Sabtu, 8 Agustus 2026
Seleb  

Lecehkan Artis, Film Kim Ki Duk Minta Dibatalkan di Festival Jepang

PALU EKSPRES– Organisasi perempuan di Korea, Womenlink meminta panitia Festival Film Jepang untuk tidak menayangkan film karya Kim Ki Duk yang terkena kasus pelecehan seksual terhadap beberapa aktris.

Melansir The Korea Times, organisasi tersebut merilis pernyataan pada Jumat (8/2/2019) kepada Festival Film Internasional Yubari dengan mengatakan bahwa festival tersebut memiliki kata kunci sebagai festival film lucu di dunia. Namun hal tersebut menjadi tidak lucu sama sekali karena mengabaikan masalah kekerasan seksual di industri film yang dilakukan pegiatnya.

“Tolong batalkan rencana kalian untuk memutar film Kim Ki Duk,” ujar pernyataan tersebut.

Sebelumnya, festival tersebut telah mengumumkan bahwa film karya Kim Ki Duk berjudul Human, Space, Time, and Human (2017) akan menjadi salah satu dari tiga film pembuka di acara tersebut. Rencananya, film itu akan diputar pada 7 Maret di Hokkaido, Jepang.

Mereka mengatakan, keputusan panitia festival tersebut untuk menayangkan film itu merupakan tindakan yang menunjukkan kesediaan mereka untuk berpihak kepada pelaku kekerasan seksual.

Selain mengeluarkan pernyataan resmi, Womenlink juga telah mulai melakukan kampanye di media sosial mereka yang menyerukan agar pemutaran film tersebut dibatalkan.

Sejatinya, Kim Ki Duk sendiri merupakan pembuat film di Korea yang memenangkan berbagai penghargaan. Karya-karyanya banyak yang populer, termasuk salah satunya adalah Pieta.

Namanya beberapa waktu belakangan sering diperbincangkan karena dugaan keterlibatannya melecehkan dan menyerang beberapa aktris secara seksual. Ia bahkan menuduh balik tiga aktris yang menjadi korbannya dan jurnalis yang telah mencemarkan nama baiknya.

Adapun filmnya yang akan ditayangkan di festival tersebut merupakan film panjang ke-23 garapannya yang dibintangi oleh Ahn Sung Ki dan Jang Geun Suk. Film tersebut bercerita tentang orang-orang berbeda usia yang melakukan perjalanan dengan kapal perang dalam jeda suatu perang.

Film itu juga diketahui mengandung adegan yang disinyalir bernuansa ‘biru’ karena terdapat adegan pria yang melakukan pelecehan seksual terhadap wanita.

Festival itu sendiri berpusat kepada film fantasi dan fiks ilmiah dan merupakan salah satu dari dua festival film bergengsi yang ada di Jepang.

(jpc)

 

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital