Rabu, 12 Agustus 2026
Opini  

Indonesia Emas 2045; Perikanan Budidaya Sebagai Sumber Protein dan Devisa

Sulawesi Tengah Diharap Berbenah
Sulawesi Tengah Diharap Berbenah. Dr Hasanuddin Atjo/ Foto: istimewa

Oleh DR Hasanuddin Atjo, Ketua SCI Sulawesi dan Dewan Pakar Ispikani

Indonesia Emas 2045; Perikanan Budidaya Sebagai Sumber Protein dan Devisa. Salah satu lembaga audit ekonomi berkelas dunia, Price Waterhouse Cooper (2017) telah memprediksi Indonesia pada tahun 2045 akan menjadi salah satu negara dengan kekuatan ekonomi di peringkat ke 5 dunia. Setelah China, AS, India dan Brasil. Bila mampu mengelola sumberdayanya secara baik dan berkelanjutan.

Sri Mulyani (2021) mempertajam prediksi itu, bahwa PDB Indonesia pada saat itu sekira US$ 7 triliun, meningkat hampir 700 persen dari tahun 2020 sebesar US$ 1,1 triliun. PDB perkapita meningkat menjadi US$ 24.000 dari sebelumnya US$ mendekati 4.000. Ini tentu menjadi harapan yang harus diseriusi.

Ada empat sektor diprediksi akan menjadi penopang ekonomi pada saat itu yaitu (1) Hilirisasi SDA, (2) Ekonomi digital, (3) Penyediaan pangan, serta 4) Ekonomi kreatif dan pariwisata. Namun mencapai semua ini,memerlukan persyaratan ketat dan upaya ekstraordinary .

Baca juga : Hasanuddin Atjo: Jangan Abaikan Indeks Kedalaman dan Keparahan Kemiskinan

Persyaratan itu antara lain adalah (1) Dukungan Infrastruktur Dasar, (2) Perbaikan Birokrasi Pemerintah, (3) Kesesuaian Tataruang Wilayah,(4) Sumberdaya Keuangan (APBN dan APBD sehat), (5) Peningkatan kualitas sumberdaya manusia, dan (6) Pengembangan Inovasi dan Teknologi.

Sumberdaya Maritim menjadi salah satu penopang akan pencapaian PDB itu menuju Indonesia Emas 2045. Dan menurut BPS (2015) potensi sumberdaya maritim kita sebesar US$ 1,33 triliun, dan angka ini melebihi PDB tahun 2020 yaitu sebesar US$ 1,1 triliun. Harapannya potensi ini bisa menjadi motivasi yang kuat bagi stakeholders negeri ini untuk memanfaatkannya.

Ada 11 sektor yang menjadi potensi sumberdaya maritim sebesar US$ 1,33 triliun tersebut yaitu (1) Sektor tambang dan energi berkontribusi 16 persen, (2) Perikanan budidaya juga 16 persen, senilai US$ 210 milyar, (3) Jasa Maritim 15 persen, (4) Sumberdaya non Konvensional 15 persen, (5) Bioteknologi laut sebesar 14 persen.

Selanjutnya, (6) Pendayagunaan Pulau Kecil sebesar 9 persen (7) Pengolahan Perikanan 7 persen, (8) Pariwisata 4 persen, (9) Sektor Transportasi Laut 2 persen, (10) Kawasan Mangrove 1 persen dan (11) Perikanan Tangkap sebesar 1 persen.

Penduduk dunia pada tahun 2045 di perkirakan mencapai 9,45 milyar jiwa dan Indonesia mendekati 320 juta jiwa atau meningkat 2 kali lipat dari tahun 2021 (Bappenas 2021). Saat itu , Indonesia memperoleh Bonus Demografi yang bermakna bahwa penduduk berusia produktif lebih besar dari tidak produktif.

Kondisi ini ditunjukkan oleh angka ketergantungan (Depency Ratio) senilai 53,4 persen, artinya setiap 100 penduduk produktif dibebani sebanyak 53 orang berusia tidak produktif ( 0 -14 tahun dan lebih besar dari 65 tahun). Dan ini tentu harus menjadi perhatian bila ingin meraih Indonesia Emas 2045.

Bonus demografi harus diwaspadai karena besarnya jumlah penduduk berusia produktif harus diiringi oleh kecukupan gizi, open mindset dan transformasi inovasi dan teknologi, agar menjadi sumberdaya manusia yang produktif dan berdaya saing.

Jika tidak dipersiapkan dipastikan bonus demografi hilang percuma, dan peluang itu tidak akan kembali. Boleh jadi pasar kerja dalam negeri akan diisi oleh SDM dari negara lain yang saat ini mulai dirasakan pada sejumlah sektor usaha.

Analisis, pemetaan BPS (2015) itu relevan dengan pandangan FAO (2021) bahwa pada tahun 2017 pertama kali perikanan budidaya berkontribusi sebesar 50 % dari penyediaan pangan dunia sebesar 180 juta ton. Ini seimbang dengan produksi perikanan tangkap yang selama ini telah menjadi kontributor utama.

Indonesia pada tahun yang sama , berdasarkan data KKP tahun 2019 menunjukkan produksi ikan, tidak termasuk rumput laut mendekati 12 juta ton dan kontribusi budidaya mendekati angka 5 juta ton yang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Pada tahun 2027, output perikanan budidaya dunia diprediksi tembus angka 100 juta ton, meninggalkan perikanan tangkap yang stagnan pada angka sekitar 90 juta ton. Dan prediksi produksi Perikanan budidaya Indonesia pada akhir tahun 2024 mendekati angka 10 juta ton ( KKP, 2021).

Dilihat dari nilai ekspor perikanan, Indonesia yang kononnya sebagai negara Maritim dan Kepulauan terbesar, pada tahun 2021 hanya berada pada peringkat 11 dunia dengan nilai ekspor sebesar US$ 5,7 milyar atau berkontribusi 1,32 persen terhadap nilai ekspor dunia.

Kinerja ekspor ini, dipandang oleh sejumlah kalangan relatif tertinggal bila dikaitkan dengan sumberdaya yang dimiliki. Memiliki luas laut dan jumlah pulau terbesar, garis pantai terpanjang ke dua, sebagai negara yang beriklim tropis dan beberapa bagian wilayahnya adalah lintasan khatulistiwa.

Dari kinerja ekspor, China berada di depan dengan nilai ekspor sebesar US$ 22,1 milyar (12,4 persen). Dan Norwegia berada di urutan kedua senilai US$ 13,9 milyar (7,8 persen). Norwegia fokus mengembangkan budidaya Salmon yang berorientasi klusterisasi dan industrialisasi dan kini tercatat sebagai produsen ikan Salmon terbesar dunia.

Vietnam di urutan ketiga dengan nilai US$ 8,3 milyar ( berkontribusi sebesar 4,6 persen). Negeri Naga Biru ini dengan garis pantai 3.200 km, namun diberi sumberdaya air tawar yang besar melalui lMekong river , kini sebagai penghasil ikan Patin (Dori) terbesar dunia melalui industri budidayanya.

India berada di peringkat empat dengan nilai ekspor US$ 7,6 milyar (4,3 persen), dan mulai fokus di industri budidaya udang. Dan pada 2021 produksi udang budididaya mendekati angka 800 ribu ton dan telah meninggalkan Indonesia yang hanya memproduksi 500 ribu ton (FAO, 2021).

Yang menarik bahwa negara kecil Ekuador dengan garis pantai 2.700 km, jauh di bawah Indonesia yang hampir 100.000 km memiliki devisa US$ 7,1 milyar atau berkontribusi sebesar 4.0 persen, menduduki peringkat 6 dunia setelah Kanada.

Devisa hasil perikanan Ekuador ini dominan berasal dari ekspor udang hasil budidaya. Pada tahun 2021 di dominasi jenis vaname produksi udang mendekati 2,1 juta ton dan menjadikan negara yang dilintasi garis khatulistiwa, equator sebagai penghasil udang terbesar dunia.

Di lihat dari struktur komoditi ekspor hasil perikanan Indonesia, udang menduduki peringkat pertama dan berkontribusi sebesar US$ 2,223 milyar ( 39,0 persen), lainnya US$ 1,179 (20,6 persen), Tuna-Tongkol-Cakalang TTC US$ 0,733 milyar (12,8 persen), Cumi-Sotong-Gurita US$ 0,618 milyar (10,8 persen)

Selanjutnya Rajungan dan Kepiting berkontribusi sebesar US$ 0,611 atau ( 10,7 persen). Dan terakhir rumput laut sebesar US$ 0,345 (6,0 persen). Rumput laut menjadi komoditas strategis untuk upaya. pemberdayaan masyarakat pesisir, namun produksinya masih sekitar 1,2 juta ton kering, minim hilirisasi.

Berdasarkan penelusuran terhadap kesuksesan sejumlah negara yang berkinerja baik dalam ekspor hasil perikanan tidak semata ditentukan oleh besarnya sumberdaya yang dimiliki . Namun lebih ditentukan kinerja pengelolaan (alam, manusia dan kapital) menggunakan cara baru yang efisien berkelanjutan.

Fokus terhadap komoditi tertentu, diikuti pendekatan Klusterisasi dan Industrialisasi menjadi poin penting bagi keberhasilan negara dengan sumberdaya alam yang terbatas tersebut. Cara seperti itu membuat inovasi dan teknologi berkembang pesat. Demikian pula halnya proses transformasi berlangsung secara baik.

Klusterisasi menyebabkan logistik cost menjadi lebih murah dan lebih cepat, karena komponen dari input produksi mulai induk, benih, pakan dan lainnya berada didalam satu kluster dan terkoneksi secara baik.
Selanjutnya klusterisasi menjamin suply bahan baku secara kontinyu untuk kebutuhan hilirisasi.

Sebagai Negara kepulauan, maka sepatutnya Indonesia menerapkan pendekatan klusterisasi dan fokus saja kepada komoditi tertentu pada masing masing potensi budidaya (Marikuktur, Payau dan Air Tawar). Dengan pendekatan semacam ini, mendorong efisiensi, produktifitas yang bermuara kepada daya saing.

Terakhir, bahwa membuat/redesain roadmap pengembangan komoditi harus implementatif. Dukungan regulasi dan infrastruktur menarik seperti adanya insentif, kawasan ekonomi khusus, KEK yang berbasis pangan akan mendorong sektor swasta berinvestasi. dan, peluang Indonesia Emas 2045 bisa tercapai. ***

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital
Pendekatan Baru Dalam Pengelolaan Platform Permainan Daring Modern Terbentuk Dari Blockchain Dan Big Data
Skalabilitas Game Online Di Tengah Pertumbuhan Pengguna Digital Global Didukung Infrastruktur Cloud Native
Transparansi Ekosistem Game Online Berbasis Teknologi Masa Kini Didukung Blockchain Modern Dan Smart Contract
Ekosistem Game Modern Yang Lebih Terhubung Terbentuk Dari Integrasi Internet Of Things Dan Artificial Intelligence
Industri Game Modern Menyesuaikan Layanan Dengan Perubahan Perilaku Digital Berkat AI Berbasis Prediksi
Performa Game Multiplayer Meningkat Melalui Teknologi Edge Computing Dengan Pemrosesan Data Lebih Cepat
Platform Game Multiplayer Mengantisipasi Ancaman Siber Lebih Efektif Berkat Cyber Intelligence Modern
Pengembangan Game Modern Menjadi Lebih Fleksibel Dan Adaptif Berkat Artificial Intelligence Berbasis Cloud
Transformasi Digital Perusahaan Skala Kecil Dan Menengah Dipercepat Melalui Pengembangan Aplikasi Low Code
Visibilitas Konten Pada Google Discover Meningkat Secara Organik Berkat Strategi Search Engine Optimization
Menekan Spin Delay Is The Key Dengan Irama Tidak Teratur 2 Detik, 5 Detik, 8 Detik Bisa Membingungkan Randomizer Atau Hanya Ritual Ocd Saja
Masa Depan Hiburan Digital Interaktif Dibahas Melalui Perpaduan Teknologi Dan Narasi Pada Wild Bounty Showdown
Inovasi Seotda Baccarat Dari Pragmatic Play Menggabungkan Budaya Korea Dan Format Baccarat Modern Di Tahun 2026
Infrastruktur Game Digital Lebih Siap Menghadapi Gangguan Berkat Cyber Resilience Architecture
RTP Mahjong Scatter Hitam Pragmatic Play Hadir Nonstop 24 Jam Berkat Inovasi Teknologi AI Terbaru
Mahjong Ways Dioptimalkan Dengan Grafis Engine HTML5 Dan Kecepatan Respons Antarmuka Pengguna
Mahjong Ways Menjelaskan Mekanisme Perhitungan Kombinasi Kemenangan Dari Kiri Ke Kanan
Infrastruktur Digital Menjaga Stabilitas Performa Meskipun Beban Sistem Terus Meningkat
Data Historis Menjadi Dasar Pengembangan Algoritma Prediktif Generasi Terbaru
Literasi Risiko Menjadi Penting Seiring Pertumbuhan Investor Pasar Modal Indonesia