Selasa, 22 September 2026

Ternyata Begini Ilmu Doti di Mata Seorang Misionaris Belanda di Banggai pada awal Abad ke-20

Buku De Zwarte Kunst in den Banggai-Archipel en in Balantak. Artikel itu diterbitkan pada 1932 dalam Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel LXXII, Aflevering 4, halaman 727–741.
Buku De Zwarte Kunst in den Banggai-Archipel en in Balantak. Artikel itu diterbitkan pada 1932 dalam Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel LXXII, Aflevering 4, halaman 727–741.

Membaca catatan Albert Christian Kruyt tentang ilmu hitam, penyakit, dan kehidupan sosial masyarakat Banggai dan Balantak

PALUEKSPRES.COM – Di Kepulauan Banggai dan wilayah Balantak, di bagian timur Sulawesi, sakit pada awal abad ke-20 tidak selalu dipahami sebagai persoalan tubuh semata. Ketika seseorang tiba-tiba jatuh sakit, pertanyaan yang muncul tidak berhenti pada apa penyakitnya, tetapi dapat bergerak kepada siapa yang mungkin menjadi penyebabnya. Sebuah pertengkaran dengan tetangga, rasa iri, ucapan yang dianggap menyakitkan, bahkan mimpi bertemu seseorang dapat memperoleh arti baru ketika setelahnya seseorang jatuh sakit. Dalam dunia kepercayaan yang dicatat oleh misionaris dan etnografer Belanda Alb. C. Kruyt, penyakit dapat mempunyai asal yang tidak terlihat. Orang Banggai dan Balantak mengenalnya antara lain melalui istilah doti, kekuatan yang dipercaya dapat menyebabkan sakit, kesialan, bahkan kematian.

Kruyt merekam kepercayaan tersebut dalam tulisannya De Zwarte Kunst in den Banggai-Archipel en in Balantak. Artikel itu diterbitkan pada 1932 dalam Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel LXXII, Aflevering 4, halaman 727–741. Hampir satu abad kemudian, tulisan itu tetap menarik bukan semata karena kisah tentang apa yang oleh Kruyt disebut sebagai “ilmu hitam”, melainkan karena ia membuka jendela ke dalam kehidupan sosial masyarakat yang diamatinya. Melalui cerita tentang doti, pembaca dapat melihat bagaimana penyakit dijelaskan, bagaimana kematian dicurigai, bagaimana keluarga berusaha melindungi rumah, dan bagaimana konflik antarmanusia pada akhirnya dapat berubah menjadi tuduhan. Di balik dunia gaib yang digambarkan Kruyt, terdapat dunia sosial yang sangat nyata.

Ketika sakit membutuhkan sebuah sebab

Dalam catatan Kruyt, penyakit dan kematian tidak berdiri sendiri sebagai peristiwa biologis. Ketika seseorang sakit, orang-orang di sekitarnya dapat mencari hubungan dengan peristiwa yang terjadi sebelumnya. Jika seseorang baru saja bertengkar dengan orang lain lalu jatuh sakit, lawan bertengkarnya dapat dicurigai sebagai pengirim doti. Demikian pula mimpi dapat menjadi bagian dari rangkaian kecurigaan: seseorang bermimpi bertemu orang tertentu, kemudian pada hari berikutnya jatuh sakit, dan orang yang muncul dalam mimpi itu dapat masuk ke dalam dugaan sebagai pelaku. Kruyt juga mencatat kuatnya keyakinan terhadap doti di Banggai dan Balantak, sampai-sampai orang enggan membicarakan cara penggunaannya karena pengetahuan mengenai hal itu sendiri dapat menimbulkan kecurigaan.

Dalam kerangka seperti itu, doti berfungsi bukan hanya sebagai penjelasan mengenai kekuatan gaib, tetapi juga sebagai cara masyarakat memahami kemalangan. Ketika penyebab sakit tidak dapat dilihat, manusia mencari hubungan antara peristiwa-peristiwa yang berada di sekitarnya. Konflik, iri hati, mimpi dan sakit dapat dirangkai menjadi sebuah cerita sebab-akibat. Sesuatu yang dari sudut pandang modern mungkin disebut kebetulan, dalam lingkungan kepercayaan tersebut dapat memperoleh makna yang jauh lebih besar. Karena itu, ketika seseorang jatuh sakit, yang dicari bukan hanya cara menyembuhkannya, tetapi juga jawaban atas pertanyaan mengenai siapa atau apa yang membuatnya sakit.

Rambut, kuku dan tanah dari sebuah jejak

Salah satu bagian paling menarik dari catatan Kruyt adalah keyakinan bahwa hubungan seseorang dengan tubuhnya tidak sepenuhnya berakhir pada batas kulit. Benda-benda yang pernah bersentuhan dengan tubuh atau aktivitas seseorang dapat dianggap masih membawa hubungan dengan orang tersebut. Kruyt mencatat sisa tembakau, potongan buah yang telah digigit, kuku, rambut, hingga tanah dari bekas telapak kaki sebagai benda-benda yang dapat digunakan dalam praktik doti. Bagi pembaca masa kini, benda-benda itu mungkin tampak biasa saja. Namun dalam kerangka kepercayaan yang dicatat Kruyt, benda-benda tersebut bukan lagi sekadar benda mati, melainkan jejak material seseorang yang dapat dijadikan perantara untuk mendatangkan penyakit atau kemalangan.

Gagasan semacam itu memperlihatkan sebuah cara pandang terhadap tubuh yang berbeda dari pemahaman modern. Tubuh tidak sepenuhnya berhenti pada kulit; sebagian dari hubungan seseorang dengan dunia dapat terus melekat pada rambut, kuku, bekas gigitan atau bahkan jejak kaki. Karena itu, sesuatu yang tampak tidak bernilai bagi orang lain dapat memperoleh kekuatan simbolik yang besar. Sebuah potongan kuku dapat menjadi bagian dari kisah tentang seseorang. Sehelai rambut dapat dianggap masih mempunyai hubungan dengan pemiliknya. Bahkan tanah yang pernah diinjak seseorang dapat memperoleh arti karena ia menjadi bagian dari jejak kehadiran orang tersebut.

Doti, racun yang tidak terlihat

Kruyt menggambarkan doti sebagai sesuatu yang dapat bekerja seperti racun ketika masuk ke tubuh manusia. Namun berbeda dari racun yang dapat ditemukan, disentuh atau dianalisis, doti dipercaya bekerja tanpa harus meninggalkan tanda yang mudah dilihat. Bentuk dan bahan yang digunakan pun tidak mempunyai satu formula yang seragam; orang yang dipercaya mengetahui rahasianya dapat mempunyai cara masing-masing. Justru sifatnya yang tidak terlihat membuat doti menjadi penjelasan yang kuat bagi penyakit yang penyebabnya tidak diketahui. Ketika tubuh sakit tetapi tidak ada sesuatu yang kasatmata untuk ditunjuk, kemungkinan adanya kekuatan yang dikirim dari luar tubuh dapat mengisi ruang ketidakpastian itu.

Dalam dunia seperti yang digambarkan Kruyt, tanda-tanda ancaman bahkan dapat muncul dari kejadian sehari-hari. Lalat yang tiba-tiba hinggap, cicak yang jatuh, suara tertentu atau kejadian kecil di dalam rumah dapat memperoleh arti jika kemudian diikuti oleh sakit atau kemalangan. Peristiwa yang semula tampak biasa dapat dibaca kembali sebagai pertanda. Di sinilah doti tidak hanya bekerja sebagai gagasan tentang penyakit, tetapi juga membentuk cara seseorang membaca lingkungan sekitarnya. Dunia sehari-hari menjadi penuh dengan tanda yang harus diperhatikan, ditafsirkan dan, jika perlu, dihindari.

