PALU EKSPRES, PALU– Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Palu mengeksplorasi hasta karya atau keterampilan tangan yang menjadi tradisi dan pernah eksis di Lembah Palu. Salahsatunya adalah kerajinan tangan hasil anyaman daun silar atau lontar dari pohon palem hutan. Dari bahan daun silar atau lontar ini, pengrajin bisa menganyam menjadi tembikar dan tas. Atau bisa jadi semacam wadah pengganti kantong plastik.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Palu, Syamsul Saifuddin mengungkap, kerajinan ini hampir punah di Palu. Pelakunya rata-rata sudah berusia lanjut. Namun baru-baru ini pihaknya berhasil menemui orang-orang yang masih eksis membuat kerjajinan itu di Kelurahan Birobuli Selatan, Kecamatan Palu Selatan.
“Sebenarnya mungkin masih ada di kelurahan lain. Makanya ini akan kita intervensi untuk dikembangkan. Agar pengrajin lainnya bisa muncul,”kata Syamsul, Rabu 11 Maret 2020. Menurut dia, dari daun silar, para pengrajin bisa membuat rombe atau tas gantung berukuran besar. Kemudian bingga, atau tas kecil. Bingga dibuat dua model yakni berbentuk bulat dan oval.
Tas bingga kata dia, dulu digunakan masyarakat Kaili Lembah Palu sebagai wadah untuk memberi zakat. Satu kali pakai. Karya ini terbilang sulit. Karena dibuat dengan cara menganyam. Untuk itu pihaknya akan mendorong karya bingga ini menjadi wadah untuk penempatan daging pada saat pembagian daging dalam momentum hari raya idul adha. “Ini sebenarnya bisa menjadi alternatif pengganti kresek plastik,”ujarnya.
Disperindag sebut Syamsul akan mengintervensi pengembangan usaha kerajinan tersebut. Sebagai langkah awal, pihaknya akan membeli kerajinan pelaku dari Birobuli Selatan ini untuk coba dipasarkan. Kemudian membantunya dengan peralatan usaha. “Kami beli dulu untuk uji coba sejauh mana minat masyarakat. Mau melihat potensi pasarnya. Karena biasanya mereka hanya menjual 1 bingga seharga Rp1000,”katanya.
Selanjutnya nanti, tujuan pemasaran kerajinan ini akan diupayakan menembus pasar pasar modern.
“Kami juga sedang menyusun peraturan daerah tentang penggunaan kantong plastik sekali pakai untuk mendukung upaya ini,”katanya. Syamsul berharap, usaha yang dilakukan Disperindag ini bisa berkembang. Hingga pengrajin pengrajin daun silar yang tersisah juga ikut muncul. Setelah itu, program selanjutnya akan didorong pada pelatihan pelatihan bagi generasi muda. “Karena saya yakin, pengrajin yang tersisah ini bukan hanya di Birobuli Selatan. Pasti masih banyak yang lain,”demikian Syamsul. (mdi/palu ekspres)





