Sabtu, 8 Agustus 2026

Nih, Peneliti NSEAS Bongkar Kebohongan Ahoker

PALU EKSPRES, JAKARAT – Dalam sepekan terakhir, muncul kabar jika  pembangunan Masjid Raya KH Hasyim Asyari di kawasan Jakarta Barat merupakan hasil kerja Ahok-Djarot.

Sejumlah relawan dan timses, “mempromosikan” kepada masyarakat seolah-olah pembangunan masjid tersebut adalah bentuk kepedulian Ahok-Djarot terhadap umat Muslim.

Namun, klaim ini lantas dibantah peneliti dari Network for South East Asian Studies (NSEAS), Muchtar Effendi Harahap.

“Betulkah pembangunan masjid raya Jakarta sebagai kerja nyata Ahok-Jarot? Tidaklah. Itu klaim palsu doang. Fakta sebenarnya, pembangunan masjid dimulai saat Jokowi gubernur DKI,” kata dia, Minggu (9/4).

Dikatakan dia, prakarsa pembangunan masjid yang akan diresmikan oleh Presiden Jokowi pada 16 April mendatang itu disetujui oleh DPRD DKI tahun 2012, dan mulai dikerjakan oleh Gubernur Jokowi tahun berikutnya.

Jokowi pula yang meletakkan batu pertama pembangunan masjid yang dinamai KH Hasyim Asy’ari, seorang pendiri NU dan suku Jawa, itu.

“Gubernur Ahok hanya nerusin. Klaim kerja nyata Ahok-Djarot adalah manipulasi fakta sejarah,” kata mantan anggota DPR RI itu.

Selama 5 tahun, menurut catatan Muchtar, Pemprov DKI hanya mampu membangun satu unit masjid raya di DKI, padahal ada 5 Kotamadya dan 1 Kabupaten.

Masalah lain yang disorot Muchtar soal nama masjid. Mestinya, masjid bernuansa budaya Betawi, bukan Jawa. Jadi sangat mengada-ada dan tidak sesuai dengan semangat awal pembangunan masjid karena namanya diganti dengan nama bukan orang Betawi.

Hal ini, jelas dia, mengacu pada Perda No 2/2012 tentang RPJMD Provinsi DKI tahun 2014-2017. Dalam perda ini ada kebijakan penataan bangunan dan gedung pemerintah yang bernuansa budaya Betawi, urusan perumahan rakyat membangun masjid raya bernuansa Betawi di Jakarta Barat.

“Bernuansa budaya Betawi tentu saja bermakna produk masyarakat Betawi, bukan masyarakat Jawa seperti KH Hasyim Asy’ari.

Manipulasi nama tokoh hanya untuk kepentingan politik suara pemilih NU di DKI dalam Pilkada 2017 tentu harus dihilangkan.

“Nama masjid sangat layak diambil dari tokoh masyarakat Betawi, bukan Jawa,” tukasnya.

(dem/rmol/mam/JPG)

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital