Senin, 21 September 2026

Belomaru, atau Biromaru? Jejak Sebuah Nama yang Bertahan Lebih dari Tiga Abad

Dua Tadulako Sigi dalam pakaian perang sekitar 1930 . (Foto: https://digitalcollections.universiteitleiden.nl)
Dua Tadulako Sigi dalam pakaian perang sekitar 1930 . (Foto: https://digitalcollections.universiteitleiden.nl)

Jauh sebelum Biromaru menjadi nama sebuah kecamatan di Kabupaten Sigi, nama itu telah melewati beragam bentuk tulisan dalam catatan orang Eropa, utamanya Belanda. Namanya ditulis – dalam ejaan lama – sebagai Belomaroe, Bizemaroe, hingga Biromaroe. 

Dari penelusuran Arsip VOC, buku-buku kolonial, laporan pemerintahan dan publikasi etnografi memperlihatkan perbedaan penulisan itu, sejak 1800-an hingga 1900-an. 

Untuk diketahui dari 1901–1947, sebagai tanah jajahan Belanda, kita menggunakan Ejaan van Ophuijsen yang merupakan standarisasi ejaan Melayu Hindia yang menggunakan “oe” untuk huruf “u”, “tj”untuk “c” dan “dj” untuk “j”

Jadi jika dalam arsip lama kolonial tertulis sebagai Biromaroe, maka itu maksudnya adalah Biromaru. Bila di tempat lain menjadi Belomaroe, itu maksudnya Belomaru, begitu pun seterusnya. Ada pula muncul Beromaroe. Bahkan dalam sumber yang lebih tua, kita menemukan bentuk Bizemaroe.

Bagi pembaca sekarang, variasi itu mudah dianggap sebagai persoalan salah eja. Tetapi jika nama-nama tersebut muncul berulang kali selama lebih dari dua abad, kita mesti berpikir, mana yang betul, seperti Makassar yang dulunya bernama Jumpandang, lalu Ujung Pandang..

Tentu tak salah kita berpikir bahwa mungkin yang berubah bukan tempatnya. Tapi, mungkin cara orang menuliskannya yang berubah.

Dan di situlah cerita Belomaroe/Belomaru—atau Biromaru—menjadi menarik.

Saya tertarik menelusurinya saat sahabat, Dr. Achmad Herman, S.Sos., M.Si, akademisi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Tadulako Palu juga menceritakan soal itu.

“Saat kali pertama diterima jadi dosen di Untad tahun 2003, ada orang Mandar dari kampung halaman bertanya ke kerja di mana? Saya bilang di Palu, Sulawesi Tengah. Lalu dia dia bilang ada wilayah di sana namanya Belomaru. Saya berpikir bahwa itu adalah Biromaru kini,” ungkap pengajar Ilmu Komunikasi ini.

Sebuah nama sudah ada ketika VOC masih berkuasa

Catatan paling tua membawa kita ke awal abad ke-18.

Dalam arsip VOC tahun 1709, terdapat catatan mengenai seorang penguasa dari Biromaroe. Ia disebut sebagai “den nieuwe verkooren Coning van biromaroe”, raja baru yang terpilih dari Biromaroe. Catatan tersebut berkaitan dengan kedatangan orang-orang Biromaroe ke Makassar untuk menyampaikan berita tentang pengangkatan penguasa mereka. (Nationaal Archief, VOC, arsip tahun 1709; transkripsi tersedia melalui Open Archieven).

Yang menarik bukan sekadar munculnya nama itu.

Dokumen tersebut memperlihatkan bahwa Biromaroe bukanlah sebuah nama geografis kosong. Di sana ada raja, struktur kekuasaan dan aturan mengenai pergantian penguasa.

Dalam catatan yang sama, VOC juga menggambarkan hubungan Biromaroe dengan Paloe.

Jadi tentu, saat seorang pejabat VOC menulis biromaroe pada 1709, ia sedang mencatat sebuah entitas politik yang sudah dikenal di kawasan itu—bukan menciptakan nama baru.

Jejak tersebut penting karena menempatkan sejarah Biromaru jauh sebelum pembentukan pemerintahan kolonial modern.

Valentijn menulisnya dengan cara berbeda

Variasi ejaan ternyata sudah muncul sejak abad ke-18.

Dalam Ethnographical Studies in Celebes, Walter Kaudern membahas Biromaroe dan merujuk catatan misionaris Belanda, François Valentijn (1666–1727) . Untuk tahun 1724, nama tersebut muncul dalam bentuk Bizemaroe.

Perbedaan antara Bizemaroe dan Biromaroe memberi kita gambaran tentang satu persoalan yang akan terus berulang dalam arsip Sulawesi: nama-nama lokal ditulis oleh orang luar berdasarkan apa yang mereka dengar dari pemukim lokal dan sistem ejaan mereka sendiri.

Valentijn menulis apa yang ia dengar. Pejabat VOC lain bisa menuliskannya dengan cara berbeda. Administrator kolonial beberapa generasi kemudian akan menggunakan bentuk yang berbeda lagi.

Sebab itu, ketika kita membaca arsip kolonial, kita tidak bisa selalu memperlakukan perbedaan satu atau dua huruf sebagai bukti bahwa yang dimaksud adalah tempat yang berbeda.

Salah satu sumber yang sangat menarik justru bukan arsip pemerintahan, melainkan sebuah buku yang ditulis untuk pembaca Belanda.

Buku itu adalah Nederlandsch Oost-Indië beschreven en afgebeeld voor het Nederlandsche volk, karya Pieter Antonie van der Lith, diterbitkan oleh E.J. Brill, Leiden. Edisi kedua karya tersebut terbit dalam dua bagian pada 1893–1894. Data bibliografis Rijksmuseum dan WorldCat mengonfirmasi Van der Lith sebagai penulis dan Brill sebagai penerbit di Leiden.

Buku tersebut bukan catatan kecil.

Ia merupakan usaha untuk memberikan gambaran mengenai wilayah, masyarakat, sejarah dan pemerintahan Hindia Belanda kepada pembaca di negeri Belanda.

Dan di dalam buku, Pieter Antonie van der Lith menamai Biromaru yang kita kenal kini sebagai Belomaroe.

Pada bagian yang membahas pemerintahan di Celebes, ia menjelaskan hubungan sejumlah negeri di kawasan tersebut dengan kerajaan Palu.

Ia menulis bahwa Sigi, Dolo dan Belomaroe sebelumnya dimasukkan dalam sebuah kontrak dengan Palu dan dianggap sebagai wilayah yang berada di bawah kerajaan tersebut.

Tetapi, tulis Van der Lith, anggapan itu kemudian diketahui keliru.

Pemerintah kolonial pun berusaha mengatur hubungan ketiga wilayah tersebut dengan pemerintahan kolonial melalui kontrak tersendiri. (Nederlandsch Oost-Indië beschreven en afgebeeld voor het Nederlandsche volk, bagian Celebes, hlm. 326 dalam penomoran buku; salinan digital yang diperiksa menunjukkan teks pada halaman PDF 366).

Ada sesuatu yang penting di sini.

Belomaroe bukan sekadar nama yang lewat dalam sebuah daftar.

Nama itu ditempatkan dalam konteks politik yang nyata, bersama Sigi dan Dolo, dan dalam hubungan dengan Palos/Palu.

Dengan demikian, buku Van der Lith memberi kita bukti bahwa pada akhir abad ke-19 Belomaroe merupakan nama yang digunakan dalam pembahasan politik-administratif mengenai kawasan Palu dan Sigi.

1890: Belomaroe berada dalam persoalan politik Palu

Keterangan Van der Lith juga memberi kita tanggal penting.

Ia menyebut bahwa pada 1890, empat negeri yang tergabung dalam kelompok yang disebut Masinrimpoeloe (Masinrimpulu merujuk pada masyarakat Enrekang, Sulawesi Selatan yang berdiam di gunung-gunung – red) telah membuat kontrak dengan pemerintah kolonial. Dalam bagian berikutnya ia membicarakan hubungan berbagai negeri di Celebes dengan pemerintah kolonial.

Kemudian nama Sigi, Dolo dan Belomaroe muncul dalam pembahasan mengenai kontrak dengan Palos.

Kalimat ini menunjukkan bahwa pada akhir abad ke-19 Belomaroe sudah berada di dalam radar administrasi kolonial sebagai sebuah landschap atau negeri politik.

Dan di sini kita mendapatkan sesuatu yang tidak diberikan oleh sekadar daftar nama.

Kita mendapatkan konteks.

Belomaroe berada dalam dunia kerajaan-kerajaan lokal, kontrak politik, hubungan vasal dan perluasan kekuasaan pemerintah kolonial.

Koran kolonial De Sumatra Post edisi 29-08-1902 juga menuliskannya sebagai Belomaroe.

Tetapi mengapa Biromaroe tetap muncul?

Inilah bagian yang membuat persoalan ini menarik.

Ketika administrasi kolonial menggunakan Belomaroe, para penulis etnografi tidak selalu mengikuti ejaan tersebut.

Nicolaus Adriani dan Albert C. Kruyt, dua nama penting dalam penelitian mengenai Sulawesi Tengah, menggunakan bentuk Biromaroe dalam karya-karya mereka.

Jadi pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, kita tidak sedang melihat satu nama yang mati lalu digantikan oleh nama lain.

Kita justru melihat beberapa bentuk hidup bersamaan.

Administrasi: Belomaroe.

Etnografi: Biromaroe.

Sumber lain: Beromaroe.

Dan kemudian: Biromaru.

Ini membuat hipotesis “Belomaroe berubah menjadi Biromaru” menjadi terlalu sederhana.

Tahun 1912: Beromaroe muncul

Variasi itu bahkan masih terlihat pada awal abad ke-20.

Pada 1912, W.G. Hissink menggunakan bentuk Beromaroe dalam judul kajiannya:

Nota van toelichting betreffende de zelfbesturende landschappen Paloe, Dolo, Sigi en Beromaroe.

Nama tersebut ditempatkan bersama Paloe, Dolo dan Sigi sebagai wilayah pemerintahan sendiri di kawasan tersebut.

Satu nama, lagi-lagi, memiliki bentuk lain.

Belomaroe.

Beromaroe.

Sementara dalam literatur etnografi, Biromaroe tetap digunakan.

Bahkan 1917 Belomaroe belum hilang

Kalau memang Belomaroe telah resmi diganti sebelum 1920-an, kita seharusnya tidak lagi menemukannya dalam sumber administratif.

Tetapi kita menemukannya.

Regeerings-Almanak voor Nederlandsch-Indië tahun 1917 masih mencatat Belomaroe (of Beromaroe) bersama Sigi, Dolo dan Koelawi dalam wilayah Paloe.

Ini adalah petunjuk kronologis yang penting.

Pada 1917, bentuk Belomaroe/Beromaroe masih hidup dalam nomenklatur kolonial.

Dengan demikian, belum ada alasan kuat untuk menyatakan bahwa pemerintah kolonial telah melakukan sebuah “penggantian nama” resmi menjadi Biromaru pada masa itu.

Lalu datang Sigi-Biromaru

Jejak yang lebih dekat dengan nama modern mulai terlihat pada dekade 1920-an.

Dalam kajian historis-geografis mengenai Sulawesi Tengah yang merujuk Logeman (1922), Onderafdeeling Palu disebut memiliki empat landschappen: Palu, Dolo, Sigi-Biromaru dan Kulawi. Logeman sendiri adalah politikus Belanda yang kemudian bertugas di Indonesia pada kurun waktu 1945-1946 sebagai Menteri Urusan Tanah Jajahan atau Menteri Teritori Seberang Lautan Belanda (Minister of Overseas Territory, Minister van Overzeese Gebiedsdelen) pada Kabinet Schermerhorn/Drees

Di sinilah bentuk yang kita kenal sekarang mulai tampil semakin jelas: Sigi-Biromaru.

Namun kita harus berhati-hati.

Kemunculan bentuk tersebut tidak otomatis berarti bahwa pada 1922 pemerintah kolonial mengeluarkan keputusan yang berbunyi:

Belomaroe diganti menjadi Biromaroe/Biromaru.

