Minggu, 9 Agustus 2026

Peluang Bonus Demografi untuk Angkatan Kerja Berkualitas

Dra. Rosarita Niken Widiastuti, M.Si (Staf Khusus Kemenkominfo Bidang IKP, Transformasi Digital, dan Hubungan Antar Lembaga), menjadi salah satu pembicara dalam diskusi bertema Menyiapkan Aset SDM yang Mendukung Kebangkitan Dunia Usaha di Era Pandemi di Jakarta, Senin, 30 November 2020. Hadir dua narasumber lainnya yaitu Dr. Ir. Hariyadi BS. Sukamdani, MM (Ketua Umum APINDO dan Ketua Umum PHRI), Anwar Sanusi, Ph.D (Sekretaris Jenderal Kemnaker RI). Foto: Istimewa

PALU EKSPRES, JAKARTA – Menuju perubahan Industri ke 4.0, Indonesia memiliki keuntungan dengan bonus demografi angkatan kerja hingga tahun 2045. Persentase usia 16 – 25 tahun yang dimiliki diperkirakan mencapai 25 persen.

“Bonus demografi pada saat yang bersamaan ada yang namanya revolusi industri. Dan bonus demografi ini harus dimanfaatkan betul agar sumber daya manusia Indonesia memiliki daya saing yang tinggi,” ujar Anwar Sanusi, Sekretaris Jenderal Kementerian Ketenagakerjaan dalam Webinar KPCPEN dengan tema ‘Menyiapkan Aset SDM yang Siap Mendukung Kebangkitan Dunia Usaha di Era Pandemi’, Senin (30/11/2020).

Dikatakan Anwar, keuntungan ini bisa menjadi sebaliknya, jika Indonesia tidak menyiapkan  perubahan ke industri 4.0 yang banyak berfokus pada digitalisasi dan otomatisasi. “Di dalam masyarakat terdigital ini, new business model harus kita lakukan, kurikulum harus kita lakukan pembenahan, program pelatihan juga sama, skema sertifikasi juga sama.”

Karena itu menurut Anwar, sejalan dengan semangat perubahan menuju industri ke 4.0, UU Cipta Kerja telah mengakomodirnya dengan upah berbasis jam kerja. “Job transformation, bekerja dimana saja dan kapan saja sudah ada di UU Cipta Kerja,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Umum DPN Apindo (Asosiasi Pengusaha Indonesia), Hariyadi B. Sukamdani dalam forum yang sama mengatakan, ada risiko yang harus diantisipasi dengan bonus demografi ini terkait industri 4.0. “ Jumlah pekerja sangat signifikan sekitar 60 persen di sektor manufaktur bahan pangan. Organisasi Buruh Dunia atau ILO juga memperkirakan 60 persen untuk sektor otomotif, dan kedua akan terkena dampak yang cukup signifikan,” jelasnya.

Dengan kondisi ini, Hariyadi berharap bahwa perusahaan-perusahaan mau berinvestasi pada karyawannya dengan memberikan pelatihan formal. Sehingga tantangan digitalisasi di masa depan dapat diserap oleh para karyawan.

“World Bank menyampaikan di Indonesia hanya 4,7 persen perusahaan yang memberikan pelatihan formal. Ini persoalannya di masalah anggaran,” jelas Hariyadi menyayangkan.

Dia berharap dengan situasi dan kondisi yang ada, pemerintah dapat fokus untuk memanfaatkan program pemagangan serta Balai Latihan Kerja (BLK) agar para SDM siap masuk ke dunia usaha dengan beragam keterampilan.

“Kami melihat bahwa pemerintah telah memiliki banyak sekali sarana dan prasarana bahkan gedung dan sebagainya, tapi memang kurang teroptimalisasi. Kita berharap ke depan BLK ini bisa menjadi sarana kita untuk memicu keterampilan dari tenaga kerja kita,” pungkasnya. (***)

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital