PALU EKSPRES, PALU – Muhammdiyah Sulteng tidak lama lagi akan memiliki amal usaha terbaru, yang bergerak di bidang pelayanan kesehatan masyarakat. Hal ini ditandai dengan diluncurkannya persiapan pendirian RS Siti Fadilah Supari PKU (Pembina Kesejahteraan Umat) Muhammadiyah Sulteng, Kamis 17 Januari 2019. RS tersebut berada di jalan Jabal Nur nomor 5 Kelurahan Talise, Mantikulore.
RS yang sedang dipersiapkan tersebut, merupakan pengembangan dari Rumah Bersalin Muhammadiyah, yang sebelumnya telah terbangun namun belum berfungsi secara maksimal. Pengembangan ini diinisiasi oleh Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) PP Muhammadiyah, yang sebelumnya melihat potensi pendirian RS PKU Muhammadiyah di Sulteng. MDMC saat ini masih melakukan respon penanggulangan bencana di Palu, Sigi dan Donggala, yang salah satunya dengan terus mengirim tenaga relawan kesehatan dari berbagai daerah di Indonesia.
Pada peluncuran persiapan pendirian RS PKU Muhammadiyah Sulteng tersebut, turut diberikan bantuan alat-alat kesehatan dan mobil ambulance sebagai penunjang pelayanan, dari PP Muhammadiyah yang diwakili oleh Wakil Ketua PP Muhammadiyah, dr. Agus Taufiqurrahman kepada PW Muhammadiyah Sulteng.
Dalam sambutannya, dr. Agus merasa yakin bahwa RS Siti Fadilah Supari PKU Muhammadiyah Sulteng dapat berkembang dengan baik. Hal ini menurutnya karena proses pendiriannya mendapat dukungan penuh dari para warga persyarikatan Muhammadiyah dan pemerintah daerah, baik Kota Palu maupun Provinsi Sulteng.
“Insyaallah, kami yakin rumah sakit ini akan berjalan dengan baik. Hal utama yang segera disiapkan oleh Muhammadiyah Sulteng, untuk menyiapkan SDM yang akan mengawal rumah sakit ini. Alhamdulillah Gubernur memberikan dukungan yang luar biasa,” kata dr. Agus.
Ia bercerita, pendirian RS Muhammadiyah awalnya merupakan cita-cita dari salah seorang murid K.H. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah-red), yakni K.H. Suja. Cita-cita tersebut disampaikan Kyai Suja di salah satu forum musyawarah Muhammadiyah, meski pada saat itu belum mendapat sambutan yang positif.

Setelah RS Muhammadiyah akhirnya terbentuk, Kyai Suja lalu memilih menggunakan nama RS PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem), yang dilandasi spirit pelayanan kesehatan sebagai wujud dakwah Islam sebagai rahmatan lil alamin.
“Jadi memang Kyai Suja mengusulkan Muhammadiyah membuat pelayanan kesehatan, itu untuk menolong siapapun yang membutuhkan. Bukan melayani hanya kepada warga persyarikatan, tetapi kepada siapapun, suku bangsa manapun, atau agama apapun, kalau dia membutuhkan harus ditolong,” tegasnya.
Sementara itu, Pemerintah Provinsi Sulteng menyatakan dukungan penuh terhadap pendirian dan pengembangan RS PKU Muhammadiyah Sulteng. Hal ini disampaikan Gubernur Sulteng, H. Longki Djanggola, yang diwakili oleh Staf Ahli Gubernur Sulteng bidang Ekonomi, Pembangunan dan Kesejahteraan Sosial, Ardiansyah Lamasitudju.
Ia menyampaikan, bahwa saat ini keberadaan RS merupakan salah satu kebutuhan yang penting. Apalagi, bencana yang sempat melanda beberapa daerah di Sulteng beberapa waktu lalu turut mengakibatkan gangguan terhadap pelayanan kesehatan masyarakat.
Olehnya, ia mendorong agar PW Muhammadiyah Sulteng segera menyusun proposal terkait perizinan dan beberapa hal yang dibutuhkan Muhammadiyah dari pemerintah.
Ia menilai RS PKU Muhammadiyah tersebut sudah cukup siap dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang membutuhkan, karena mendapat dukungan penuh dari PP Muhammadiyah.
“Nantinya dalam proposal tersebut, pemerintah akan mempelajari apa saja yang dibutuhkan oleh Muhammadiyah, sehingga RS Siti Fadilah Supari PKU Muhammadiyah segera beroperasi dan membuka pelayanan bagi masyarakat di Kota Palu dan Sulawesi Tengah,” ujar Ardiansyah.
(abr/palu ekspres)






