Menurut pengakuan Asrianti, bupati datang ke salonnya pada Minggu sore (4/6/2017), didampingi beberapa orang. Tujuannya untuk melakukan creambath. Kata Asrianti, bupati tidak sampai sejam berada di salon.
Menyangkut foto yang memperlihatkan bupati tidak mengenakan baju, Asrianti menjelaskan bahwa setiap pelanggan yang melakukan creambath memang diminta untuk melepas baju. Begitu juga dengan aksesoris termasuk kalung, karena saat creambath, pelanggan juga dipijat.
Soal adanya tiga orang wanita sekaligus, kata Asrianti, mereka semua adalah karyawan salon.
Karena bupati terburu waktu sementara untuk creambath butuh waktu lama karena harus pijat tangan juga, maka dua orang itu diperintahkan untuk memijat agar cepat selesai.
“Biasanya kan ini satu orang kerja, tapi persingkat waktu tiga orang, ada yang creambath, pijat tangan,” paparnya.
Dia pun mengakui kesalahan karyawannya yang memegang bahkan mengenakan kalung emas milik bupati. Parahnya lagi, karyawati bernama Lisda itu memperlihatkan emas itu kemudian difoto.
Dia juga mengakui kesalahannya mengambil foto tanpa seizin atau sepengetahuan bupati. “Di situ kesalahannya ya, kami tidak sampai di situ pikirannya. Orang di-creambath kan memang harus lepas aksesoris, beliau taruh di atas meja. Mereka ini kan kaget lihat barang begitu, mungkin berpikir kapan lagi mau pegang, tapi salah. Saya sudah marahi mereka,” ujar Asrianti.
Saat bupati sedang melakukan creambath, menurut Asrianti ada juga pelanggan lainnya. Hal ini yang ingin ditegaskannya bahwa salon miliknya apalagi karyawannya tidak seperti yang dipikirkan orang. Karena tak hanya laki-laki, pelanggan dari kalangan perempuan pun banyak.
“Banyak orang bilang, selirnya, PSK (Pekerja Seks Komersial, red). Tidak ada sama sekali plus-plus, saya jamin. Kami mau uang halal, kami kerja begini halal dan berkah. Mungkin ada yang memancing bisakah plus-plus, tapi kami tidak mau,” tegasnya.