Dokumen yang tersedia lebih mendukung kesimpulan yang lebih sederhana: standardisasi nama berlangsung bertahap, sementara beberapa bentuk tetap digunakan dalam waktu yang bersamaan.

Jadi, kapan Belomaroe menjadi Biromaroe?

Setelah mengikuti jejak dokumen tersebut, pertanyaan itu ternyata harus sedikit diubah.

Bukan: “Kapan Belomaroe berubah menjadi Biromaroe?”

Melainkan: “Kapan bentuk Biromaroe menjadi bentuk yang dominan setelah berabad-abad ditulis dengan berbagai ejaan?”

Itulah pertanyaan yang lebih sesuai dengan bukti.

Sebab Biromaroe sudah ada pada awal abad ke-18.

Bizemaroe muncul dalam sumber abad ke-18.

Belomaroe digunakan dalam dokumen politik dan administratif akhir abad ke-19.

Beromaroe masih digunakan pada awal abad ke-20.

Dan Sigi-Biromaru tampil semakin jelas pada dekade 1920-an.

Jadi sejarahnya bukan garis lurus: Belomaroe → Biromaru.

Melainkan lebih mirip: Biromaroe → berbagai ejaan → Belomaroe/Beromaroe → Biromaru.

Atau, lebih tepat lagi, beberapa bentuk tersebut hidup berdampingan sebelum akhirnya bentuk Biromaru menjadi bentuk modern yang mapan.

Belomaroe bukan nama yang tiba-tiba lahir

Ada satu hal lain yang juga perlu ditegaskan.

Ketika Van der Lith menulis Belomaroe pada akhir abad ke-19, ia tidak sedang menemukan sebuah tempat baru.

Nama itu sudah memiliki sejarah politik.

Buku tersebut bahkan menunjukkan bahwa Sigi, Dolo dan Belomaroe telah ditempatkan dalam hubungan politik dengan Palos/Palu dan kemudian menjadi bagian dari upaya pemerintah kolonial mengatur kembali hubungan antarwilayah melalui kontrak.

Dengan demikian, Belomaroe merupakan bagian dari lanskap politik Sulawesi Tengah pada masa itu, bukan sekadar variasi nama di peta.

Sebuah nama ternyata menyimpan sejarah kekuasaan

Ada alasan mengapa pencarian satu kata di arsip tua bisa membawa kita begitu jauh. Nama tempat sering terlihat sederhana.

Tetapi di belakangnya ada sejarah kekuasaan. Siapa yang memerintah? Siapa yang menjadi bawahan? Siapa yang membuat kontrak? Siapa yang berhak memilih raja?

Dan siapa yang memiliki kewenangan untuk menuliskan nama sebuah negeri di dalam dokumen resmi?

Dalam arsip VOC 1709, Biromaroe muncul bersama seorang raja baru dan mekanisme politik lokal.

Dalam buku Van der Lith, Belomaroe muncul bersama Sigi dan Dolo dalam pembicaraan mengenai hubungan politik dengan Palos/Palu.

Dalam sumber administratif awal abad ke-20, Beromaroe masih digunakan.

Kemudian Sigi-Biromaru muncul.

Sebuah nama telah berjalan melintasi perubahan zaman.

Biromaru yang kita kenal hari ini

Hari ini Sigi Biromaru merupakan nama sebuah kecamatan di Kabupaten Sigi. Populasinya tidak kurang dari 47.710 jiwa yang mendiami wilayah seluas kurang lebih 165 kilometer persegi. 

Tetapi jika melihat ke belakang, umur nama tersebut jauh lebih panjang daripada umur administrasi modernnya.

Ia telah melewati zaman VOC.

Ia muncul ketika kerajaan-kerajaan lokal masih menjadi aktor penting dalam politik Sulawesi. Ia dicatat oleh pejabat Belanda. Ia ditulis ulang oleh peneliti etnografi. Ia masuk ke buku-buku yang diterbitkan di Leiden.

Dan akhirnya ia menjadi bagian dari nama administratif yang kita kenal sekarang.

Karena itu, mungkin kalimat yang paling aman untuk sementara bukan: “Belomaroe berubah menjadi Biromaru.”

