Jakarta, PaluEkspres.com — Ketika orang menyebut istilah “Tujuh Keajaiban Dunia”, yang muncul dalam bayangan biasanya adalah bangunan-bangunan raksasa yang pernah membuat manusia pada zamannya terperangah: Piramida Agung Giza yang menjulang di tengah gurun Mesir, Taman Gantung Babilonia yang diceritakan bertingkat-tingkat, Kuil Artemis di Efesus, Patung Zeus di Olympia, Mausoleum Halikarnassus, Kolosus Rhodes, dan Mercusuar Alexandria. Namun di balik daftar yang telah dikenal selama lebih dari dua milenium itu terdapat sebuah pertanyaan sederhana yang jarang dipikirkan: mengapa jumlahnya harus tujuh? Mengapa bukan enam, delapan, atau sepuluh, seperti banyak daftar “terbaik” yang dikenal manusia modern?
Pertanyaan tersebut membawa kita jauh sebelum munculnya televisi, mesin cetak, pesawat terbang, internet, bahkan sebelum sebagian besar bangunan yang kini dikenal sebagai warisan peradaban dunia berdiri. Pada masa itu, perjalanan lintas negeri merupakan pekerjaan yang sulit dan penuh risiko. Laut Mediterania menjadi jalur utama perdagangan dan pertukaran pengetahuan, sementara cerita tentang kota-kota besar, kuil, patung, makam dan bangunan monumental berpindah dari satu pelabuhan ke pelabuhan lainnya melalui para pedagang, pelaut, tentara, pejabat, dan pelancong. Dalam dunia seperti itulah muncul kebiasaan untuk mencatat tempat-tempat yang dianggap paling mengagumkan, atau dalam tradisi Yunani dikenal sebagai sesuatu yang layak dilihat.
Karena itu, Tujuh Keajaiban Dunia pada awalnya tidak dapat disamakan dengan daftar peringkat global seperti yang dikenal sekarang. Tidak pernah ada panitia internasional yang menggelar rapat untuk menentukan bangunan terbaik di muka bumi, tidak ada pemungutan suara dari berbagai kerajaan, dan tidak ada lembaga yang memberikan sertifikat kepada tujuh bangunan tersebut. Daftar itu lebih menyerupai panduan perjalanan bagi masyarakat dunia Yunani dan Helenistik, yang ingin mengetahui tempat-tempat paling luar biasa yang dapat mereka kunjungi di wilayah yang pada saat itu mereka kenal.
Antipater dari Sidon dan lahirnya daftar yang melegenda
Nama yang paling sering dikaitkan dengan kelahiran Tujuh Keajaiban Dunia adalah Antipater dari Sidon, seorang penyair Yunani yang hidup pada sekitar abad ke-2 sebelum Masehi. Dalam sebuah epigram yang kemudian dihimpun dalam Greek Anthology, Antipater menyebut sejumlah bangunan monumental yang menurutnya layak disejajarkan sebagai keajaiban dunia. Ia menyebut Taman Gantung Babilonia, Patung Zeus di Olympia, Piramida Mesir, Mausoleum Halikarnassus, Kuil Artemis, Kolosus Rhodes, dan Tembok Babilonia dalam versinya.
Dalam puisinya, Antipater bahkan memberikan gambaran yang sangat personal mengenai kekagumannya terhadap Kuil Artemis. Ia menggambarkan bagaimana bangunan-bangunan besar yang pernah dilihatnya seolah kehilangan sebagian keindahannya ketika dibandingkan dengan kuil tersebut. Bagi pembaca masa kini, kalimat itu mungkin terdengar seperti promosi wisata, tetapi pada zaman Antipater sebuah gambaran semacam itu mempunyai kekuatan yang jauh lebih besar. Tidak ada fotografi, film dokumenter atau media sosial yang dapat memperlihatkan bentuk bangunan kepada orang yang berada ribuan kilometer jauhnya. Cerita seorang pelancong atau penyair adalah salah satu cara utama sebuah tempat dapat menjadi terkenal di luar wilayahnya.
Namun menyebut Antipater sebagai pencipta tunggal Tujuh Keajaiban Dunia juga tidak sepenuhnya tepat. Gagasan tentang tujuh keajaiban sudah muncul sebelum dirinya. Sekitar 225 SM, Philo dari Bizantium menulis karya yang dikenal sebagai On the Seven Wonders, salah satu catatan tertua yang secara eksplisit menggunakan konsep tujuh keajaiban. Sebelumnya lagi, sejumlah penulis dunia Yunani seperti Herodotus dan Callimachus dari Kirene telah menaruh perhatian pada bangunan-bangunan monumental yang dianggap luar biasa. Sebagian karya mereka tidak bertahan secara utuh hingga masa kini, sehingga sejarah mengenai daftar pertama tersebut harus direkonstruksi melalui kutipan dan rujukan dari penulis-penulis kemudian.
Dengan demikian, lebih tepat jika Antipater disebut sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan tradisi Tujuh Keajaiban, bukan sebagai seseorang yang tiba-tiba menciptakan konsep tersebut dari nol. Daftar itu tumbuh secara bertahap melalui tulisan para penulis dan pelancong dunia kuno. Beberapa bangunan masuk, beberapa lainnya tidak, dan daftar yang kemudian dikenal luas merupakan hasil dari proses panjang seleksi dan pewarisan tradisi.
Mengapa angka tujuh?
Di sinilah teka-teki terbesar muncul. Tidak ada bukti kuat bahwa Antipater pernah menjelaskan secara khusus mengapa ia memilih tepat tujuh bangunan. Tidak ditemukan catatan rapat atau dokumen yang menyatakan bahwa para penulis kuno sepakat memilih angka tersebut karena alasan tertentu. Namun angka tujuh memang memiliki kedudukan penting dalam kebudayaan dunia kuno, terutama dalam tradisi Timur Dekat dan Mediterania, serta muncul dalam berbagai sistem astronomi, keagamaan, dan simbolik.
Ada kemungkinan angka tujuh dipilih karena telah memiliki makna simbolis yang kuat dan sekaligus mudah digunakan sebagai sebuah daftar yang dapat diingat. Lima mungkin terlalu sedikit untuk menggambarkan keragaman dunia yang dikenal masyarakat Helenistik, sementara sepuluh membuat daftar lebih panjang dan kurang mudah diingat. Tujuh berada di antara keduanya dan secara budaya telah memiliki kesan sebagai angka yang lengkap. Namun penting untuk membedakan antara fakta sejarah dan penafsiran modern: tidak ada bukti bahwa Antipater secara eksplisit mengatakan tujuh adalah jumlah yang “sempurna” untuk daftar keajaiban.
Yang justru dapat dipastikan adalah bahwa tradisi tujuh keajaiban kemudian menjadi sangat kuat. Setelah konsep tersebut diterima dalam tulisan-tulisan dunia kuno, angka tujuh seolah berubah menjadi format baku untuk menyusun daftar tentang pencapaian manusia yang paling mengagumkan. Daftar tersebut kemudian diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, bahkan ketika sebagian besar bangunan yang disebut di dalamnya telah runtuh atau hilang.
Tujuh keajaiban yang tidak pernah benar-benar berdiri bersamaan
Ada ironi besar dalam sejarah Tujuh Keajaiban Dunia. Ketujuh bangunan yang kita kenal sekarang sebenarnya tidak pernah benar-benar berdiri bersamaan dalam satu periode sejarah. Piramida Agung Giza, misalnya, telah berdiri selama ribuan tahun sebelum beberapa keajaiban lainnya dibangun. Bangunan yang kemudian masuk dalam daftar tersebut berasal dari periode yang berbeda-beda dan mengalami nasib yang berbeda pula.
Piramida Giza dibangun pada masa Dinasti Keempat Mesir, sekitar milenium ketiga SM, sebagai bagian dari kompleks pemakaman kerajaan. Berabad-abad kemudian, bangunan-bangunan lain muncul di berbagai wilayah dunia Mediterania dan Timur Dekat. Kuil Artemis dibangun di Efesus, Patung Zeus ditempatkan di Olympia, Mausoleum didirikan di Halikarnassus, Kolosus dibangun di Rhodes, dan Mercusuar Alexandria berdiri di lepas pantai kota Alexandria. Ketika beberapa bangunan tersebut masih berada dalam masa kejayaannya, piramida-piramida Mesir sudah menjadi monumen kuno yang telah menyaksikan pergantian banyak generasi.
Karena itu, Tujuh Keajaiban Dunia bukanlah tujuh bangunan yang pernah dilihat bersama oleh seorang pelancong kuno. Daftar tersebut adalah semacam “album” peradaban yang menyatukan karya-karya monumental dari masa dan tempat berbeda. Yang menyatukan mereka bukan usia, bentuk, fungsi, atau bahkan keberlangsungan bangunannya, melainkan penilaian manusia bahwa semuanya memiliki sesuatu yang luar biasa.
Enam keajaiban telah hilang
Dari tujuh keajaiban kuno yang paling dikenal sekarang, hanya Piramida Agung Giza yang masih berdiri. Enam lainnya telah hilang akibat gempa bumi, perang, perubahan lingkungan, penghancuran manusia, atau proses panjang pelapukan yang tidak dapat dihentikan.
Kolosus Rhodes, misalnya, tidak bertahan lama dibandingkan sebagian besar keajaiban lainnya. Patung raksasa yang menggambarkan dewa Helios itu selesai dibangun sekitar 280 SM dan kemudian roboh akibat gempa bumi pada 226 SM. Bangunan yang begitu besar dan mengesankan itu akhirnya menjadi reruntuhan, tetapi justru kisah kehancurannya membuat namanya terus hidup dalam sejarah.
Kuil Artemis di Efesus mengalami beberapa kali penghancuran dan pembangunan kembali. Mausoleum Halikarnassus juga akhirnya runtuh, sementara Mercusuar Alexandria mengalami kerusakan akibat serangkaian gempa bumi sebelum bagian-bagiannya kemudian digunakan kembali. Patung Zeus di Olympia juga tidak bertahan hingga masa modern.
Nasib Taman Gantung Babilonia bahkan lebih misterius. Berbeda dengan Piramida Giza yang bukti keberadaannya dapat dilihat langsung, keberadaan taman tersebut masih menjadi bahan perdebatan di kalangan sejarawan dan arkeolog. Beberapa sumber kuno menggambarkannya dengan sangat rinci, tetapi bukti arkeologis yang secara meyakinkan memastikan keberadaan taman sebagaimana diceritakan dalam tradisi belum ditemukan. Ada pula hipotesis bahwa kisah tersebut mungkin berkaitan dengan taman monumental di kota lain, terutama Niniwe.
Misteri itu justru memperlihatkan sesuatu yang menarik: sebuah “keajaiban dunia” tidak selalu harus bertahan dalam bentuk fisik agar tetap hidup. Kadang-kadang, cerita tentang sebuah bangunan jauh lebih panjang umur daripada bangunannya sendiri.
Dunia kuno sebenarnya memiliki lebih dari tujuh keajaiban
Jika kita melihat sejarah secara lebih luas, jelas bahwa dunia kuno memiliki jauh lebih banyak bangunan yang dapat disebut luar biasa. Labirin di Hawara, misalnya, pernah digambarkan oleh penulis klasik sebagai kompleks yang sangat mengesankan. Berbagai bangunan di Babilonia, Persia, Mesir, Yunani, dan wilayah lainnya juga memiliki skala dan keindahan yang luar biasa.
Hal ini menunjukkan bahwa Tujuh Keajaiban Dunia sejak awal bukanlah sebuah daftar objektif yang mengatakan bahwa hanya tujuh bangunan tersebut yang layak disebut ajaib. Daftar itu lebih merupakan hasil pilihan budaya dan geografis masyarakat yang menyusunnya. Dunia yang mereka kenal juga jauh lebih sempit dibandingkan pemahaman manusia modern tentang planet ini.
Tidak ada Borobudur dalam daftar kuno tersebut. Tidak ada Angkor Wat. Tidak ada Teotihuacan. Tidak ada Machu Picchu. Bukan karena bangunan-bangunan itu tidak menakjubkan, tetapi karena para penulis Yunani yang menyusun tradisi tersebut hidup pada zaman ketika mereka tidak mengetahui keberadaan atau sejarahnya.
Dengan kata lain, istilah “dunia” dalam Tujuh Keajaiban Dunia Kuno sebenarnya harus dipahami dalam konteks zamannya.
Ketika manusia modern membuat daftar baru
Tradisi itu ternyata tidak berhenti ketika dunia kuno runtuh. Berabad-abad kemudian, berbagai penulis dan organisasi kembali membuat daftar keajaiban. Ada daftar keajaiban abad pertengahan, keajaiban alam, keajaiban dunia modern, hingga daftar tujuh keajaiban dunia baru.
Salah satu yang paling terkenal adalah proyek New7Wonders yang pada 7 Juli 2007 mengumumkan tujuh keajaiban dunia baru berdasarkan pemungutan suara global. Tembok Besar Tiongkok, Petra di Yordania, Colosseum di Roma, Machu Picchu di Peru, Chichén Itzá di Meksiko, Taj Mahal di India, dan Patung Kristus Penebus di Brasil terpilih dalam daftar tersebut. Piramida Giza ditempatkan sebagai kandidat kehormatan karena merupakan satu-satunya keajaiban kuno yang masih bertahan.
Menariknya, proses modern tersebut memperlihatkan bahwa manusia masih menggunakan pola yang sama seperti masyarakat kuno. Dunia telah berubah secara dramatis, teknologi komunikasi telah berkembang, dan manusia sekarang dapat melihat hampir setiap tempat di planet ini melalui satelit atau internet. Namun ketika diminta memilih tempat paling mengagumkan, kita tetap kembali kepada angka tujuh.
Jadi, apakah ada keajaiban kedelapan?
Jawabannya hampir pasti: ada. Bahkan mungkin ada ribuan.
Masalahnya bukan dunia kekurangan keajaiban, melainkan manusia selalu membutuhkan cara untuk menyederhanakan dunia yang terlalu besar untuk diingat. Ketika seseorang menyusun tujuh keajaiban, ia sebenarnya tidak sedang mengatakan bahwa hanya tujuh tempat di dunia yang pantas dikagumi. Ia sedang membuat sebuah pilihan tentang apa yang ingin diwariskan kepada generasi berikutnya.
Karena itu, selalu akan ada “keajaiban kedelapan”. Bangunan yang hampir masuk tetapi kalah populer. Kota yang terlalu jauh dari pusat kebudayaan penyusun daftar. Situs yang belum ditemukan. Atau karya manusia yang baru lahir setelah daftar dibuat.
Dan mungkin justru di situlah daya tarik Tujuh Keajaiban Dunia.
Daftar tersebut tidak pernah benar-benar selesai.
Ia terus berubah mengikuti cara manusia memandang dunia.
Keajaiban bukan hanya tentang batu dan bangunan
Lebih dari dua ribu tahun setelah Antipater dari Sidon menuliskan puisinya, manusia masih menggunakan ungkapan yang sama untuk menggambarkan sesuatu yang membuat kita terdiam karena kagum. Kita masih mengatakan “keajaiban dunia” ketika melihat bangunan yang terlalu besar untuk dibayangkan, lanskap yang terasa tidak nyata, atau karya manusia yang melampaui kemampuan teknologi pada zamannya.
Namun mungkin ada pelajaran yang lebih dalam dari sejarah tersebut.
Piramida Giza bertahan karena batu-batunya. Kolosus Rhodes bertahan dalam bentuk cerita. Taman Gantung Babilonia bertahan sebagai misteri. Kuil Artemis bertahan melalui reruntuhan dan catatan sejarah. Sementara Tujuh Keajaiban Dunia sendiri bertahan karena manusia terus menceritakannya.
Itulah sebabnya pertanyaan “mengapa tujuh?” sebenarnya bukan hanya pertanyaan tentang angka. Ia adalah pertanyaan tentang bagaimana manusia mengingat dunia.
Kita tahu dunia jauh lebih besar daripada tujuh tempat. Kita tahu ada gunung yang lebih tinggi, bangunan yang lebih besar, jembatan yang lebih panjang, kota yang lebih tua, dan karya manusia yang lebih rumit daripada banyak hal yang tercantum dalam daftar kuno tersebut. Namun manusia tetap membutuhkan daftar. Kita membutuhkan beberapa nama untuk mewakili ribuan kemungkinan.
Mungkin karena itulah angka tujuh bertahan begitu lama.
Bukan karena dunia hanya memiliki tujuh keajaiban, melainkan karena tujuh adalah jumlah yang cukup kecil untuk diingat, tetapi cukup besar untuk membuat kita merasa bahwa kita telah menyentuh sebagian dari kebesaran dunia.
Dan di luar tujuh nama itu, selalu ada kemungkinan keajaiban berikutnya.
Sebuah tempat yang belum kita kunjungi, sebuah reruntuhan yang belum ditemukan, sebuah bangunan yang belum selesai dibangun, atau mungkin sesuatu yang selama ini ada di depan mata tetapi belum pernah kita lihat dengan cara yang benar.
Sebab sejak zaman Antipater hingga zaman internet, rasa ingin tahu manusia sebenarnya tidak banyak berubah.
Kita tetap ingin mengetahui satu hal yang sama: di luar sana, apa lagi yang menakjubkan?






