Rabu, 12 Agustus 2026
Opini  

General Check Up Poso

Rusman Madjulekka. (Foto: Dok. Pribadi)
Rusman Madjulekka. (Foto: Dok. Pribadi)

SUDAH lama saya memendam rindu ke Poso. Di Sulawesi Tengah. Bagi yang belum tahu: letaknya persis di tengah-tengah pulau Celebes. Menghubungkan Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Pesisir pantainya yang indah berhadapan langsung dengan Teluk Tomini.

Selain tempat kelahiran yang tertera di KTP, tepatnya di Bonesompe, juga penasaran ingin tahu kondisi Poso sekarang. Terbayang desiran ombak laut di pesisir kota, pesona danau di Tentena, ikan nike (lebih kecil dari ikan teri), ikan galapea khas Poso, dan sejumlah tanya lainnya.

Beruntung saya bertemu dengan kawan dari Poso yang mengikuti Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas) XIII di Malang Raya, Jawa Timur, pada penghujung tahun lalu. Mereka tergabung dalam kontingen PWI Provinsi Sulawesi Tengah. Ada Syamsuyadi D.S dan Rusli Suwandi, jurnalis Poso. Dan Rusman seorang PNS pendamping dari bagian Humas dan Protokol Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Poso.

Terbayar. Kangen saya ke Poso. Bersama ketiganya saya merasa seolah ‘terbang’ ke sana dan bernostalgia. Mereka banyak bercerita, update keadaan Poso. Juga pada kesempatan lain, mereka kerap mengirim link berita media, postingan youtube medsos dan TV, serta podcast dari orang nomor satu Poso. Setidaknya bisa mengobati kerinduan yang menggunung. “Rindu itu memang berat hehe” seloroh Syam mengutip film romansa remaja Dilan-1990.

Dari mereka juga saya tahu Poso yang sempat terkoyak akibat kerusuhan berbau SARA beberapa tahun silam itu sudah terajut kembali. Konflik antar agama di Poso sendiri sudah selesai tahun 2007. Sejak ditandatangani nota perdamaian di Malino, Sulawesi Selatan.

“So normal….” ujar Rusli singkat. Diamini kedua kawannya.

Tapi yang terjadi pasca itu, menurut Rusli yang juga Ketua PWI Poso, justru tantangannya lebih berat. Karena mereka mesti “melawan” stigma wilayah Poso tempat bercokolnya pelaku terorisme.

“Seiring waktu, so ta kikis (terkikis,red) stigma itu,” tambah Rusman, kawan lainnya meyakinkan dengan logat khas Poso yang mirip bahasa orang Manado.

Meski dia sendiri sebenarnya orang Bugis yang sejak tamat S-1 dari jurusan Komunikasi FISIP Universitas Hasanuddin (Unhas) merantau ke Poso.

Untuk mendukung pernyataanya, dia lantas membeberkan beberapa data dan investor yang sudah melirik Poso sebagai pilihan aksi korporasi dan penanaman modalnya. Bahkan sejumlah event dan kegiatan skala regional dan nasional seperti Festival Danau Poso sudah rutin digelar.

***

ITU satu hal. Hal lain yang menarik, mengusik pikiran saya dan bikin pangling, adalah aksi dan inovasi dari Bupati Poso.

Pernah dalam suatu kesempatan, warga desa sudah berkumpul. Di sebuah lapangan. Ada beberapa tenda ukuran jumbo yang disulap layaknya posko darurat. Yang kerap kita saksikan saat terjadi musibah atau bencana alam. Tapi kali ini aman tidak ada tragedi.

Hari itu, dipenghujung tahun 2021, di Desa Lena, Kecamatan Pamona Utara, ada hajatan warga. Temanya: “Bunga Desa”. Penasaran?

Yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Tentu saja wanita. Cantik. Lima i. Modis dan Stylish. Sang “Bunga Desa” itu: Verna! Nama lengkapnya Verna Gladies Merry Inkiriwang.

Oh…ya, yang membuat saya pangling terjawab. Rupanya si “Bunga Desa” pernah menjadi runner-up dalam ajang Miss Indonesia 2007 sebagai perwakilan provinsi Sulawesi Tengah.

Sejak itu mendadak si ‘Bunga Desa” mendapat sorotan lampu. Jadi buah bibir. Hari itu sekaligus menandai launching perdana program unggulan “Bunga Desa” yang diagendakan rutin sekali sebulan menjangkau desa terpilih di seluruh kecamatan.

Apalagi perempuan pertama yang jadi Bupati di Sulawesi Tengah ini mengerahkan sejumlah pegawai dari berbagai organisasi perangkat daerah (OPD) untuk ikut bersamanya terjun ke desa. Terutama yang berasal dari instansi/lembaga yang terkait langsung dengan pelayanan publik.

“Bunga Desa” sendiri akronim dari “Bupati Ngantor di Desa”. Intinya mendekatkan jarak pelayanan. Bukan hanya secara fisik, juga tanpa sekat birokrasi. Menghadirkan aparat pemerintah yang betul-betul sebagai pelayan.Bukan dilayani.

Secara umum, program ini merupakan bagian dari tujuh pilar program unggulan yang diusung Pemkab Poso. Yakni Desa Maju, Poso Pintar, Poso Sehat, Poso Sejahtera, Poso Pakaroso, Poso Harmoni dan Tangguh, kemudian Poso Bersinar.

Adapun pelayanan publik yang dihadirkan bemacam-macam. Ada pelayanan KTP,KK, KIA, akta kelahiran, akta kematian, pelayanan KB, perizinan , perpustakaan keliling, pelatihan pembuatan pupuk, pemeriksaan kesehatan hewan, pelayanan pajak daerah dan lainnya.

Sedangkan pelayanan dari instansi vertikal yang ikut “digandeng” dalam program “Bunga Desa” antara lain seperti BPJS kesehatan dan ketenagakerjaan, pajak kendaraan bermotor, perpanjangan SIM, donor darah, sosialisasi narkoba, serta layanan kredit usaha kecil dan mikro dari perbankan.

Verna nyemplung ke dunia politik mengikuti jejak ayahnya. Diawali sebagai anggota DPR-RI tahun 2009. Dapil Sulawesi Tengah. Usianya masih muda, 26 tahun. Pada Pemilu berikutnya, ia terpiih periode kedua sebagai wakil rakyat di Senayan. Masih Dapil yang sama. Sang ayah Piet Inkiriwang pernah menjabat Bupati Poso dua periode 2005-2015.

Ia seorang dokter. Dari Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado. Tamat tahun 2008. Pendidikan SD sampai SMA-nya di Manado. Sebelum ke Senayan, Verna bekerja sebagai dokter di RSUP dr. R. D. Kandou Malalayang Manado.

Karena latarbelakang itulah saya menduga diawal periodenya ia secara diam-diam melakukan “general check up” (GCU) birokrasi yang dipimpinnya. Mendeteksi “peyakit” yang sudah lama menggerogoti.

Ketemu. Antara lain lamban, tidak efisien, gemuk, dan minim inovasi. Dan itu terjadi juga di daerah lain. Tergantung pemimpinnya. Mau diapakan.

Sudah bukan rahasia lagi, dan kita sama-sama tahu. Birokrasi itu ruwet. Berbelit-belit. Tapi ditangan Bupati Verna menjadi simpel. Caranya? Bertahap. Pertama-tama, ia ingin mengubah perilaku seluruh pegawai di Pemkab Poso lebih sigap dan cekatan. Termasuk mindset mereka terhadap birokrasi dan pelayanan prima.

Ide program “Bunga desa” yang digagas Bupati Verna pun saya kira tak lepas dari hasil general check up (GCU) yang dilakukannya. Pertanyaannya, mengapa general check up birokrasi?

Pasalnya, gaya kepemimpinan Bupati Verna layaknya seorang dokter yang dikenal cepat dan tepat dalam melakukan “diagnosa” terhadap berbagai “penyakit” yang menggerogoti birokrasi dan masalah pembangunan. Cepat, supaya tidak menjalar kemana-mana.Tepat, karena bertumpu pada data dan argumen yang scientific.

Hasil diagnosa tersebut dipilah satu-satu. Tergantung tingkat atau level keparahan penyakit-nya. Kalau hasil GCU-nya merah atau level mengkuatirkan maka secepatnya dirujuk masuk perawatan ICU atau unit gawat darurat.

Salahsatu temuannya, penyakit birokrasi adalah perilaku ASN yang belum profesional. Padahal, sumber daya ASN yang mumpuni merupakan kunci dalam pelayanan. Pelayanan publik yang buruk akan memberikan kesan negatif. Bahwa pemerintah tidak memperhatikan kebutuhan masyarakat.

Bukan hanya dalam pengertian fisik pegawai, tetapi menyangkut seluruh aspek yang melekat pada pegawai yang bersangkutan. Mulai dari perilaku, kompetensi, pengetahuan, kreativitas atau soft skill lainnya. Masih banyak ASN yang berpikir bukan sebagai pelayan masyarakat, tetapi lebih mengedepankan kekuasaan.

Kemudian ia menyimpulkan dengan terapi “obat mujarab” untuk penyembuhannya. Bukti keampuhannya, salahsatunya terlihat dari sambutan antusias masyarakat terhadap program “Bunga Desa” yang sudah berjalan lebih sepuluh kali.

Bagi yang kontra, boleh jadi menganggap itu hanya pencitraan. Apalagi di penghujung masa jabatannya.

Bupati Verna enggan berpolemik. Ia berdalih menjalankan mandat rakyat dalam tujuh poin fokus pembangunan Poso. Coba tengok dan perhatikan salahastu poinnya: percepatan reformasi birokrasi dan transformasi pelayanan publik!

Semoga suatu waktu saya bisa bertemu Bupati Verna. Dan tidak pangling lagi. ***

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital
Pendekatan Baru Dalam Pengelolaan Platform Permainan Daring Modern Terbentuk Dari Blockchain Dan Big Data
Skalabilitas Game Online Di Tengah Pertumbuhan Pengguna Digital Global Didukung Infrastruktur Cloud Native
Transparansi Ekosistem Game Online Berbasis Teknologi Masa Kini Didukung Blockchain Modern Dan Smart Contract
Ekosistem Game Modern Yang Lebih Terhubung Terbentuk Dari Integrasi Internet Of Things Dan Artificial Intelligence
Industri Game Modern Menyesuaikan Layanan Dengan Perubahan Perilaku Digital Berkat AI Berbasis Prediksi
Performa Game Multiplayer Meningkat Melalui Teknologi Edge Computing Dengan Pemrosesan Data Lebih Cepat
Platform Game Multiplayer Mengantisipasi Ancaman Siber Lebih Efektif Berkat Cyber Intelligence Modern
Pengembangan Game Modern Menjadi Lebih Fleksibel Dan Adaptif Berkat Artificial Intelligence Berbasis Cloud
Transformasi Digital Perusahaan Skala Kecil Dan Menengah Dipercepat Melalui Pengembangan Aplikasi Low Code
Visibilitas Konten Pada Google Discover Meningkat Secara Organik Berkat Strategi Search Engine Optimization
Menekan Spin Delay Is The Key Dengan Irama Tidak Teratur 2 Detik, 5 Detik, 8 Detik Bisa Membingungkan Randomizer Atau Hanya Ritual Ocd Saja
Masa Depan Hiburan Digital Interaktif Dibahas Melalui Perpaduan Teknologi Dan Narasi Pada Wild Bounty Showdown
Inovasi Seotda Baccarat Dari Pragmatic Play Menggabungkan Budaya Korea Dan Format Baccarat Modern Di Tahun 2026
Infrastruktur Game Digital Lebih Siap Menghadapi Gangguan Berkat Cyber Resilience Architecture
RTP Mahjong Scatter Hitam Pragmatic Play Hadir Nonstop 24 Jam Berkat Inovasi Teknologi AI Terbaru
Mahjong Ways Dioptimalkan Dengan Grafis Engine HTML5 Dan Kecepatan Respons Antarmuka Pengguna
Mahjong Ways Menjelaskan Mekanisme Perhitungan Kombinasi Kemenangan Dari Kiri Ke Kanan
Infrastruktur Digital Menjaga Stabilitas Performa Meskipun Beban Sistem Terus Meningkat
Data Historis Menjadi Dasar Pengembangan Algoritma Prediktif Generasi Terbaru
Literasi Risiko Menjadi Penting Seiring Pertumbuhan Investor Pasar Modal Indonesia