MAKASSAR, PALUEKSPRES.COM – Indonesia dinilai cenderung stagnan sebagai negara berkembang. Salah satu penyebabnya disebut karena masih maraknya kasus korupsi.
Dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ) sekaligus pengamat publik Ubedillah Badrun mencontohkan Korea Selatan yang mengalami perkembangan pesat dalam sekitar 25 tahun. Padahal, kata dia, Korea Selatan pernah berada dalam kondisi nyaris bangkrut dan menghadapi persoalan korupsi dalam pemerintahan.
Hal itu disampaikannya dalam diskusi publik bertema “Konstitusi Dikorupsi, Patronase Oligarki, dan Bahaya Senjata Hukum Beracun RUU Perampasan Aset” yang digelar di Hotel Mercure Makassar, Jumat (26/9/2026).
Ubedillah pun mengingatkan Indonesia jangan sampai justru mengalami kemunduran akibat persoalan korupsi yang terus berulang.
Meski demikian, dia menilai perubahan tetap bisa dilakukan secara bersama-sama. Terlebih, Indonesia memiliki populasi anak muda yang besar.
Ubedillah menyebut Gen Z sekitar 27 persen dan milenial sekitar 25 persen dari total penduduk Indonesia yang kini mencapai lebih dari 300 juta jiwa. Artinya, sekitar 52 persen merupakan kelompok muda.
“Kalau menggunakan logika energi sosial, maka saat ini adalah momentum yang sangat dahsyat untuk terjadinya ledakan pemuda. Ada 52 persen kaum muda,” kata Ubedillah dalam diskusi publik di Makassar, Jumat (26/9/2026).
“Pertanyaannya kenapa anak muda nggak meledak?” tandasnya.
Dalam diskusi tersebut, Ubedillah juga mengkritik kondisi anak muda selama era pemerintahan Joko Widodo. Menurut dia, selama 10 tahun pemerintahan Jokowi terbentuk citra bahwa representasi anak muda adalah seperti sosok Gibran Rakabuming Raka.
Ubedillah berpandangan representasi anak muda semestinya tidak berhenti pada usia atau regenerasi kekuasaan, tetapi memiliki kekokohan jiwa dan orientasi terhadap cita-cita ideal bernegara.
Dia juga mengkritik sejumlah kebijakan pendidikan dan program pemerintah, termasuk revolusi mental dan Kurikulum Merdeka, yang menurutnya tidak cukup membentuk karakter anak muda seperti yang diharapkan.
Sementara itu, wartawan senior Hazairin Sitepu menyebut perubahan memang harus dimulai dari anak muda. Sejarah Indonesia, menurut dia, menunjukkan bahwa berbagai gerakan perubahan banyak dimotori generasi muda.
“Lantas, mampukah 52 persen generasi muda menjadi energi perubahan Indonesia?” Demikian Ubedillah Badrun mengunci pandangannya.






