Senin, 10 Agustus 2026

DKP Sulteng Siap Wujudkan Visi Gubernur 2016-2021

PALU, PE — Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Tengah akan berkontribusi dalam mewujudkanvisi misi Gubernur Sulteng periode 2016-2021 Longki-Sudarto yang baru saja dilantik oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara 16 Juni 2016.

Visi Gubernur terpilih adalah terwujudnya Sulawesi Tengah yang Mandiri, Maju dan Berdaya Saing, sebagai lanjutan visi sebelumnya “Sejajardengan Provinsi Maju di Timur Indonesia dalam pengembangan Agribisnis dan Kelautan”.  Stategi DKP  terkait dengan  itu, adalah mengembangkan komoditas unggulan sektor ini dengan basis kewilayahan atau cluster dan berorientasi kepada industrialisasi.

Mewujudkan rencana ini dibutuhka dukungan sektor lain seperti pengembangan sumberdaya manusia; infrastruktur dasar seperti Pelabuhan Perikanan, irigasi pertambakan, Prasarana logistik dan distribusi (pabrik Es, Coldstoredge dan alat angkut). Selanjutnya ketersediaan listrik dan air bersih, kelayakan jalan termasuk jalan-jalan produksi serta Pelabuhan pengiriman laut maupun udara juga menjadi faktor yang menentukan.

Kepala Dinas KP Sulteng, Dr. Ir. Hasanuddin Atjo, MP mengatakan bahwa pada periode pertama pemerintahan Longki-Sudarto 2011-2016, dinasnya telah membuat roadmap atau  peta jalan pengembangan komoditas unggulan tersebut yaitu, (1) Udang. (2) Tuna-Cakalang, (3) Rumput laut,  (4) Bandeng, (5) Sidat, (6) Ikan  karang seperti kerapu dan sejenisnya, serta (7) komoditas yang terkait ketahanan pangan yaitu ikan pelajik kecil seperti kembung dan layang serta ikan tawar seperti Nila dan Mas.

Roadmap ini akan menjadi salah satu pertimbangan utama pengembangan sektor Kelautan dan Perikanan bagi Pemerintah maupun stakeholders lainnya. Diakuinya  untuk menuju visi itu dibutuhkan proses panjang karena terkait Koordinasi lintas sektor. Regulasi dan intervensi yang saat ini secara umum masih menjadi kendala.

Dari tujuh komoditas utama itu, dalam periode 2016-2021 setidaknya ada empat komoditas yang akan dikembangkan dengan pendekatan industrialisasi, yaitu Udang; Tuna-Cakalang; Bandeng dan Rumput laut.

Atjo mengatakan bahwa ada dua syarat utama untuk menjadi komoditas industrialisasi, pertama adalah jaminan supply (quantiti, quality dan konsistensi) yang selama ini sering dikeluhkan, dan yang kedua adanya jaminan Pasar.  Dukungan yang diperlukan guna memenuhi dua syarat itu adalah pengembangan sistem produksi termasuk Inovasi-teknologi dan sumberdaya manusia; sistem logistik serta ; sistem distribusi.

Kita di Sulawesi Tengah sebenarnya diuntungkan karena memiliki Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).  Harapan kita adalah bagaimana KEK ini segera dapat difungsikan karena di dalamnya sangat terkait dengan peran industri prosesing, logistik dan distribusi yang bisa meningkatkan efesiensi dan nilai tambah yang bermuara kepada peningkatan daya saing komoditas kita.

Saat ditanya di ruang kerjanya Senin, 13 Juni 2016 dari empat komoditas itu, mana yang paling siap.  Atjo mengatakan bahwa Udang dan Tuna-Cakalang segera didorong masuk ke Industrialisasi, karena kedua komoditas ini sistem produksinya telah dikuasai dengan baik ditunjang lagi dengan pasarnya sangat terbuka dan bernilai Ekonomi tinggi.

Selanjutnya Dia mencontohkan pengembangan industrialisasi udang.  Saat ini teknologi budidaya udang berkembang sangat cepat. Penemuan teknologi budidaya udang supraintensif oleh ketua Shrimp Club Indonesia, wilayah Sulawesi, Hasanuddin Atjo di tahun 2011 merupakan sebuah amunisi baru untuk jaminan suply bahan baku.  Dengan teknologi ini maka dalam setiap ha (konversi) akan dihasilkan udang jenis vaname sebesar 150 ton/musim tanam atau 300 ton/tahun.

Kalau diasumsikan dalam lima tahun kedepan di 12 kabupaten/kota se Sulteng terbangun 200 ha tambak supra intensif dengan tingkat produktifitas rata-rata 150 ton /ha/tahun (angkap roduktifitas pesimistis), maka setiap tahun akan diperoleh tambahan bahan baku sejumlah 30.000 ton ( produksi udang Sulteng 2015 sekitar 8.000 ton)).

Saat ini di Sulteng telah terbangun beberapa unit tambak supra intensif sebagai tambak contoh dan mulai diikuti oleh beberapa pelaku usaha.Tahun 2016 ini beberapa pelaku usaha telah membebaskan lahan untuk memproduksi udang dengan teknologi serupa.

Efek domino dari peningkatan produksi ini akan mendorong tumbuhnya industri di hulu seperti perbenihan, pabrik pakan, peralatan dan mesin. Demikian juga akan memicu bergeraknya industri di hilir seperti industri prosesing yang memerlukan cold storage dan pabrik es serta industri penunjang lainnya. Kesemuanya ini akan berdampak terhadap peningkatan serapan tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Sebagai catatan bahwa dengan pendekatan industri, maka setiap ton udang memerlukan tenaga kerja sekitar 200 orang/hari. Implikasinya kalau Sulteng memiliki bahan baku udang 38.000 ton/tahun, maka kebutuhan tenaga kerja adalah sekitar 25.000 orang.

Apa yang menjadi kebijakan DKP Sulteng  juga sejalan dengan pemikiran ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI)  yang juga mantan Menteri Kelautan dan Perikanan era Megawati (Kompas, 14 Juni 2016) bahwa Indonesia untuk keluar dari persoalan pangan, pertumbuhan ekonomi dan serapan tenaga kerja Indonesia harus segera masuk ke Industri Budidaya Perikanan (Akuakultur) dan dicontohkan dengan Industri udang.

Diakhir wawancara,  Atjo yang juga wakil ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) menyitir press rilis Tim Komunikasi Presiden (Sukardi Runakit): mengatakan bahwa Presiden Jokowi dalam rapat terbatas kabinet 15 Juni 2016 di Istana Negara menegaskan bahwa “ Masa depan Indonesia Ada di Laut”.

Presiden mencontohkan Jepang mampu menyumbang 48,5%  dari Produk DomestikBruto(PDB) nya atau setara dengan USD 17.500 milyar hanya dari sektor ekonomi kelautannya. Sementara Thailand dengan panjang garis pantai 2.800 km, ekonomi kelautannya mampu menyumbang devisa sebesar USD 212 milyar.

Indonesia dengan luas wilayah laut mencapai 70% kontribusi ekonomi Kelautannya kurang dari 30 %. Selanjutnya Presiden mengatakan bahwa potensi ekonomi Kelautan kita sebesar USD 1,2 trilyun dan penyerapan tenaga kerja sekitar 40 juta orang.  Selanjutnya Presiden menginstruksikan agar kebijakan pembangunan lebih berorientasi kepada pembangunan ekonomi kelautan. (aaa)

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital
Pendekatan Baru Dalam Pengelolaan Platform Permainan Daring Modern Terbentuk Dari Blockchain Dan Big Data
Skalabilitas Game Online Di Tengah Pertumbuhan Pengguna Digital Global Didukung Infrastruktur Cloud Native
Transparansi Ekosistem Game Online Berbasis Teknologi Masa Kini Didukung Blockchain Modern Dan Smart Contract
Ekosistem Game Modern Yang Lebih Terhubung Terbentuk Dari Integrasi Internet Of Things Dan Artificial Intelligence
Industri Game Modern Menyesuaikan Layanan Dengan Perubahan Perilaku Digital Berkat AI Berbasis Prediksi
Performa Game Multiplayer Meningkat Melalui Teknologi Edge Computing Dengan Pemrosesan Data Lebih Cepat
Platform Game Multiplayer Mengantisipasi Ancaman Siber Lebih Efektif Berkat Cyber Intelligence Modern
Pengembangan Game Modern Menjadi Lebih Fleksibel Dan Adaptif Berkat Artificial Intelligence Berbasis Cloud
Transformasi Digital Perusahaan Skala Kecil Dan Menengah Dipercepat Melalui Pengembangan Aplikasi Low Code
Visibilitas Konten Pada Google Discover Meningkat Secara Organik Berkat Strategi Search Engine Optimization