PALU, PALUEKSPRES.COM – Pelajar asal Kota Palu, Sulawesi Tengah, Aflah Riztaniarani (16), mendapat kesempatan mengikuti program pertukaran pelajar ke Norwegia. Siswa kelas XI SMA Model Terpadu Madani itu kini menjalani pendidikan di Oslo, ibu kota Norwegia.
Aflah ditempatkan di Edward Munch VGS, salah satu sekolah yang berada di pusat Kota Oslo. Ia tiba di Norwegia pada 4 September 2026 dan akan mengikuti program pertukaran pelajar selama sekitar 11 bulan.
Program tersebut merupakan kerja sama AFS dengan Yayasan Bina Antarbudaya, organisasi yang selama ini memfasilitasi pelajar Indonesia untuk mengikuti program pertukaran pelajar ke berbagai negara.
Pada periode 2026-2027, Yayasan Bina Antarbudaya mengirim 53 pelajar terpilih dari berbagai daerah di Indonesia untuk mengikuti program pertukaran pelajar ke sejumlah negara.
Aflah menjadi satu-satunya pelajar dari Indonesia yang mendapat penempatan di Norwegia dalam program tersebut.
Selama berada di Oslo, Aflah tinggal bersama keluarga angkat atau host family. Menurut dia, proses adaptasi di lingkungan baru relatif lebih mudah karena keluarga angkatnya memiliki pengalaman mengikuti program pertukaran pelajar.
“Alhamdulillah, host family saya juga merupakan alumni pertukaran sehingga adaptasinya lebih cepat. Bapak dan mama angkat saya pernah mengikuti pertukaran pelajar di Amerika Serikat. Demikian pula dengan host sister saya,” kata Aflah.
Persiapan Sejak SMP
Untuk bisa mengikuti program pertukaran pelajar tersebut, Aflah harus melewati proses seleksi yang berlangsung hampir satu tahun.
Namun, menurutnya, persiapan sebenarnya sudah dilakukan sejak duduk di bangku SMP. Selain memiliki prestasi akademik yang baik, peserta juga dituntut aktif mengikuti berbagai kompetisi serta kegiatan organisasi di dalam maupun luar sekolah.
“Kalau persiapannya sudah sejak SMP karena untuk mengikuti seleksi, seorang pelajar harus memiliki nilai akademik yang baik, aktif mengikuti kompetisi, dan organisasi intra maupun luar sekolah,” ujarnya.
Aflah mengatakan kesempatan mengikuti pertukaran pelajar bukan semata-mata untuk mendapatkan pengalaman belajar di luar negeri.
Pelajar yang juga menjabat sebagai sekretaris Youth That Care, komunitas yang bergerak di bidang kepedulian lingkungan, itu ingin memanfaatkan program tersebut untuk mengembangkan diri sekaligus belajar hidup lebih mandiri.
“Saya ingin mengembangkan diri dan melatih kemandirian. Termasuk meningkatkan penguasaan bahasa asing, mengeksplorasi budaya, serta menambah wawasan global,” tutur Aflah.
Keluarga Sudah Berpengalaman dengan Program Pertukaran
Bagi keluarga Aflah, program pertukaran pelajar sebenarnya bukan pengalaman yang benar-benar baru.
Sang kakak sebelumnya telah mengikuti program pertukaran pelajar ke Texas, Amerika Serikat, pada 2021-2022.
Pengalaman itu kemudian turut memperkenalkan keluarga Aflah pada kehidupan dalam program pertukaran budaya antarnegara.
Bahkan pada tahun ini, keluarga Aflah sempat menjadi host family bagi seorang pelajar asal North Carolina, Amerika Serikat, selama satu pekan.
Kini giliran Aflah yang menjalani pengalaman serupa di luar negeri. Selama hampir satu tahun di Norwegia, ia akan belajar di lingkungan sekolah dan keluarga yang berbeda sekaligus mengenal secara langsung kehidupan, budaya, dan masyarakat setempat.
Bagi Aflah, pengalaman tersebut diharapkan tidak hanya memperluas wawasan, tetapi juga menjadi bekal untuk melihat Indonesia dan dunia dari perspektif yang lebih luas.






