Sabtu, 8 Agustus 2026

Pergeseran Pelanggan PLN Pengaruhi Inflasi Sulteng

PALU EKSPRES, PALU – Kebijakan pemerintah pusat menaikkan tarif dasar listrik (TDL) turut menyumbang laju tekanan inflasi di Sulteng. Kenaikan tarif listrik memengaruhi kelompok inflasi (core) yang persentasenya berasal dari komoditas sewa rumah dan kontrak rumah.

Tekanan inflasi Sulteng (cq Kota Palu) per Mei 2017 tercatat masing-masing 0,81 persen (mtm), 3,13(ytd) dan 5,10 peresen (yoy).

Kepala Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Sulteng, Miyono menduga kenaikan komoditas sewa dan kontrak rumah berkorelasi positif dengan kenaikan inflasi pada kelompok administersed prices(AP) seiring meningkatnya tarif listrik.

Miyono dalam keterangan persnya menjelaskan, dari total inflasi kumulatif yakni 3,31 persen (ytd), kelompok inflasi (core) menyumbang andil paling besar yakni 1,72 persen (ytd). inflasi core berasal dari komoditas sewa rumah yakni 0,19 persen(ytd) dan kontrak rumah 0,11 persen (ytd).

Berdasarkan hasil high level meeting (HLM) Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Sulteng, jelas Miyono, penyebab meningkatnya tekanan inflasi pada komoditas tarif listrik karena jumlah pelanggan rumah tangga di Sulteng yang semula masuk dalam kelompok pelanggan subsidi bergeser ke kelompok pelanggan non subsidi. Yang mekanisme peralihannya diatur bertahap dan diberlakukan sejak Januari 2017.

Berdasarkan data dari PLN, total pelanggan daya 900VA di Sulteng yang semula berjumlah 112.000, kini tinggal 15.400 orang. Atau hanya 14persen pelanggan yang layak subsidi.

“Jumlah peralihan pelanggan itu merupakan salahsatu yang terbesar di Kawasan Timur Indonesia,” kata Miyono.
Kebijakan pemerintah pusat menaikkan biaya STNK pun demikian. Sejak evektif berlaku pada Januari 2017, kebijakan itu turut memberi tekanan inflasi di Sulteng yakni 0,21persen(ytd).

Sementara itu, inflasi AP menyumbang kenaikan inflasi kumulatif sebesar 0,73 persen (ytd) yang bersumber dari komoditas tarif listrik yakni 1,09 persen (ytd), tarif STNK 0,21 persen (ytd) dan bensin 0,16 persen(ytd).

Laju tekanan inflasi lainnya terang Miyono juga berasal dari kelompok volatile foods(VF). Hingga Mei 2017 menyumbang 0,68persen (ytd) terutama dari komoditas cabe rawit 0,42 persen(ytd) dan tomat buah 0,08 persen (ytd).

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital