Oleh H. Haerolah Muh. Arief
(Kepala KUA Kecamatan Palu Barat Kota Palu)
Dalam percakapan sehari-hari, kata akal kerap dipakai untuk hal berkonotasi negatif. Saya teringat, tetangga di kampung dulu kalau lagi marah suka berkata, “hmm.., tidak ada akal kamu”. Bila dia tidak yakin akan sesuatu, kalimat yang keluar dari mulutnya, “tidak masuk akal”. Sedangkan “akal bulus” dan “akal-akalan” itu lain lagi ceritanya.
Akal, pernah pula menjadi topik perbincangan menarik antara Nabi Saw dan Saidatuna Aisyah r.a. Tapi dalam konotasi positif. Suatu waktu Aisyah bertanya, apakah yang membedakan seseorang dengan lainnya di dunia? Nabi Saw. menjawab, akal. “Kalau di akhirat?,” lanjut isteri Nabi itu. Kembali jawaban yang sama diterima Aisyah.
Jawaban tersebut membuat putri Abubakar yang dalam album lagi viral disebut “suka bermanja” ini semakin penasaran. “Bukankah dalam Alquran dan ucapan-ucapan Rasulullah lainnya dikatakan yang membedakan dan melebihkan seseorang dari yang lainnya di akhirat adalah amal?” sanggah Aisyah. Benar, kata Nabi. Amal melebihkan seseorang dari yang lain. Tetapi amal itu sendiri sangat bergantung pada akal.
Kisah ini setidaknya memberi pelajaran, bahwa perbedaan kualitas beragama seseorang adalah akalnya. Semakin cemerlang akalnya semakin tinggi pula derajatnya. Semakin intensif seseorang menggunakan akalnya, maka ia akan semakin memiliki kelebihan. Sebaliknya, semakin sedikit seseorang mangaktivikasi akalnya semakin kurang nilainya dari yang lain.
Sekitar 300 kali Alquran mendorong, memotivasi dan memerintahkan pembacanya menggunakan akal. Hal ini mengisyaratkan betapa pentingnya berpikir dan berilmu. Habib Sagaf bin Muhammad Aljufri dalam tausyiahnya menyatakan, beribadah itu harus dengan ilmu, “Tanpa ilmu bagaimana anda mau beribadah?,” kata Ketua Utama Alkhairaat ini.
Islam agama yang sangat menghargai akal. Sehingga, hampir tidak ada doktrin Islam yang bersifat dogmatis. Boleh jadi, hanya Zat Tuhan yang belum mampu “diutak-atik” oleh akal. Selain itu, semua ajaran Islam berkembang sedemikian rupa, karena selalu diperdebatkan (bukan diakali) Semisal kewajiban salat Jumat di tengah suasana merebaknya wabah Covid-19.
Ibadah dalam Islam selalu menempatkan akal sebagai persyaratannya. Ibadah salat, haji, puasa dan sebagainya, salah satu syaratnya adalah berakal. Sebab, beban agama (taklif) hanya bisa diemban oleh orang berakal. Yang bisa memahami perintah dan larangan Tuhan hanyalah orang yang berakal. Dalam riwayat disebutkan “Agama ialah akal, tidak ada agama bagi yang tidak berakal.”
Selain akal, ada sisi lain dalam diri manusia yang perannya bertolak belakang dengan akal. Itulah hawa nafsu. Jika akal sebagai pengendali, hawa nafsu adalah daya atau kekuatan yang memerlukan pengendalian. Karena dia tidak mengerti nilai dan norma, ia dapat mengarah ke mana saja sesukanya. Jika tidak dikendalikan, maka dia dapat membawa pemiliknya terjerumus kepada kehinaan.
Untuk memperkuat daya kendali akal, Allah menurunkan iman ke dalam qalbu. Melalui iman inilah Allah menyinari akal dengan cahaya-Nya. Kalau akal tanpa siraman iman, maka orang akan hidup dengan penuh “akal-akalan”, seperti menipu, memeras, memperdaya, menggoda dan sebagainya.
Ibn Maskawaih dan Al-Ghazali mengatakan, akal yang disinari imanlah yang akan memberikan solusi bagi berbagai permasalahan dalam kehidupan, termasuk menjalankan ibadah di suasana pandemi Covid-19. Beragama bukan untuk mengelabui orang lain agar mereka semakin percaya. Beragama adalah untuk meraih kehidupan yang bermakna, menebarkan nilai-nilai kemanusian dibarengi akhlak mulia.
Allah Swt.mengibaratkan orang yang tidak mau menggunakan akalnya seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mengapa? Karena mereka itu termasuk orang-orang yang lalai. (QS. Al-A’raf: 79). Wallahu a’lam.*






