Oleh: Indah Sari Purna Lumeno dan Sufina Pinto*
Kita terbiasa memandang rumah sakit sebagai tempat orang dipulihkan. Jarang kita bertanya apakah rumah sakit juga tempat yang aman bagi orang yang bekerja di dalamnya. Pertanyaan ini terdengar janggal, tetapi data menunjukkan bahwa sebagian pekerja rumah sakit pulang membawa bising di telinga, panas di tubuh, dan lelah yang terus menumpuk.
Masalahnya jarang muncul di ruang praktik dokter atau bangsal perawatan yang rapi. Ia muncul di bagian belakang gedung yang tidak pernah dilihat pengunjung, yaitu ruang laundri, dapur instalasi gizi, ruang sterilisasi (CSSD), dan ruang boiler. Di sanalah mesin cuci industri berdengung sepanjang hari, kompor dan pengukus menyala tanpa henti, dan pekerja mendorong troli makanan dari bangsal ke bangsal.
Angkanya tidak bisa dianggap remeh. Sebagai contoh, misalnya di salah satu instalasi gizi rumah sakit, suhu ruang tercatat 29,8°C, ini melampaui nilai ambang batas 28°C. Lalu, lebih dari separuh petugasnya mengalami kelelahan tingkat tinggi. Lalu ada pula insiden, di mana ada pekerja yang tersiram minyak panas dan air mendidih. Di bagian laundri juga misalnya, saat suhu rata-rata 32,1°C, dan enam dari sepuluh pekerjanya mengeluh lelah, pusing, dan sulit fokus. Di ruang pencucian laundri sebuah rumah sakit di Surabaya tercatat kebisingan awalnya terukur 85,37 dBA, dan tidak satu pun pekerja memakai pelindung telinga. Di sebuah rumah sakit pendidikan di India, hampir dua pertiga pekerja non-medis yang diperiksa mengalami gangguan pendengaran sensorineural. Risiko itu naik tajam pada mereka yang sudah bekerja lebih dari sepuluh tahun.
Mereka bukan dokter atau perawat yang wajahnya muncul di baliho rumah sakit. Mereka tukang cuci linen, juru masak, dan petugas sterilisasi. Tanpa mereka, tidak ada linen bersih, tidak ada makanan pasien, dan tidak ada alat bedah yang steril. Namun dalam praktik keselamatan dan kesehatan kerja rumah sakit (K3RS), merekalah yang paling sering terlewat.
Kelelahan pekerja adalah masalah keselamatan pasien
Ada anggapan bahwa kelelahan pekerja adalah urusan pribadi, cukup diselesaikan dengan tidur lebih awal. Anggapan ini keliru dan berbahaya. Uji acak di Imperial College London menunjukkan bahwa tenaga kesehatan yang memakai APD aerosol selama dua jam mengalami kenaikan suhu inti hingga 38,1°C dan denyut jantung hingga 121 kali per menit. Waktu yang mereka butuhkan untuk melakukan intubasi pada manekin juga bertambah. Yang paling mengkhawatirkan, para peserta tidak menyadari bahwa kinerja mereka terus menurun setelah lama terpapar panas.
Artinya, pekerja yang kelelahan karena panas bisa merasa baik-baik saja padahal ketelitiannya sudah merosot. Di dapur, akibatnya bisa berupa luka bakar. Di ruang sterilisasi, akibatnya bisa berupa alat yang tidak tersterilkan sempurna. Di ruang tindakan, akibatnya bisa berupa kesalahan yang dibayar pasien. Keselamatan pekerja dan keselamatan pasien tidak bisa dipisahkan.
Konteks iklim kita membuat persoalan ini lebih mendesak. Penelitian di rumah sakit universitas di Jerman menemukan bahwa pada musim panas, dengan suhu ruang rata-rata 26,5°C, sebagian besar pengukuran suhu tubuh tenaga kesehatan melampaui 37,5°C. Para peneliti di sana menyebutnya sebagai alarm dan merekomendasikan rompi pendingin. Padahal suhu yang dianggap musim panas di Jerman adalah suhu biasa sepanjang tahun di banyak dapur dan laundri rumah sakit kita, bahkan sering lebih tinggi.
APD bukan jawaban pertama
Tanggapan paling umum terhadap bahaya fisik di rumah sakit adalah menyuruh pekerja memakai APD. Dalam hierarki pengendalian risiko, APD justru menempati urutan terakhir setelah eliminasi, substitusi, pengendalian teknik, dan pengendalian administratif. Menjadikan APD sebagai pilihan pertama sama saja dengan memindahkan tanggung jawab dari manajemen ke tubuh pekerja.
Data dari Surabaya memberi pelajaran penting. Setelah mesin pengering diganti, kebisingan di ruang pencucian turun ke rata-rata 75,78 dBA, di bawah baku mutu. Satu keputusan teknis menurunkan paparan lebih efektif daripada imbauan memakai sumbat telinga yang tidak pernah dipatuhi. Meski begitu, seluruh pekerja di sana masih melaporkan keluhan non-pendengaran tingkat sedang hingga tinggi. Ini menandakan pengendalian belum selesai hanya karena angka sudah di bawah ambang batas.
Contoh dari Semarang juga patut diperhatikan. Recovery room yang disediakan manajemen terbukti menurunkan tingkat kelelahan pekerja laundri secara bermakna. Namun ruangan itu hanya muat sekitar enam orang, dipakai bersama oleh laki-laki dan perempuan, dan banyak pekerja menganggap istirahat di mana pun sama saja. Niat baik tanpa kapasitas dan edukasi yang memadai hanya menghasilkan fasilitas yang jarang dipakai.
Yang harus berubah
Pertama, pengukuran lingkungan kerja harus menjangkau unit penunjang secara rutin, bukan hanya menjelang akreditasi. Kebisingan, suhu, dan pencahayaan di laundri, dapur, CSSD, dan ruang boiler perlu diukur berkala dan hasilnya diumumkan kepada pekerja.
Kedua, anggaran pengendalian harus mendahulukan solusi teknik, seperti peredam dan enclosure mesin, ventilasi dan exhaust yang layak, serta penggantian peralatan tua yang bising. Biaya ini lebih kecil daripada biaya cedera, gangguan pendengaran permanen, dan kesalahan kerja.
Ketiga, rumah sakit perlu mengatur jadwal kerja dan istirahat bagi pekerja di area panas, termasuk tenaga kesehatan yang lama memakai APD tertutup. Ruang pemulihan harus cukup luas, menjaga privasi, dan disertai edukasi tentang manfaatnya.
Keempat, pemeriksaan pendengaran sebelum dan selama bekerja perlu menjadi standar bagi pekerja di area bising. Rotasi kerja juga perlu diterapkan, terutama bagi mereka yang sudah lebih dari sepuluh tahun terpapar.
Kelima, pelaporan kejadian nyaris celaka (near miss) di unit penunjang harus dihidupkan. Insiden yang tidak dicatat tidak akan pernah dicegah. Kelelahan pekerja juga layak masuk ke dalam indikator keselamatan pasien, bukan hanya catatan bagian kepegawaian.
Regulasinya sudah ada, mulai dari UU Keselamatan Kerja 1970 hingga Permenkes tentang K3RS. Yang belum ada adalah keseriusan menjalankannya hingga ke ruang-ruang yang tidak pernah dikunjungi tim penilai. Rumah sakit yang baik tidak hanya diukur dari angka kesembuhan pasiennya, tetapi juga dari kondisi pekerja yang pulang setiap sore. Jika tukang cuci linen kehilangan pendengarannya dan juru masak terluka bakar karena kelelahan, rumah sakit itu belum sepenuhnya sehat.
*Para Penulis adalah mahasiswa Program Studi Doktor Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin, Makassar.