Melainkan: “Biromaru merupakan nama lama yang selama berabad-abad direkam dalam berbagai bentuk ejaan kolonial, antara lain Biromaroe, Bizemaroe, Belomaroe dan Beromaroe. Belomaroe menjadi bentuk penting dalam dokumen administratif dan politik kolonial pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, sementara Biromaroe tetap hidup dalam literatur etnografi. Memasuki dekade 1920-an, bentuk Sigi-Biromaru tampil semakin jelas dalam nomenklatur administratif.”

Dan mungkin di situlah letak kisah yang sebenarnya. Yang berubah bukan negerinya. Yang berubah adalah cara orang menuliskan namanya.

Dan di antara satu huruf dengan huruf lainnya, tersimpan lebih dari tiga abad sejarah Sigi.

Bibliografi dan sumber arsip

Buku

Lith, Pieter Antonie van der. Nederlandsch Oost-Indië beschreven en afgebeeld voor het Nederlandsche volk. 2e geheel omgewerkte druk. Leiden: E.J. Brill, 1893–1894, 2 jilid. Buku ini merupakan salah satu sumber penting untuk penyebutan Belomaroe dalam konteks politik Celebes; bagian yang diperiksa memuat pembahasan Sigi, Dolo dan Belomaroe serta hubungan ketiganya dengan Palos/Palu.

Kaudern, Walter. Ethnographical Studies in Celebes: Migrations of the Toala, Toradja and other peoples of the East Indies. Stockholm: Ivar Haeggström, 1925. Kaudern membahas berbagai kelompok dan nama tempat di Sulawesi serta merujuk sumber-sumber lebih tua, termasuk Valentijn.

Adriani, Nicolaus & Albert C. Kruyt. Karya-karya etnografi dan linguistik mengenai wilayah Sulawesi Tengah, akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Keduanya penting karena bentuk Biromaroe tetap digunakan dalam tradisi etnografi, berbeda dari kecenderungan ejaan administratif Belomaroe.

Arsip dan sumber kolonial

Nationaal Archief, VOC. Arsip VOC tahun 1709, mengenai penguasa baru Biromaroe dan hubungan politiknya dengan Paloe. Transkripsi digital tersedia melalui Open Archieven.

Nederlandsch Oost-Indië beschreven en afgebeeld voor het Nederlandsche volk, hlm. sekitar 326–327, bagian pembahasan pemerintahan Celebes. Dokumen menyebut Sigi, Dolo dan Belomaroe serta hubungan politiknya dengan Palos/Palu.

Regeerings-Almanak voor Nederlandsch-Indië, 1917. Mencatat bentuk Belomaroe (of Beromaroe) dalam daftar landschappen wilayah Paloe.

Hissink, W.G. “Nota van toelichting betreffende de zelfbesturende landschappen Paloe, Dolo, Sigi en Beromaroe.” Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, vol. 54, 1912.

Surat kabar dan publikasi digital

Delpher, Koninklijke Bibliotheek Nederland — korpus surat kabar, buku, majalah dan publikasi Belanda yang perlu digunakan untuk melacak variasi Belomaroe, Biromaroe, Beromaroe dan Biromaru menurut tahun.

Leiden University Libraries Digital Collections / KITLV, koleksi publikasi kolonial, peta, foto, manuskrip dan karya etnografi mengenai Celebes/Sulawesi.

Nationaal Archief Nederland, koleksi VOC dan arsip pemerintahan kolonial Hindia Belanda.

Katalog dan salinan digital

Katalog Rijksmuseum mencatat karya Van der Lith sebagai Nederlandsch Oost-Indië beschreven en afgebeeld voor het Nederlandsche volk, terbit 1893–1894, dengan Brill di Leiden sebagai penerbit.

Google Books juga menyediakan rekaman bibliografis edisi 1893, dengan Pieter Antonie van der Lith sebagai pengarang dan E.J. Brill sebagai penerbit.

WorldCat mencatat edisi kedua sebagai 2e geheel omgewerkte druk, diterbitkan E.J. Brill, Leiden, 1893–1894.

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam