Soerab. Handelsblad (Koran Belanda yang terbit di Kota Surabaya kala itu – Red) memberitakan guncangan gempa bumi yang hebat dirasakan di Donggala. Guncangan tersebut bergerak dalam arah utara–selatan.
Kantor Asisten Residen di Donggala sebagian runtuh. Di Palu, dua bangunan pasar (passarloodsen) roboh dan dermaga sebagian tersapu. Di Biromaru, sebuah bangunan pasar hancur dan kantor pemerintahan setempat mengalami kerusakan berat.
Sebuah gelombang pasang (Tsunami – Red) di Teluk Palu menyebabkan kerusakan pada rumah-rumah penduduk pribumi. Empat belas orang tewas dan lima puluh orang mengalami luka-luka. Kerugian diperkirakan mencapai f50.000.
Gubernur Jenderal telah menyampaikan belasungkawa atas bencana tersebut. Asisten Residen di Donggala diberi wewenang untuk memberikan bantuan, dan dalam pelaksanaannya ia dapat menggunakan dana yang tersedia dalam kas lanskap.
Wilayah yang dilanda bencana
Bencana alam yang disebutkan dalam telegram yang disampaikan oleh Aneta (Algemeen Nieuws- en Telegraaf-Agentschap – kantor berita pertama di Hindia Belanda yang didirikan oleh Dominique Willem Berretty pada 1 April 1917 di Jakarta – Red) tersebut terjadi di bagian barat laut Celebes, di wilayah ketika bagian tengah pulau itu menyempit ke arah utara dan kemudian berlanjut menjadi jalur berbentuk seperti panji yang sebagian besar membentang dari barat ke timur.
Teluk Palu merupakan sebuah teluk yang sangat dalam di pantai barat Celebes. Teluk tersebut membentang kira-kira dari utara ke selatan, dengan panjang sekitar 30 kilometer dan lebar sekitar 7 kilometer.
Di bagian dalam teluk, pantainya rendah dan berlanjut menjadi dataran luas yang secara perlahan meninggi. Dataran tersebut ditutupi persawahan dan dilalui oleh Sungai Palu.
Sisi barat dan timur teluk berupa wilayah tinggi. Dengan jalur pantai yang sempit, pegunungan tersebut menjulang curam dari laut hingga mencapai ketinggian sekitar 2.000 meter.
Di sepanjang pantainya terdapat sejumlah kampung, dengan yang terpenting adalah Donggala, yang terletak di sudut barat laut teluk dan memiliki perairan labuh yang cukup baik.
Pada bulan Juli hingga September, kondisi di teluk tersebut terkadang cukup ganas ketika bertiup hembusan angin timur laut yang dikenal sebagai “baroeboe”.
Donggala merupakan ibu kota lanskap yang memiliki pemerintahan sendiri, Banawa, sekaligus menjadi tempat kedudukan Asisten Residen Celebes Tengah dan Kontrolir Donggala. Kapal-kapal KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij) secara teratur singgah di sana.
Penduduk Donggala tidak lebih dari beberapa ribu jiwa dan sebagian besar terdiri atas orang Bugis. Di sana juga terdapat permukiman Tionghoa dan Arab yang makmur.
Donggala tidak memiliki daerah pedalaman yang penting. Palu berukuran sekitar satu setengah kali lebih besar daripada Donggala dan terletak di bagian dalam teluk. Dari Palu, hasil-hasil bumi dari daerah pedalaman diangkut dengan perahu-perahu (prahu) menuju Donggala.
Di seluruh wilayah tersebut hanya terdapat beberapa puluh orang Eropa.
Gubernur Jenderal De Graeff, dalam perjalanannya ke bagian timur Kepulauan Hindia, juga pernah mengunjungi Teluk Palu.
Gempa bukan vulkanik
Dari berbagai laporan tersebut dapat disimpulkan bahwa peristiwa ini merupakan gempa bumi nonvulkanik.
Menurut penjelasan para ahli geologi, Celebes memiliki bentuk yang sangat khas dan tidak beraturan karena letaknya berada di kawasan pertemuan dua jalur besar kerak bumi yang tidak stabil. Pergeseran bawah tanah yang terjadi di kawasan tersebut menimbulkan berbagai gejala di permukaan bumi, seperti yang kembali dilaporkan dalam peristiwa ini.
Fenomena semacam itu memang sering terjadi di bagian patahan bumi ini.
Catatan Redaksi PaluEkspres.com:
- Gempa bumi dan tsunami Teluk Palu yang dilaporkan oleh Koran Belanda ini terjadi pada 1 Desember 1927. Gempa dengan kekuatan sekitar magnitudo 6,2 hingga 6,5 ini memicu gelombang tsunami besar setinggi hingga 15 meter di pesisir Teluk Palu, yang menyebabkan 14 hingga 50 orang meninggal dunia serta puluhan lainnya luka-luka. Gempa ini dipicur pergerakan Sesar Palu Koro. Ada perbedaan pencatatan terkait peristiwa ini, dalam koran-koran Belanda ditulis Kamis sore atau tanggal 2 Desember 1927, namun dalam data termuktahir tercatat pada Rabu pagi, 1 Desember 1927. Data dari USGS – United State of America Geological Survey juga mencatat gempabumi itu terjadi pada 1 Desember 1927.
- Detail Peristiwa:
- Waktu kejadian: 1 Desember 1927
- Sumber gempa: Aktivitas tektonik lokal di sekitar Teluk Palu/Watusampu.
- Dampak: Tsunami dengan tinggi 8 meter – 15 meter menghantam bagian pantai selatan dan timur Teluk Palu.
- Korban: Tercatat 14 jiwa meninggal dunia dan sekitar 50 orang mengalami luka-luka
- Koran Belanda yang melaporkan ini adalah De Volkskrant di bawah tajuk: “Aardschokken op Celebes. Veertien dooden, vijftig gewonden” yang terbit pada 5 Desember 1927