Rumah yang mempunyai penjaganya sendiri

Namun kehidupan yang dikelilingi ancaman doti bukan hanya tentang ketakutan. Dalam catatan Kruyt terdapat pula berbagai bentuk perlindungan. Ia mencatat konsep pilogot, yang berkaitan dengan kekuatan keluarga dan kehidupan rumah tangga, termasuk unsur-unsur yang berhubungan dengan kehidupan fisik keluarga, plasenta, air ketuban dan darah menstruasi. Salah satu kekuatan tersebut disebut Balani, yang dipercaya mempunyai kemampuan menghadang doti sebelum mencapai penghuni rumah. Perlindungan itu bahkan memiliki bentuk yang dapat dilihat secara fisik.

Di dekat kaki tangga rumah, misalnya, dua batang kayu dapat ditempatkan sedemikian rupa sehingga menyerupai sebuah gerbang. Kruyt mencatat bahwa Dracaena terminalis dianggap sesuai karena dapat tumbuh dan berakar. Dalam gambaran seperti itu, tangga rumah bukan hanya jalan untuk naik dan turun. Ia menjadi batas antara dunia luar dan ruang keluarga, antara sesuatu yang datang dari luar dengan orang-orang yang berada di dalam rumah. Perlindungan tidak selalu berupa dinding atau pintu yang dapat dikunci. Ia juga dapat hadir dalam bentuk simbolik, melalui benda dan ritual yang dipercaya mampu menghentikan sesuatu yang tidak terlihat sebelum memasuki ruang kehidupan keluarga.

Ketika anjing menjadi bagian dari ritual

Hewan juga menempati tempat penting dalam sejumlah ritual yang dicatat Kruyt. Anjing muncul dalam beberapa praktik yang berkaitan dengan perlindungan dan penanganan doti. Dalam beberapa keadaan, anjing dipersembahkan kepada Balani agar kekuatan tersebut tetap mampu menghalangi doti. Dalam praktik lain, hewan itu dapat menjadi bagian dari usaha mengembalikan kekuatan yang dipercaya telah dikirim kepada seseorang kepada orang yang dianggap sebagai pengirimnya. Dengan demikian, anjing tidak sekadar hadir sebagai korban persembahan, tetapi menjadi bagian dari hubungan simbolik antara manusia, penyakit dan dunia yang tidak terlihat.

Kehadiran hewan dalam ritual semacam itu juga menunjukkan bahwa batas antara dunia manusia dan dunia nonmanusia tidak selalu dipisahkan secara tegas. Hewan dapat menjadi perantara ketika manusia berhadapan dengan sesuatu yang tidak dapat dilihat atau dijelaskan secara langsung. Dalam kerangka kepercayaan tersebut, penyelesaian sebuah penyakit tidak hanya menyangkut tubuh orang yang sakit, tetapi juga melibatkan benda, tempat, hewan, kata-kata dan ritual yang dipercaya dapat memulihkan keseimbangan.

Ketika orang yang meninggal ikut memberikan jawaban

Bagian yang paling menggetarkan dari tulisan Kruyt mungkin justru muncul ketika penyakit berubah menjadi persoalan kematian. Ketika seseorang meninggal, pertanyaan mengenai penyebab kematian tidak selalu berhenti pada kondisi tubuh. Kruyt mencatat praktik ramalan atau wichelen untuk mencari tahu apakah seseorang terkena doti dan siapa yang diduga mengirimkannya. Salah satu cara dilakukan dengan rentangan tangan dan gerakan tertentu untuk menentukan jawaban. Dalam beberapa kasus, bahkan orang yang sudah meninggal dapat menjadi bagian dari proses pencarian jawaban.

Kruyt mencatat bahwa jenazah atau peti yang membawa jenazah dapat “ditanyai”. Gerakan peti atau usungan ketika pertanyaan tertentu diajukan dapat ditafsirkan sebagai jawaban. Jika gerakan tersebut dipahami sebagai tanda bahwa kematian disebabkan oleh doti, pertanyaan berikutnya adalah siapa yang mengirimkannya. Pada titik inilah kepercayaan terhadap kekuatan gaib mulai mempunyai konsekuensi sosial yang sangat nyata. Sebab setelah sebuah nama disebut, seseorang tidak lagi hanya berada di dalam dunia dugaan. Ia dapat berubah menjadi tersangka.

Dari tuduhan menjadi hukuman

Kruyt mencatat bahwa orang yang dipercaya sebagai pelaku doti dapat dikenai denda. Di Banggai, bentuk denda dapat berupa babi atau barang tertentu, sedangkan di Balantak orang yang disebut mian padoti, atau orang yang menggunakan doti, juga dapat dikenai denda. Namun hukuman tidak selalu berhenti pada pembayaran. Kruyt menyebut adanya godsoordeel, semacam pengujian untuk menentukan kebenaran tuduhan, meskipun ia mencatat bahwa cara tersebut tampaknya jarang dilakukan. Dalam keadaan tertentu, persoalan bahkan dapat berujung pada pembunuhan.

Yang lebih mengerikan, menurut catatan Kruyt, pembunuhan tersebut dalam beberapa keadaan dapat dilakukan oleh orang yang disewa secara khusus. Mereka disebut talenga. Seseorang yang kehilangan anggota keluarganya dan percaya bahwa kematian itu disebabkan oleh doti tidak selalu melakukan pembunuhan sendiri; orang lain dapat diminta atau disewa untuk melaksanakannya. Dengan demikian, doti tidak lagi hanya merupakan keyakinan mengenai penyakit atau ilmu gaib. Ia telah masuk ke wilayah konflik sosial, hukuman, balas dendam, dan kekerasan.

Hidup dalam bayang-bayang kecurigaan

Ada bagian dalam catatan Kruyt yang terasa sangat penting jika dibaca sebagai sejarah sosial. Ia menggambarkan kehidupan masyarakat yang diwarnai kewaspadaan karena rencana untuk membunuh orang yang dituduh sebagai gifmenger atau pembuat racun dilakukan secara rahasia. Ketika rencana semacam itu tidak diketahui secara terbuka, seseorang tidak pernah benar-benar dapat memastikan apakah dirinya sendiri suatu hari akan menjadi sasaran. Kecurigaan dengan demikian tidak berhenti pada satu orang yang sakit atau satu orang yang dituduh, tetapi dapat menyebar menjadi suasana sosial yang lebih luas.

Siapa yang menyimpan dendam? Siapa yang merasa iri? Siapa yang merasa dirugikan? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu menjadi penting ketika sakit dan kematian dapat dikaitkan dengan tindakan manusia lain. Sebuah perselisihan yang bagi orang luar mungkin tampak kecil dapat memperoleh arti baru ketika salah satu pihak kemudian jatuh sakit. Dalam keadaan demikian, doti menjadi bagian dari cara masyarakat membaca hubungan sosialnya sendiri. Ia memberi nama pada sesuatu yang tidak terlihat, tetapi sekaligus dapat mengubah hubungan antara orang yang satu dengan orang lainnya.

Membaca Kruyt dari jarak sejarah

Namun catatan Kruyt tidak boleh dibaca tanpa jarak. Ia adalah misionaris dan etnografer Belanda yang menulis dalam lingkungan kolonial pada awal abad ke-20. Bahasa yang digunakannya mencerminkan kategori intelektual zamannya. Dalam pembukaan artikelnya, Kruyt menggunakan istilah seperti natuurvolk dan menghubungkan kuatnya kepercayaan terhadap sihir dengan tingkat “perkembangan spiritual” yang ia anggap tertentu. Pandangan seperti itu tidak dapat begitu saja digunakan untuk menggambarkan masyarakat Banggai dan Balantak secara objektif. Karena itu, De Zwarte Kunst lebih tepat dibaca sebagai dokumen etnografi kolonial: catatan seorang pengamat Eropa yang berusaha memahami masyarakat lokal, tetapi sekaligus membawa kategori dan asumsi zamannya.

Justru karena itulah tulisan tersebut penting. Kita dapat membacanya dalam dua lapisan sekaligus: sebagai sumber mengenai apa yang dicatat Kruyt tentang kehidupan masyarakat Banggai dan Balantak, dan sebagai bukti tentang bagaimana seorang penulis kolonial memandang masyarakat yang sedang ia pelajari. Perbedaan antara apa yang didengar Kruyt, apa yang diamatinya sendiri dan apa yang kemudian ia simpulkan perlu tetap diperhatikan. Dengan cara demikian, arsip kolonial tidak diperlakukan sebagai kebenaran tunggal, tetapi sebagai salah satu fragmen yang dapat digunakan untuk menyusun kembali sejarah masyarakat Sulawesi bagian timur.

Sejarah yang bersembunyi di benda-benda kecil

Jika dibaca dari perspektif masa kini, De Zwarte Kunst membuka pertanyaan yang jauh lebih luas daripada sekadar apakah doti benar-benar ada. Bagaimana masyarakat menjelaskan penyakit ketika pengetahuan medis modern belum menjangkau seluruh wilayah? Bagaimana kecemburuan dan konflik antarkeluarga dikelola? Bagaimana seseorang memperoleh reputasi sebagai pembawa malapetaka? Bagaimana masyarakat menentukan siapa yang harus bertanggung jawab ketika seseorang meninggal secara tiba-tiba? Dan bagaimana rasa takut terhadap sesuatu yang tidak terlihat memengaruhi kehidupan sehari-hari?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut tersebar di sepanjang catatan Kruyt. Ia tidak hanya berbicara mengenai kekuatan gaib, tetapi juga tentang rumah, keluarga, tetangga, hewan, ritual, penyakit, kematian dan hukuman. Istilah-istilah seperti doti, Balani, pilogot, talapoe, bolian, mian padoti dan talenga menunjukkan bahwa masyarakat yang dicatat Kruyt memiliki kosakata sendiri untuk menjelaskan kekuatan, perlindungan, pengobatan, tuduhan dan pelaksanaan hukuman. Dari sana kita dapat melihat bahwa sejarah sosial tidak selalu tersimpan dalam dokumen politik yang besar. Kadang ia justru muncul dari cerita tentang orang sakit, benda kecil yang ditinggalkan tubuh, ritual di depan rumah, atau seseorang yang tiba-tiba dituduh sebagai penyebab kematian.

Hampir satu abad telah berlalu sejak Kruyt menulis tentang Banggai dan Balantak. Dunia yang ia amati tentu telah berubah. Namun arsip seperti De Zwarte Kunst membuat sebagian kecil dari dunia tersebut tetap dapat dilihat. Bukan sebagai dunia yang harus kita terima begitu saja, melainkan sebagai dunia yang perlu dipahami dalam konteksnya. Sehelai rambut, potongan kuku, tanah dari sebuah jejak kaki, sebatang kayu di kaki tangga, seekor anjing dalam sebuah ritual, atau sebuah nama yang disebut setelah seseorang meninggal mungkin tampak seperti detail kecil. Tetapi justru melalui detail-detail itulah kita dapat melihat bagaimana manusia pada suatu masa berusaha memahami penyakit, kematian, ketakutan dan hubungan dengan sesamanya.

Pada akhirnya, nilai terbesar tulisan Kruyt bukan terletak pada pertanyaan apakah doti benar-benar dapat membuat seseorang sakit. Pertanyaan sejarahnya jauh lebih menarik: mengapa orang mempercayainya, bagaimana kepercayaan itu bekerja dalam kehidupan sosial, siapa yang berhak menentukan apakah sebuah tuduhan benar, dan apa akibatnya bagi orang yang dituduh. Dari sana, De Zwarte Kunst berubah dari catatan tentang “ilmu hitam” menjadi sebuah dokumen tentang manusia—tentang cara manusia menghadapi sesuatu yang tidak dapat dilihat, memberi makna kepada penderitaan, mencari penyebab kematian, dan menjaga kehidupan bersama di tengah ketidakpastian.

Sumber Utama: Kruyt, Alb. C. 1932. “De Zwarte Kunst in den Banggai-Archipel en in Balantak.” Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel LXXII, Aflevering 4, hlm. 727–741.

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam