Sabtu, 8 Agustus 2026

2.000 Bencana Alam Diprediksi Bakal Terjadi di 2018

PALU EKSPRES, JAKARTA – Dalam catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sepanjang tahun 2017, Indonesia dihantam bencana 2.271 kali. Menelan sedikitnya 372 korban jiwa dengan kerugian mencapai triliunan rupiah. Penyebabnya bukan gejala alam yang tidak bisa diprediksi, namun degradasi ekologis dan minimnya kesiapan masyarakat.

Dalam rilis yang disampaikan BNPB kemarin (21/12), dari 2.721 bencana tersebut, 93 persen didominasi oleh bencana Hidrometerologi. Yakni hujan lebat disertai angin dan petir, banjir, tanah longsor, Bencana lain yang terjadi adalah gempa, gunung meletus, kekeringan, dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Bencana-bencana tersebut menyebabkan 372 orang meninggal dunia, serta membuat 3,45 juta jiwa mengungsi. Merusak 44.539 unit rumah dan 1.999 unit fasilitas umum (fasum). Dengan longsor sebagai bencana yang paling mematikan, korban jiwanya sebanyak 156 orang.

Menurut Kepala Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, secara statistik, intensitas bencana menurun 4,7 persen dibandingkan tahun 2016. Jumlah korban meninggal dan hilang turun ke angka 36 persen, kerusakan bangunan turun 8 persen. Hanya jumlah korban yang mengungsi dan menderita yang naik menjadi 9 persen.

Secara umum, Sutopo menyebut gejala alam dan siklus cuaca selama 2017 dan 2018 juga normal-normal saja. Cuma tercatat siklon cempaka yang mengirimkan hujan lebat ke wilayah selatan Jawa pada akhir November yang terbilang aneh.

Menurut dia, secara teori, siklon tropis hanya terbentuk di atas 10 derajat Lintang Utara (LU) atau di 10 derajat di bawah Lintas Selatan (LS). “Yang kemarin ini aneh, cuma 23 kilomter di selatan Pacitan,” katanya. Jika siklus cuaca normal, mengapa bencana merenggut begitu banyak korban dan menyebabkan kerugian? “Karena masih rendahnya budaya masyarakat yang sadar bencana,” kata Sutopo. Selain itu, infrastruktur penanggulangan bencana masih minim, seperti penelitian, pemetaan dan early warning system.

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital