JAKARTA, PALUEKSPRES.COM — PT PLN Indonesia Power menyiapkan investasi sekitar Rp3,3 triliun untuk mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang terintegrasi dengan Battery Energy Storage System (BESS) di 10 lokasi terisolasi di Sulawesi Tengah.
Proyek yang dikembangkan bersama PT ACE Energy Service (ACEES) tersebut memiliki potensi kapasitas PLTS hingga 60 megawatt peak (MWp) dan BESS sebesar 200 megawatt hour (MWh).
Direktur Pengembangan Bisnis dan Niaga PLN Indonesia Power Julita Indah mengatakan integrasi PLTS dan BESS akan meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit berbahan bakar diesel.
“Dengan sistem penyimpanan energi, pasokan listrik dari PLTS dapat dikelola lebih optimal sehingga keandalan sistem tetap terjaga sekaligus memberikan potensi efisiensi biaya penyediaan listrik,” ujar Julita dalam keterangannya, Kamis (24/9).
Menurut dia, pengembangan proyek tersebut merupakan bagian dari tiga kolaborasi strategis PLN Indonesia Power Group dalam ajang Electricity Connect 2026.
“Pengembangan proyek ini merupakan bagian dari tiga kolaborasi strategis PLN Indonesia Power Group dalam ajang Electricity Connect 2026,” jelasnya.
Proyek PLTS-BESS tersebut diarahkan untuk mengurangi ketergantungan pembangkit listrik berbahan bakar diesel di wilayah yang masih terisolasi.
Julita mengatakan proyek itu berpotensi menurunkan Biaya Pokok Penyediaan (BPP) listrik hingga sekitar Rp1.000 per kilowatt hour (kWh).
“Besaran efisiensi tersebut akan bergantung pada karakteristik sistem kelistrikan di masing-masing lokasi,” jelasnya.
Dari sisi pendanaan, investasi senilai Rp3,3 triliun tersebut direncanakan memperoleh dukungan pembiayaan dari konsorsium perbankan Korea dan Indonesia.
PLN Indonesia Power juga menyebut pengembangan proyek akan mendorong penggunaan produk dalam negeri, antara lain melalui pemanfaatan panel surya produksi PT Trina Mas Agra Indonesia.
Selain mengembangkan energi surya, PLN Indonesia Power Group memperkuat bisnis Maintenance, Repair and Overhaul (MRO) melalui dua kerja sama.
Direktur Utama PLN Indonesia Power Bernadus Sudarmanta mengatakan penguatan bisnis MRO tidak hanya ditujukan untuk menjaga keandalan aset pembangkitan, tetapi juga meningkatkan kemampuan industri dalam negeri.
“Kami ingin transisi energi memberikan nilai tambah yang lebih luas. Bukan hanya menghadirkan energi yang lebih bersih, tetapi juga menciptakan efisiensi, memperkuat industri dalam negeri, meningkatkan TKDN, dan membangun kapabilitas Indonesia agar semakin kompetitif di tingkat regional,” kata Bernadus.
Pengembangan pusat MRO tersebut mencakup pekerjaan pemeliharaan dan perbaikan di lingkungan PLN, pengembangan produk kelistrikan, peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN), alih teknologi, serta pengembangan kompetensi sumber daya manusia.
PLN Indonesia Power menargetkan pengembangan kapabilitas MRO tidak hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga membuka peluang layanan pemeliharaan, perbaikan, overhaul, dan life extension turbin serta rotating equipment ke pasar Asia Pasifik.
Anak usaha PLN Indonesia Power, PLN Indonesia Power Services (PLN IP Services), juga menggandeng PT ABB Sakti Industri untuk memperkuat layanan pemeliharaan dan pengadaan generator, motor, serta Variable Speed Drive (VSD)/inverter.






