Selasa, 11 Agustus 2026

Memperkuat Ketahanan Pangan

AKHIR September 2015, program Pembangunan Abad Millennium (MDGs) secara resmi dianggap berakhir. Melalui Sidang PBB di New York, AS yang dihadiri wakil-wakil dari 193 negara anggota sepakat melanjutkan MDGs melalui program Sustainable Development Goals (SDGs) untuk masa limabelas tahun mendatang. Pembangunan global dengan sasaran yang lebih komprehensif ini menempatkan pengentasan kemiskinan dan bebas dari kelaparan sebagai sasaran utama. Sehingga, pada tahun 2030 penduduk dunia diharapkan bebas sama sekali dari kemiskinan dan kelaparan. Angka kemiskinan dan kelaparan pun diharapkan sama dengan nol.

Dalam pelaksanaan MDGs, komitmen politik sering dianggap basa-basi karena setiap kabupaten dan kota merasa sudah melaksanakan pesan konsensus PBB tersebut. Sebut saja, tidak ada satu pemerintah di dunia ini yang belum mengusahakan upaya mendidik anak-anak usia sekolahnya. Tidak ada satu negara pun yang tidak menyediakan pelayanan kesehatan. Tidak ada satu negara pun yang tidak mengusahakan pelayanan bisnis untuk rakyatnya. Alhasil, pesan MDGs dianggap sebagai catatan yang tidak banyak gunanya untuk suatu negara yang memiliki target pembangunan sendiri.

Salah kaprah seperti ini berlaku kalau kita turun ke tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Tidak satu pun provinsi atau kabupaten/kota yang tidak memberi perhatian terhadap komponen yang disebutkan dalam arahan MDGs itu. Bedanya adalah bahwa arahan MDGs itu tidak dibaca menurut prioritas yang dicanangkannya. Karena diberikan prioritas pada keluarga miskin, maka sesungguhnya keluarga miskin dengan seluruh anak dan cucunya harus mendapat perhatian yang tinggi.

Begitu juga ukurannya tidak pada besarnya proyek pendidikan atau proyek kesehatan, tetapi diukur dari partisipasi dan kesempatan yang dinikmati penduduk dalam berbagai bidang yang dijadikan prioritas tersebut. Akibatnya, negara-negara yang ngotot tidak mau memerinci target MDGs itu tidak mengalami kemajuan dalam ukuran IPM atau bahkan makin mundur karena banyak negara berusaha meningkatkan kegiatan dan otomatis meningkat nilai IPMnya.

Indonesia termasuk negara yang kurang memberi perhatian kepada sasaran dan target MDGs sehingga selama masa pembangunan MDGs, lima belas tahun terakhir ini, ukuran keberhasilan dalam pengentasan kemiskinan tidak banyak beranjak dari sekitar 11-12 persen, dalam bidang kesehatan yang diukur dari angka kematian ibu hamil dan melahirkan justru meningkat dari sekitar 220 per 100.000 menjadi 359 per 100.000.

Angka kelahiran yang sempat menurun dari 5,6 anak menjadi 2,3 anak naik lagi menjadi lebih dari 2,7 anak. Secara global keberhasilan pembangunan abad Millennium juga sangat variatif. Banyak negara mencapai target MDGs, namun banyak pula yang masih mengalami kendala untuk mencapai target pada akhir tahun ini. Bahkan disinyalir pencapaian target bersifat semu, misalnya, berkat keberhasilan pembangunan ekonomi di China, angka kemiskinan di negara berkembang dapat diturunkan separonya.

Kegagalan pencapaian target MDGs tidak menjadi halangan bagi para kepala negara dan ahli-ahli di seluruh dunia untuk menetapkan sasaran dan target baru bagi pembangunan global dalam limabelas tahun mendatang. Kekurangan yang dilihat dalam limabelas tahun terakhir ini diharapkan menjadi cambuk untuk memperbaiki prinsip utama, sasaran dan target serta implementasi dari berbagai paket pembangunan yang dirumuskan dan ditawarkan kepada negara anggota PBB. Salah satu kelemahannya adalah bahwa upaya meningkatkan nilai IPM ternyata menggerogoti sumber daya alam (SDA).

Pertumbuhan dan kenaikan konsumsi penduduk atas SDA tidak seimbang dibandingkan dengan upaya melestarikan kekayaan bumi, lebih-lebih dengan adanya fenomena perubahan iklim.
Pilihan prioritas utama pada pengentasan kemiskinan tidak dilihat dan diselesaikan secara komprehensif oleh seluruh sasaran dengan target-targetnya. Akibatnya, bisa saja ada kemajuan dalam berbagai bidang tetapi tidak menolong upaya pengentasan kemiskinan karena keluarga miskin yang miskin pengetahuan, jauh dari upaya pendidikan dan kursus-kursus ketrampilan tersisih dari partisipasi dalam pembangunan.

Karena itu, keluarga miskin tidak bisa ikut menikmati keberhasilan dan kemajuan teknologi, ekonomi serta tetap harus berjuang dengan keadaan alam sekitar yang digerus dengan pembangunan maha dahsyat sehingga tidak mampu lagi menopang kehidupan ekonomi tradisional andalannya. Sawah dan hutan subur berubah menjadi pusat industri sehingga kehidupan tradisional penghuni sekitar hutan dan penduduk miskin penggarap sawah kehilangan mata pencariannya. Penduduk miskin itu tidak selalu siap berubah menjadi karyawan pabrik karena tingkat pendidikannya yang rendah.

Melalui SDGs kita harus pandai membaca dan mengembangkan strategi operasional yang memberi kesempatan yang lebih banyak kepada keluarga miskin, keluarga dengan tingkat pendidikan dan konsisi sosial ekonomi rendah untuk lebih dulu diberi kesempatan dan menikmati partisipasi dalam pembangunan melalui pemberdayaan. Prioritas kecukupan pangan perlu digarap dengan mengembangkan ‘kebun bergizi’ di setiap halaman rumah lengkap dengan sayur, makanan pokok, unggas dan perikanan yang bisa mencukupi kebutuhan keluarga dan meluber menjadi komoditas laku jual dan untung.

Keluarga kaya yang memiliki lahan, yang sebagian dibuat melalui pengorbanan lahan sawah yang subur, harus merelakan lahannya menjadi kebun bergizi yang diolah bersama keluarga kurang mampu tetangganya sehingga mereka bisa menghasilkan pangan yang lebih murah karena dibagi hasil dengan penggarapnya. Keluarga mampu harus dengan senang hati berbaik membeli produk keluarga kurang mampu sehingga keuntungan mereka bisa menjadi panjatan dalam mewujudkan keluarga yang lebih sejahtera dan mandiri. Kalau ini semua terjadi, dan dijamin pemerintah yang peduli dan akuntable seperti dipesankan SDGs, target tahun 2030 bisa tercapai. ***

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital
Pendekatan Baru Dalam Pengelolaan Platform Permainan Daring Modern Terbentuk Dari Blockchain Dan Big Data
Skalabilitas Game Online Di Tengah Pertumbuhan Pengguna Digital Global Didukung Infrastruktur Cloud Native
Transparansi Ekosistem Game Online Berbasis Teknologi Masa Kini Didukung Blockchain Modern Dan Smart Contract
Ekosistem Game Modern Yang Lebih Terhubung Terbentuk Dari Integrasi Internet Of Things Dan Artificial Intelligence
Industri Game Modern Menyesuaikan Layanan Dengan Perubahan Perilaku Digital Berkat AI Berbasis Prediksi
Performa Game Multiplayer Meningkat Melalui Teknologi Edge Computing Dengan Pemrosesan Data Lebih Cepat
Platform Game Multiplayer Mengantisipasi Ancaman Siber Lebih Efektif Berkat Cyber Intelligence Modern
Pengembangan Game Modern Menjadi Lebih Fleksibel Dan Adaptif Berkat Artificial Intelligence Berbasis Cloud
Transformasi Digital Perusahaan Skala Kecil Dan Menengah Dipercepat Melalui Pengembangan Aplikasi Low Code
Visibilitas Konten Pada Google Discover Meningkat Secara Organik Berkat Strategi Search Engine Optimization