Jumat, 25 September 2026

Mirip Zohri, Yuliana Anak Yatim Total Bonus Rp 13 Juta

Yuliana, juara dunia cabang olahraga (Cabor) pencak silat tingkat junior di Shongkla, Thailand, memang namanya tak setenar Lalu Muhammad Zohri.

Atlet asal Dusun Terajon, Desa Montong Are, Kecamatan Kediri, Lombok Barat (Lobar) mengawali kejuaraan itu dengan menekuk pesilat India di babak penyisihan. Lalu pesilat Thailand di semifinal. Dan pesilat Singapura di partai final. Merah Putih pun berkibar.

Yuliana dengan wajah penuh kegembiraan, naik podium. Podium paling tinggi. Sambil mencium Bendera Indonesia. Dia bangga. Sangat bangga membawa Indonesia berjaya di panggung dunia.

Tetapi keberhasilan dia disambut biasa-biasa saja. Tak ada bonus besar. Tak juga dipanggil Presiden. Ingat, dia juga juara dunia. Dia berkeringat demi mengharumkan nama bangsa. ”Alhamdulillah saya bisa meraih medali emas,” kata Yuliana.

Seperti Zohri, Yuliana juga anak yatim. Dia lahir dari keluarga dengan ekonomi terbatas. Dulu ayahnya berprofesi sebagai ojek, dan meninggal kecelakaan saat dia berumur tiga tahun.

”Ayah saya meninggal saat pulang mengantar penumpang,” cerita Yuliana.

Yuliana terbilang anak rajin. Dia selalu mendapatkan ranking di sekolahnya. Di sisi lain, Yuliana juga punya bakat bertarung. Itu terlihat ketika dia duduk di kelas V SD. Kala itu, dia diejek teman lelakinya. Kemudian dia melawan. ”Makanya saya juga sering di keroyok sama rekan sekelas dulu,” ujarnya.

Itulah awal dia berminat belajar ilmu bela diri. Dia selalu bertanya ke neneknya, Munisah tempat latihan ilmu bela diri. ”Tetapi nenek saya tak pernah menjawabnya,” ucapnya.
Setelah lulus SD, Yuliana mendaftar di SMPN 2 Kuripan. Perempuan berhijab itu memilih pencak silat sebagai ekstrakulikulernya. ”Saya mengambil pencak silat karena ingin belajar ilmu beladiri,” kata Yuliana.

Pelatih pencak silat di SMPN 2 Kuripan, Sahnun merestuinya. Setelah berlatih, Yuliana menunjukkan bakatnya. Dia pun dipilih mewakili sekolah pada Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) tingkat Kabupaten. ”Saya berhasil meraih medali emas saat itu,” kenangnya.

Yuliana ditunjuk mewakili Kabupaten Lobar di tingkat Provinsi. Di situ dia mengeluarkan kemampuan terbaiknya dan mampu membawa pula medali emas.

Prestasinya itu membawanya ke Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) NTB 2016. Saat masuk PPLP, neneknya tak mengizinkan. Alasannya, tidak ada yang menemaninya.

Wajar, karena dia selama ini tinggal bersama neneknya. ”Saya terus memberikan pandangan kepada nenek supaya diizinkan,” ujarnya.

Guru Sahnun lalu datang memberitahukan kepada neneknya. Yuliana diizinkan ke PPLP. ”Tepatnya, Juli 2016, saya bergabung ke PPLP,” ujarnya.

Satu bulan dia bergabung, nenek Munisah meninggal dunia. Yuliana merasa terpukul. ”Dia (Nenek Munisah, red) yang telah mendidik dan membesarkannya dari SD, meninggal,” ucapnya.

Kepergian neneknya itu membuat gairah berlatih Yuliana sedikit berkurang. Syukur, ada pelatih Dega Mardiansyah yang memberikan spirit. ”Guru Dega yang memberikan semangat ke saya,” ujarnya.
Ya, Oktober 2016, Yuliana mengawali karirnya di panggung nasional. Dia dipercaya mengikuti kejurnas remaja di Jakarta. Atlet yang berumur 18 tahun itu tampil maksimal. ”Di kejuaraan itu saya meraih medali emas pertama di tingkat nasional,” ujarnya.

Kemudian, Yuliana turun di Pekan Olahraga Pelajar Wilayah (Popwil) di Jawa Timur. Latihan keras yang dilakukan Yuliana membuahkan hasil. ”Saya juga mendapatkan emas,” kenangnya. Pada 2017, Yuliana terus mengukir prestasi.

Di kejurnas PPLP di NTB dan Sirkuit Bali-Lombok, dia meraih medali emas. Namun, di Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) 2017 di Jawa Tengah, Yuliana hanya sumbang medali perunggu. ”Saya gagal persembahkan emas untuk NTB di Popnas. Kalah dari pesilat Riau,” bebernya.

Kekalahan itu dijadikan sebagai motivasi bagi Yuliana untuk bangkit. Dia terus menempa diri memperbaiki teknik dan fisiknya.

Pada April 2018, Yuliana mendapatkan panggilan dari PB IPSI mengikuti kejuaraan dunia di Songkhla, Thailand. Di situ dia mampu menunjukkan yang terbaik.

Usai membawa pula label juara dunia itu, Yuliana memang menerima bonus. Dia mengaku mendapat bonus dari pemerintah provinsi NTB Rp 7,5 juta. KONI Lobar Rp 3 juta. Ditambah bonus Rp 2,5 juta dari anggota DPR RI. ”Total ada Rp 13 juta,” bebernya.

Hanya itu saja bonusnya. Tak ada lagi yang lain. Tak ada juga sumbangan tanah dari pemerintah. Bonus ratusan juta dari pemerintah NTB. Juga dari pihak swasta. Padahal, dia juga juara dunia. Juara dengan label atlet NTB dan Indonesia.

Dilihat dari kehidupannya, Yuliana bukan orang kaya. Rumah orang tuanya masuk kategori sederhana. Luasnya 6×4 meter persegi. Satu teras dan dua kamar. Dindingnya terbuat dari batako yang belum dibalut plester. ”Ya, beginilah kondisi rumah orang tua saya,” kata dia.
Saat kepulangannya, Yuliana mengaku tak ada sambutan yang istimewa. Kendati demikian, Yuliana tetap berhati besar. Dia tak mempermasalahkannya juga. Terpenting, dirinya bisa memberikan yang terbaik untuk Indonesia.

”Semua atlet telah berjuang untuk mengharumkan nama bangsa di level internasional,” ungkapnya.

Meski penuh keterbatasan, Yuliana tak patah semangat untuk tetap memberikan prestasi untuk NTB. Oktober mendatang, dia akan menghadapi Popwil dan Kejurnas antar PPLP. “Saya targetkan bisa meraih medali emas di kejuaraan itu,” tutupnya.

(arl/r10/pe)

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam