, tetapi sekaligus mendorong kerja pertanian secara intensif.

Di sinilah kisah Parigi menjadi lebih dari sekadar kisah kolonisasi.

Pemerintah kolonial melihatnya sebagai “proef”—sebuah percobaan migrasi yang ternyata berhasil. Keberhasilan itu kemudian mendorong pemerintah untuk memperluas koloni tersebut. Orang Bali yang kemudian dibuang ke Hindia Belanda dapat diarahkan ke Parigi sebagai tempat tinggal. Pemerintah lokal juga memberikan berbagai fasilitas kepada pendatang, termasuk pembebasan sementara dari pajak dan heerendienst, serta bantuan material sampai mereka memperoleh panen pertama.

Tetapi jika dilihat dari jarak sejarah, kita dapat membaca proses itu dengan cara yang lebih luas.

Parigi sedang menjadi laboratorium sosial.

Pemerintah kolonial menguji apakah perpindahan penduduk dapat digunakan untuk mengembangkan pertanian. Tanah dan air menjadi modal. Pendatang menjadi tenaga. Struktur sosial komunitas menjadi penyangga. Negara menyediakan fasilitas awal. Dari kombinasi itu diharapkan muncul sebuah pemukiman pertanian yang produktif.

Namun sejarah tidak pernah sepenuhnya tunduk pada rancangan pemerintah. Para pendatang bukan mesin produksi. Mereka manusia. Mereka membawa agama, adat, hubungan kekerabatan, ingatan tentang tanah asal dan cara mereka sendiri dalam mengatur kehidupan.

Karena itu, keberhasilan Parigi sebenarnya tidak hanya merupakan keberhasilan kebijakan kolonial. Ia juga merupakan keberhasilan masyarakat pendatang dalam menciptakan kembali kehidupan mereka di tempat yang sama sekali baru.

Palu dan Donggala di Tengah Perubahan

Sementara Parigi mendapatkan kisah yang relatif rinci, Palu dalam buku tersebut muncul dengan cara yang lebih tersirat.

Ini justru perlu dikatakan secara jujur.

De Buitenbezittingen 1904 tot 1914 bukan buku sejarah lokal Palu. Ia tidak menyediakan uraian panjang yang memungkinkan kita merekonstruksi kehidupan kota Palu secara detail untuk setiap tahun 1904 sampai 1914. Karena itu, tidak tepat mengisi kekosongan sumber dengan cerita yang tidak dinyatakan dalam buku.

Tetapi Palu dapat ditempatkan dalam lanskap yang lebih luas melalui penyebutan Paloebaai (Red – Teluk Palu) dan Afdeeling Donggala.

Pada 1914, Leger des Heils atau Salvation Army (Red – Bala Keselamatan) mulai bekerja di Paloebaai, yang disebut sebagai bagian dari Afdeeling Donggala dalam Residentie Menado.

Sebuah catatan pendek itu sebenarnya sangat berarti.

Ia menunjukkan bahwa kawasan Teluk Palu telah masuk ke dalam jaringan administratif dan keagamaan yang lebih luas. Sebuah organisasi yang bergerak di berbagai wilayah kepulauan mulai menempatkan kegiatannya di sana.

Paloebaai menjadi lebih dari sekadar bentang laut. Ia menjadi titik dalam jaringan. Dan jaringan adalah kata kunci untuk memahami awal abad ke-20.

Donggala: Di Antara Daratan dan Laut

Donggala sendiri muncul dalam buku antara lain melalui catatan tentang peternakan. Dalam pembahasan mengenai domba ekor gemuk, Donggala disebut secara khusus dalam konteks Midden-Celebes.

Catatan seperti ini dapat terlihat kecil, tetapi sesungguhnya membuka gambaran tentang kehidupan ekonomi masyarakat.

Pada masa ketika mekanisasi belum berkembang seperti sekarang, ternak merupakan bagian penting dari ekonomi. Kerbau dapat menjadi tenaga kerja pertanian. Kuda menjadi alat mobilitas. Sapi dan domba merupakan kekayaan dan komoditas.

Statistik 1913 menunjukkan bahwa Celebes en Onderhoorigheden memiliki ribuan kuda dan sapi serta puluhan ribu kerbau.

Tidak berarti seluruh angka itu berasal dari Donggala. Buku menyajikannya pada tingkat wilayah Celebes dan daerah bawahannya. Tetapi angka tersebut membantu kita memahami dunia ekonomi tempat Donggala berada.

Donggala bukan sekadar titik di pesisir.

Ia berada pada pertemuan antara produksi daratan dan jalur laut.

Hasil pertanian dan ternak bergerak dari pedalaman menuju kawasan pesisir. Dari pesisir, barang dapat memasuki jaringan perdagangan antarpulau. Sebaliknya, barang dari luar dapat masuk melalui pelabuhan dan diteruskan ke daerah pedalaman.

Dengan cara seperti itulah sebuah kota pelabuhan memperoleh arti.

1910: Parigi Menjadi Rumah

Kemudian datang 1910. Lima tahun setelah kelompok pertama tiba, eksperimen Parigi telah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih konkret. Buku mencatat bahwa pada 1910 sekitar 20 keluarga imigran telah memiliki rumah, sawah dan kebun sendiri. Kalimat itu mungkin merupakan salah satu kalimat terpenting dalam seluruh kisah Parigi.

Sebab pada titik itu mereka bukan lagi sekadar pendatang. Mereka telah menjadi penghuni. Mereka mempunyai rumah. Mereka mempunyai sawah. Mereka mempunyai kebun. Mereka telah memiliki masa depan yang tertanam di tanah Parigi. Di sinilah sebuah proyek migrasi berubah menjadi sejarah sosial.

Tanah yang pada awalnya dipandang pemerintah sebagai bagian dari kebijakan kolonisasi telah menjadi ruang kehidupan bagi keluarga-keluarga nyata. Anak-anak akan lahir di sana. Rumah akan diwariskan. Sawah akan dikerjakan dari generasi ke generasi.

Dengan demikian, 1910 bukan hanya tahun statistik. Ia adalah tahun ketika sebuah komunitas mulai berakar.

Keberhasilan tersebut juga memperkuat keyakinan pemerintah kolonial untuk memperluas pemukiman Bali di Parigi. Pemerintah bahkan menganggap keberadaan Djilantik sebagai salah satu faktor penting yang memungkinkan komunitas itu berkembang.

Parigi menjadi contoh bahwa migrasi dapat menghasilkan perubahan demografis jangka panjang.

Dan perubahan demografis semacam itu kelak menjadi bagian dari wajah Sulawesi Tengah.

Di Luar Parigi, Celebes Sedang Dibangun

Sementara keluarga-keluarga Bali mulai membangun rumah dan sawah di Parigi, perubahan yang lebih besar sedang berlangsung di seluruh Celebes.

Pemerintah memperbaiki sistem transportasi. Jalan-jalan dibangun. Jembatan didirikan. Pelabuhan dikembangkan. Pelayaran uap semakin padat.

Pada 1914, seluruh Hindia Belanda telah memiliki ratusan lampu navigasi dan mercusuar; buku mencatat bahwa sejak 1904 sebanyak 104 lampu baru telah didirikan dan 54 lainnya diperbaiki untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan pelayaran modern.

Ini adalah detail yang jarang dibaca dari perspektif sejarah lokal, tetapi penting untuk memahami perubahan kawasan.

Laut tidak lagi hanya ruang yang dilalui kapal tradisional. Ia sedang ditata sebagai jalur pelayaran modern. Mercusuar dan lampu navigasi adalah tanda dari perubahan itu. Mereka membuat perjalanan laut lebih aman dan memungkinkan jaringan perdagangan bekerja lebih teratur.

Buku juga mencatat bahwa selain KPM, lebih dari 60 kapal uap lainnya ikut melakukan pelayaran pantai di perairan Hindia. Salah satu perusahaan yang disebut adalah Reederij Kian Gwan, yang menjalankan kapal dengan total tonase 4.205 ton dan terutama berlayar antara Singapore, Java, Celebes dan Ternate.

Bayangkan posisi Celebes di dalam jaringan itu. Di satu sisi ada desa dan sawah.

Di sisi lain ada kapal uap yang berlayar menuju Jawa, Singapore, Ternate dan pelabuhan-pelabuhan lain.

Jarak geografis memang tetap jauh, tetapi secara ekonomi jarak itu semakin pendek.

1913: Ketika Angka Mulai Berbicara

Menjelang akhir periode, perubahan itu terlihat semakin jelas dalam statistik.

Pada 1913, pendapatan pertanian tertentu di bawah Celebes en Onderhoorigheden tercatat sebesar 334.000 gulden dari vertiening dan 29.000 gulden dari tesang. Sebagai perbandingan, pada 1903 angka tersebut masing-masing 145.000 dan 10.000 gulden.

Angka itu tidak dapat diperlakukan sebagai pendapatan khusus Palu, Donggala atau Parigi. Tetapi ia memperlihatkan arah perubahan ekonomi di wilayah Celebes secara keseluruhan.

Produksi pedesaan semakin terhubung dengan sistem fiskal.

Negara semakin mampu menghitung.

Dan apa yang dapat dihitung dapat dikenai pajak, diatur dan dimasukkan ke dalam anggaran.

Di tingkat yang lebih luas, perdagangan juga berkembang. Rekapitulasi penerimaan bea impor untuk Celebes en Onderhoorigheden menunjukkan kenaikan yang nyata pada periode tersebut.

Sekali lagi, statistik tersebut bukan statistik Palu.

Tetapi ia membantu kita memahami dunia ekonomi tempat Palu dan Donggala berada.

Sulawesi tidak lagi berdiri sebagai kumpulan wilayah lokal yang hanya terhubung secara terbatas.

Ia semakin masuk ke dalam jaringan ekonomi Hindia Belanda dan perdagangan internasional.

Tahun 1913 juga memperlihatkan perubahan cara pandang terhadap tanah

Pemerintah mulai melihat bukan hanya apa yang tumbuh di atas tanah, tetapi juga apa yang mungkin berada di bawahnya.

Penelitian pertambangan dilakukan di Gouvernement Celebes en Onderhoorigheden pada beberapa tahun antara 1909 dan 1913.

Ini adalah perubahan besar dalam cara negara memandang ruang. Tanah pertanian mempunyai nilai. Hutan mempunyai nilai. Pelabuhan mempunyai nilai. Tetapi gunung dan batuan juga mungkin mempunyai nilai.

Celebes semakin dipandang sebagai wilayah sumber daya.

Bagi sejarah Sulawesi Tengah, perkembangan ini penting karena kemudian, dalam perjalanan sejarah berikutnya, eksplorasi sumber daya alam akan menjadi salah satu tema besar kawasan tersebut. Buku 1904–1914 belum memberikan seluruh cerita itu. Tetapi ia memperlihatkan fase ketika pengetahuan dan penelitian sumber daya mulai dilakukan dengan lebih sistematis.

1914: Sebuah Dunia yang Hampir Selesai Dipotret

Kemudian tibalah 1914. Bagi buku tersebut, tahun ini adalah batas akhir. Sepuluh tahun telah berlalu sejak 1904.

Dalam rentang waktu itu, sebuah jaringan administrasi yang jauh lebih rapat telah terbentuk. Pemerintah semakin banyak mengetahui wilayah pedalaman. Jalan dan pelayaran berkembang. Sistem pajak semakin terukur. Pertanian semakin terintegrasi dengan ekonomi kolonial. Penelitian pertambangan diperluas. Migrasi menghasilkan komunitas baru. Jaringan agama juga semakin bergerak.

Di Sulawesi Tengah, serpihan-serpihannya dapat ditemukan pada tiga ruang yang kita bicarakan. Palu muncul dalam lanskap Teluk Palu dan Paloebaai.

Donggala hadir sebagai afdeeling sekaligus kawasan ekonomi pesisir dan peternakan. Parigi muncul sebagai koloni pertanian Bali yang telah memiliki rumah, sawah dan kebun.

Ketiganya belum menjadi satu “Sulawesi Tengah”. Tetapi mereka telah berada dalam satu proses sejarah yang lebih luas. Dan di sinilah tahun 1914 memiliki makna yang hampir sinematik.

Di Eropa, perang besar pecah. Di Hindia Belanda, dunia perdagangan yang selama bertahun-tahun berkembang mulai menghadapi ketidakpastian baru.

Buku itu, tanpa mengetahui seluruh perubahan yang akan datang, seolah-olah menutup kameranya tepat pada saat sebuah zaman berakhir.

Sepuluh tahun sebelumnya, pemerintah masih berbicara tentang luasnya wilayah yang belum dikenal dan sulit dijangkau.

Pada 1914, pejabat kolonial telah menyebar lebih jauh. Jalan dan kapal menghubungkan berbagai tempat. Lampu-lampu navigasi menerangi jalur laut. Statistik mengubah kehidupan masyarakat menjadi angka. Pajak menghubungkan sawah dengan kas pemerintah. Pelayaran menghubungkan Celebes dengan Jawa, Singapore dan Ternate.

Dan di Parigi, sekitar dua puluh keluarga Bali telah mempunyai rumah, sawah dan kebun. Sebuah masyarakat baru telah berakar. Tetapi sejarah tidak hanya terdiri dari apa yang dicatat

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak.

De Buitenbezittingen 1904 tot 1914 adalah sumber yang sangat kaya, tetapi ia juga merupakan sumber kolonial. Ia berbicara terutama dari sudut pandang negara.

Maka ketika buku berbicara tentang “pembangunan”, kita harus bertanya siapa yang membangun.

Ketika berbicara tentang “kolonisasi”, kita harus bertanya bagaimana masyarakat lokal mengalami perubahan itu.

Ketika berbicara tentang pajak, kita harus bertanya siapa yang membayar.

Ketika berbicara tentang jalan dan heerendienst, kita harus mengingat bahwa infrastruktur kolonial juga memiliki sejarah kerja dan kewajiban masyarakat.

Ketika berbicara tentang migrasi, kita harus melihat bukan hanya keberhasilan pemerintah, tetapi juga manusia yang dipindahkan, dibuang atau memilih berpindah.

Dan ketika buku berbicara tentang wilayah yang “dibuka”, kita harus mengingat bahwa wilayah tersebut sebenarnya telah dihuni, dikelola dan diberi makna oleh masyarakat lokal jauh sebelum masuk ke dalam peta kolonial.

Karena itu, nilai terbesar buku ini mungkin justru terletak pada kemampuannya memberi kita gambaran tentang bagaimana pemerintah kolonial melihat Sulawesi, bukan memberikan kata terakhir tentang bagaimana Sulawesi sebenarnya.

Untuk Palu, keterbatasan itu terasa paling jelas.

Buku tidak memberi kita sebuah narasi lengkap mengenai kehidupan Palu tahun demi tahun. Karena itu, sejarah lokal Palu pada periode ini harus dicari pula melalui sumber lain: arsip kerajaan dan pemerintahan lokal, laporan pejabat, surat kabar sezaman, peta, catatan pelayaran, dokumen misi, serta sumber-sumber yang memungkinkan suara masyarakat setempat muncul lebih kuat.

Namun kekosongan itu bukan kelemahan yang membuat buku ini tidak berguna. Justru sebaliknya. Ia menunjukkan kepada kita di mana harus mencari.

Palu–Donggala–Parigi: Tiga wajah sebuah perubahan

Jika seluruh dekade 1904–1914 diringkas dalam tiga nama, Palu, Donggala dan Parigi memperlihatkan tiga wajah yang berbeda dari perubahan Celebes.

Palu adalah wajah ruang teluk yang mulai terhubung dengan jaringan yang lebih luas. Penyebutan Paloebaai dalam Afdeeling Donggala dan masuknya Leger des Heils pada 1914 memberi kita salah satu jejak langsung dari proses tersebut.

Donggala adalah wajah pesisir yang mempertemukan daratan dan laut. Catatan peternakan memperlihatkan aktivitas ekonomi lokal, sementara kedudukannya sebagai afdeeling menunjukkan bahwa kawasan tersebut telah menjadi bagian dari struktur pemerintahan kolonial.

Parigi adalah wajah migrasi dan pembentukan masyarakat baru. Kisah orang-orang Bali yang datang pada 1905–1906, kepemimpinan Goesti Madé Djilantik, keberadaan lahan dan air yang baik, hingga sekitar dua puluh keluarga yang pada 1910 telah memiliki rumah, sawah dan kebun, memberikan sebuah gambaran yang jauh lebih konkret tentang bagaimana perubahan demografis berlangsung.

Ketiganya tidak identik. Tetapi ketiganya berada di dalam arus yang sama.

Arus itu adalah integrasi yang semakin kuat—dan sekaligus semakin mengikat—antara masyarakat lokal dengan sistem kolonial.

Epilog: Sebelum Midden Celebes Menjadi Sulawesi Tengah

Hari ini kita dapat berdiri di tepi Teluk Palu dan memandang lanskap yang sangat berbeda. Kota telah tumbuh. Jalan telah berubah. Pelabuhan berubah. Batas administratif berubah. Nama provinsi pun berubah.

Tetapi lanskap dasarnya masih menyimpan ingatan yang jauh lebih tua: teluk yang sama, gunung-gunung yang sama, lembah-lembah yang sama, dan jalur-jalur manusia yang sejak dahulu menghubungkan pantai dengan pedalaman.

Pada 1904, pemerintah kolonial sedang berusaha memahami ruang itu.

Pada 1905 dan 1906, orang-orang Bali tiba di Parigi dan mulai membangun kehidupan baru.

Pada 1910, rumah, sawah dan kebun mereka telah berdiri.

Pada 1913, statistik memperlihatkan semakin kuatnya hubungan antara produksi dan administrasi fiskal.

Pada 1914, Paloebaai telah menjadi salah satu tempat kegiatan Leger des Heils, sementara jaringan pelayaran dan administrasi Celebes telah berkembang jauh lebih luas.

Dalam sepuluh tahun itu, perubahan tidak datang dalam satu ledakan. Ia datang perlahan. Melalui sebuah rumah yang dibangun. Melalui sawah yang mulai ditanami. Melalui kapal yang berlabuh. Melalui jalan yang dibuka. Melalui pajak yang dipungut. Melalui seorang pejabat yang ditempatkan lebih jauh ke pedalaman. Melalui seorang pendatang yang membawa adat dari pulau lain. Melalui sebuah organisasi agama yang mendirikan pos di tepi teluk. Melalui angka-angka yang perlahan memenuhi tabel pemerintah. Dan akhirnya, melalui sebuah peta yang semakin penuh dengan nama.

Itulah mungkin cara terbaik membaca De Buitenbezittingen 1904 tot 1914 dari Sulawesi Tengah.

Bukan sebagai cerita tentang bagaimana kolonialisme “menciptakan” Palu, Donggala atau Parigi. Ketiganya telah hidup jauh sebelum arsip kolonial menuliskannya. Lebih tepat jika buku itu dibaca sebagai rekaman tentang bagaimana sebuah kekuasaan yang datang dari luar berusaha mengukur, menghubungkan, mengatur dan mengintegrasikan sebuah dunia yang sudah lebih dahulu ada.

Dan di antara halaman-halaman yang penuh statistik itu terdapat kisah-kisah manusia yang jauh lebih panjang daripada umur sebuah pemerintahan.

Ada masyarakat lokal yang mempertahankan kehidupannya. Ada petani yang membuka sawah. Ada pemelihara ternak di Donggala. Ada pedagang yang mengandalkan laut. Ada para pendatang Bali di Parigi yang membangun rumah di tanah baru. Ada Goesti Madé Djilantik yang menjadi pemimpin komunitasnya. Ada jaringan keagamaan yang tiba di Paloebaai.

Dan ada Palu, yang dalam arsip itu mungkin hanya muncul sebagai serpihan, tetapi sesungguhnya berdiri di tengah sebuah ruang geografis yang sedang berubah.

Tahun 1914 menutup cerita buku tersebut. Tetapi sejarah Sulawesi Tengah baru saja memasuki babak berikutnya.

Sebab sesudah dekade itu akan datang perubahan-perubahan yang lebih besar: perang dunia, transformasi ekonomi, perubahan pemerintahan, nasionalisme, pendudukan Jepang, revolusi dan akhirnya Indonesia.

Namun semuanya memiliki satu latar belakang yang penting.

Sebuah dekade ketika Celebes mulai semakin rapat terhubung dengan dunia modern kolonial.

Dan jika kita ingin memahami Palu, Donggala dan Parigi hari ini, mungkin kita perlu kembali sejenak ke sana—ke tepian Teluk Palu pada awal abad ke-20, ketika jalan masih panjang, kapal masih menjadi penghubung utama, sawah menjadi ukuran kemakmuran, dan sebuah komunitas baru sedang menanam akar di Parigi.

Di sana, sebelum Midden Celebes menjadi Sulawesi Tengah, sebuah sejarah sedang berlangsung. Tidak selalu keras. Tidak selalu dramatis. Tetapi perlahan-lahan, mengubah arah zaman.

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam