Palu, PaluEkspres.com – Persoalan sampah plastik dan sampah organik di kawasan permukiman perkotaan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Menjawab tantangan tersebut, tim dosen Fakultas Peternakan dan Perikanan (FAPETKAN) Universitas Tadulako (Untad) melaksanakan program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dengan mengedukasi dan mendorong penerapan konsep Zero Waste berbasis 5R (Refuse, Reduce, Reuse, Recycle, dan Rot) di Kelurahan Tondo, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu.
Tim pelaksana dipimpin Dr. Musayyadah Tis’in, S.Kel., M.Si. dengan beranggotaakan Dr. Ir. Samliok Ndobe, M.Si., IPM., ASEAN Eng.; Dr. Ir. Eka Rosyida, M.Sc.; Nur Hasanah, S.Pi., M.Si.; dan Femi Riza, S.Pi., M.Si. Kegiatan ini merupakan kolaborasi lintas disiplin ilmu yang melibatkan tiga program studi di FAPETKAN Untad, yaitu Ilmu Kelautan, Akuakultur, dan Sumberdaya Akuatik.
Kegiatan yang mengusung tema *“Edukasi dan Implementasi Konsep Zero Waste Berbasis 5R melalui Pemberdayaan Masyarakat dan Penguatan Kelembagaan Lokal”* ini dilaksanakan pada Sabtu,26 September 2026. Program tersebut didanai oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Tadulako melalui skema Produk Unggulan Daerah.
Kegiatan ini melibatkan 55 peserta yang terdiri atas perwakilan komunitas nelayan, pelaku UMKM, Karang Taruna, PKK, serta masyarakat setempat. Pelaksanaannya menjadi ruang kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam membangun kesadaran serta praktik pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga.
DLH Kota Palu: Pengelolaan Sampah Membutuhkan Partisipasi Masyarakat

Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palu, Ibnu Mundzir, SP., M.Eng., yang membuka kegiatan secara resmi, menyampaikan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam mengatasi persoalan sampah perkotaan.
Menurutnya, pengelolaan sampah tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah, tetapi harus dimulai dari kesadaran setiap individu untuk mengurangi, memilah, dan mengelola sampah sejak dari sumbernya.
“Persoalan sampah merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan dan partisipasi aktif masyarakat. Karena itu, edukasi mengenai pemilahan sampah dan penerapan prinsip 5R perlu terus diperkuat, sehingga masyarakat tidak hanya membuang sampah, tetapi juga memiliki kesadaran untuk mengurangi dan mengolah sampah yang dihasilkan,” demikian usulan pernyataan Sekretaris DLH Kota Palu.
ia juga mendorong agar kegiatan edukasi seperti ini tidak berhenti pada sosialisasi, tetapi dilanjutkan melalui praktik nyata dan penguatan kelembagaan pengelolaan sampah di tingkat masyarakat.
Lurah Tondo: Mahasiswa, Nelayan, dan Pelaku UMKM Harus Menjadi Bagian dari Solusi

Lurah Tondo, Mursidin Siraj, menyambut positif pelaksanaan program pengabdian tersebut. Menurutnya, Kelurahan Tondo memiliki karakteristik kawasan yang cukup kompleks, mulai dari permukiman masyarakat, kos-kosan mahasiswa perantau, hingga aktivitas usaha kuliner dan komunitas nelayan.Kondisi tersebut membutuhkan pendekatan pengelolaan sampah yang melibatkan berbagai kelompok masyarakat agar kesadaran menjaga kebersihan lingkungan dapat tumbuh secara kolektif.
“Kelurahan Tondo memiliki dinamika masyarakat yang beragam. Oleh karena itu, kami sangat mengapresiasi keterlibatan Universitas Tadulako melalui kegiatan pengabdian ini. Kami berharap edukasi 5R dapat diterapkan secara nyata oleh masyarakat, termasuk mahasiswa yang tinggal di kawasan Tondo, pelaku UMKM, dan komunitas nelayan,” demikian usulan pernyataan Lurah Tondo.
Ia juga menegaskan komitmen pemerintah kelurahan untuk mendukung penguatan Bank Sampah RT 3/RW 3 serta mendorong keterlibatan Karang Taruna, PKK, dan kelompok masyarakat lainnya dalam membangun lingkungan yang bersih dan berkelanjutan.
Ketua Tim Pengabdian: Mengubah Sampah Menjadi Sumber Daya yang Bernilai

Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat, Dr. Musayyadah Tis’in, S.Kel., M.Si., menjelaskan bahwa program ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan pengetahuan masyarakat, tetapi juga mendorong perubahan perilaku dan membangun sistem pengelolaan sampah berbasis komunitas.
Menurutnya, persoalan sampah di kawasan pesisir tidak dapat dipandang hanya sebagai persoalan kebersihan lingkungan. Sampah plastik yang tidak terkelola berpotensi terbawa ke perairan dan laut, terurai menjadi mikroplastik, serta memberikan ancaman terhadap ekosistem dan kesehatan manusia.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin membangun pemahaman bahwa sampah bukan sekadar sesuatu yang harus dibuang, tetapi perlu dikelola sejak dari sumbernya. Prinsip 5R memberikan langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos dan eco-enzyme, sedangkan plastik yang sulit didaur ulang dapat dimanfaatkan melalui pembuatan ecobrick,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa keberhasilan program tidak hanya diukur dari terlaksananya sosialisasi, tetapi dari keberlanjutan praktik pengelolaan sampah dan penguatan kelembagaan masyarakat.
“Kami berharap kegiatan ini menjadi langkah awal terbentuknya gerakan pengelolaan sampah yang berkelanjutan di Kelurahan Tondo. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah kelurahan, DLH, dan masyarakat perlu terus diperkuat agar praktik pemilahan sampah, pembuatan kompos, eco-enzyme, dan ecobrick dapat menjadi kebiasaan serta memberikan manfaat nyata bagi lingkungan dan masyarakat,” tambahnya.
Perkuat Bank Sampah dan Praktik Pengelolaan Sampah Berbasis Komunitas

Dalam pelaksanaannya, peserta mendapatkan edukasi mengenai dampak sampah plastik dan organik terhadap lingkungan perairan, kesehatan manusia, serta perubahan iklim. Materi disampaikan melalui presentasi, diskusi, dan tanya jawab yang melibatkan peserta secara aktif.
Masyarakat juga diperkenalkan dengan praktik pemilahan sampah organik, anorganik, dan residu. Beberapa bentuk pemanfaatan sampah turut diperkenalkan, seperti pembuatan ecobrick dari plastik bernilai rendah, pengolahan sisa buah dan sayuran menjadi eco-enzyme, serta pemanfaatan sisa makanan menjadi kompos.
Menariknya, prinsip 5R juga diterapkan langsung selama kegiatan berlangsung. Panitia menggunakan gelas dan piring guna ulang, menyajikan makanan secara prasmanan, serta mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai. Plastik yang masih digunakan dikumpulkan untuk dimanfaatkan sebagai bahan ecobrick.
Pada aspek kelembagaan, tim pengabdi turut memberikan perhatian terhadap penguatan Bank Sampah RT 3/RW 3 Kelurahan Tondo. Pendampingan diarahkan pada peningkatan pengolahan sampah organik dan pembiasaan pembuatan ecobrick secara rutin, sekaligus mendorong koordinasi antara Karang Taruna, PKK, komunitas nelayan, dan pelaku UMKM.
Melalui program ini, pemahaman masyarakat mengenai dampak sampah, mikroplastik, dan pengelolaan sampah organik mulai meningkat. Selain itu, inisiatif pengelolaan sampah berbasis komunitas juga mulai dirintis sebagai bagian dari upaya membangun lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Kolaborasi Berkelanjutan untuk Lingkungan Pesisir

Tim pengabdi berharap program ini tidak berhenti pada kegiatan edukasi, tetapi dilanjutkan dengan pendampingan berkala, penguatan kelembagaan bank sampah, serta pembentukan kesepakatan komunitas mengenai pemilahan sampah dan pengurangan plastik sekali pakai.
Keterlibatan mahasiswa perantau juga menjadi perhatian penting, mengingat Kelurahan Tondo merupakan salah satu kawasan dengan aktivitas permukiman mahasiswa yang cukup tinggi. Sinergi antara kampus dan pemerintah kelurahan diharapkan mampu membangun budaya peduli lingkungan di kalangan mahasiswa dan masyarakat.
Program ini sekaligus berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-13 tentang penanganan perubahan iklim, melalui upaya pengurangan sampah dan emisi gas rumah kaca dari timbunan sampah organik.
Melalui kolaborasi Universitas Tadulako, DLH Kota Palu, Pemerintah Kelurahan Tondo, dan masyarakat, penerapan konsep Zero Waste berbasis 5R diharapkan menjadi gerakan bersama dalam mewujudkan lingkungan permukiman dan pesisir yang bersih, sehat, produktif, dan berkelanjutan. (bid/paluekspres)





