Jumat, 17 April 2026

Kamu Termasuk orang Flexing Atau Tidak? Cek Disini!

Kamu Termasuk orang Flexing Atau Tidak? Cek Disini!
Kamu Termasuk orang Flexing Atau Tidak? Cek Disini! Ilustrasi Burung merak yang memamerkan keindahan bulunya saat mendekati betinanya/ foto: -sarahkilian/unsplash

Kamu Termasuk orang Flexing Atau Tidak? Cek Disini! Flexing kembali ramai di jagad maya, usai kelakuan sejumlah oknum pejabat negeri ini memamerkan hobi mewahnya di sosial media.

Sebut saja klub Motor Gede Dirjen Pajak yang akhirnya oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani minta dibubarkan. Juga ada Mario Dandy Satrio (20), putera dari pejabat pajak eselon III Rafael Alun Trisambodo yang  kini menjadi tersangka kasus penganiayaan. Mario Dandy diketahui salah satu anak yang selalu memamerkan gaya hidup mewah di media sosial dengan memamerkan kendaraan mahal.

Lalu, ada Kepala Bea Cukai Yogyakarta yang akhirnya dicopot dari jabatannya karena disebut hobi pamer.

Kamu Termasuk orang Flexing Atau Tidak, Seperti Apa sih orang yang suka Flexing?

Flexing adalah istilah yang diberikan kepada orang yang suka menunjukkan sesuatu tentang dirinya alias pamer.

Sejumlah psikolog mengatakan bahwa kegiatan flexing ini menunjukkan kebutuhan orang terhadap eksistensi dirinya.  Bahwa dia ada, dia hadir sebagai orang yang lebih.

Perilaku flexing ini dapat muncul karena ekspektasi yang tidak sesuai dengan realita pengaruh lingkungan, ketakutan akan penolakan, kebutuhan yang tinggi akan eksistensi diri, dan faktor kepribadian.

Mengutip CNN Indonesia, Psikolog Indah Sundari Jayanti menjelaskan bahwa perkembangan dunia digital seperti media sosial membuat perilaku ini semakin sering dijumpai.

“Flexing atau pamer pada dasarnya menunjukkan adanya kebutuhan yang tinggi akan eksistensi diri. Faktor digital dan perkembangan zaman saat ini tentu turut memengaruhi kebutuhan dan standar penilaian individu,” kata Indah.

Sementara itu, Psikolog klinis dan founder pusat konsultasi Anastasia and Associate, Anastasia Sari Dewi, menjelaskan ada banyak contoh aksi flexing justru beroleh banyak apresiasi di media sosial. Hal inilah yang membuat kesan, memamerkan harta di dunia maya adalah hal menyenangkan, bahkan normal dan betul dilakukan.

“Ada banyak apresiasi atau likes atau comment dari orang sekitar sehingga membuat hal itu sepertinya menyenangkan. Apalagi dengan banyaknya apresiasi online seperti itu orang menjadi seolah-olah kesannya mendapatkan perhatian. Sehingga itu yang membuat orang menjadi nagih dan melakukan terus,” dikutip dari detikcom.

Namun begitu Sari mengingatkan, bisa jadi kondisi seseorang di dunia nyata tidak sejalan dengan kemewahan yang kerap dipamerkannya di dunia maya. Nah, cek apakah kamu termasuk orang Flexing Atau Tidak

Pada kondisi seperti ini, seseorang cenderung memamerkan hal positif di media sosial untuk mencapai tujuan lain.

“Kalau orangnya hanya flexing, ya itu biasanya selain ingin terlihat ‘wah’ di media sosial, which is belum tentu di dunia nyata atau kehidupan aslinya betul-betul seperti itu,” beber Sari.

Apakah Orang Suka Flexing Mengalami gangguan Psikologis?

Menurut Psikolog Indah Sundari Jayanti perilaku flexing ini tak bisa serta merta dikatakan sebagai gangguan psikologis.

“Mengingat perkembangan zaman saat ini yang membuat orang-orang terbiasa ‘menunjukkan’ berbagai hal, membuat perilaku flexing tidak bisa sepenuhnya dikategorikan abnormal,” kata Indah.

Namun, flexing dapat dikategorikan sebagai suatu masalah jika sudah mengganggu aktivitas, merugikan orang lain, atau membuat individu menampilkan citra diri yang sangat berbeda.

“Jika hal ini sudah menjadi satu kebutuhan yang mengganggu jika tidak terpenuhi, maka perlu ditelaah lebih lanjut. Misal, apakah perilaku flexing ini justru membuat individu memaksakan keinginan di luar kemampuannya atau apakah perilaku flexing ini merugikan orang-orang di sekitarnya. Atau bahkan, apakah perilaku flexing ini membuat individu mencitrakan diri sangat berbeda dari ia yang sebenarnya,” kata Indah.

Dampak Negatif yang Bisa Terjadi Akibat Flexing

Orang flexing cenderung sulit mendapat teman

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa pelaku flexing cenderung sukar menjalin pertemanan. Riset itu telah diterbitkan dalam jurnal Social Psychological and Personality Science seperti dilansir republika.com.

Hasil penelitian menyebutkan bahwa 66 persen orang cenderung suka mobil mewah daripada mobil standar. Namun ketika berkaitan dengan relasi sosial, kebanyakan orang lebih suka berteman dengan orang memiliki kendaraan yang lebih murah.

Peneliti Stephen Garcia  menyebut efek tersebut sebagai perbedaan perspektif dalam perbandingan sosial. Simbol status dan apa pun yang terkait dengan hak istimewa justru dapat menjadi bumerang saat seseorang mencoba mencari teman baru.

Orang Flexing alami Gangguan Kesehatan Mental?

Psikolog Tim Kasser dari Knox College di Illinois, Amerika Serikat, mengatakan semakin besar dukungan seseorang terhadap konsumerisme, semakin buruk kesejahteraan mental orang tersebut.

“Mereka menjadi kurang berempati, kurang prososial, lebih kompetitif. Mereka cenderung tidak mendukung kelestarian lingkungan, lebih cenderung mendukung keyakinan yang merugikan dan diskriminatif,” ujar Kasser, dikutip dari laman Wired.

Kasser tetap menyarankan untuk mewaspadai flexing karena itu bisa membahayakan kondisi psikologis. Setelah meninjau lebih dari 200 penelitian, Kasser menyampaikan efek negatif bagi orang yang mendukung materialisme.

Semakin besar dukungan seseorang terhadap konsumerisme, semakin buruk kesejahteraan mental orang tersebut.

Ciri-ciri flexing yang mengganggu

Kamu harus waspada jika sudah mulai menunjukkan ciri-ciri flexing yang mengganggu. Psikolog Indah membagikan beberapa tanda flexing yang mengganggu, sebagai berikut:

  • Selalu memamerkan banyak hal, meskipun hal-hal yang tidak perlu dipamerkan
  • Memaksakan diri untuk menunjukkan apa yang dimiliki walau itu di luar kemampuan diri sendiri
  • Apa yang dipamerkan belum tentu benar-benar dimiliki
  • Merasa terganggu jika tidak membagi atau memberi tahu orang-orang terkait apa yang dimiliki.

Nah dari penjelasan di atas, Kamu bisa cek apakah Kamu Termasuk orang Flexing Atau tidak? Seberapa dampak flexing itu bagi kamu? Semoga bermanfaat ya. (aaa/PaluEkspres)