PALUEKSPRES.COM – Jauh sebelum papan nama Taman Nasional Lore Lindu berdiri, jauh sebelum kawasan ini dikenal luas sebagai tujuan ekowisata, Lembah Behoa, Napu dan Bada di Poso, Sulawesi Tengah telah menarik perhatian para peneliti dari Eropa.
Pada penghujung abad ke-19, ketika sebagian besar dunia luar masih melihat pedalaman Sulawesi sebagai wilayah yang penuh tanda tanya, dua orang Belanda—Nicolaus Adriani dan Albertus Christiaan Kruyt—melakukan perjalanan ke wilayah Sulawesi Tengah.
Pada 1898, keduanya mencatat perjalanan mereka dalam karya Van Poso naar Parigi en Lindoe. Catatan tersebut menjadi salah satu dokumentasi awal mengenai tinggalan budaya kuno di kawasan yang kini dikenal sebagai Lore Lindu. Pemerintah Indonesia melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan menyebut penelitian Adriani dan Kruyt sebagai penelitian awal terhadap peninggalan monumental di kawasan tersebut.
Kruyt bukan seorang arkeolog dalam pengertian modern. Ia adalah misionaris Belanda yang menghabiskan puluhan tahun di Sulawesi dan memiliki perhatian besar terhadap masyarakat, bahasa, kebudayaan dan sejarah wilayah yang ditelitinya.
Perjalanannya justru memperlihatkan sesuatu yang kemudian menjadi sangat penting bagi ilmu pengetahuan: di balik lembah-lembah yang subur dan hutan pegunungan Sulawesi Tengah terdapat jejak sebuah kebudayaan kuno yang meninggalkan monumen batu dalam jumlah besar.
Catatan-catatan awal itu kemudian menjadi pintu bagi penelitian berikutnya.
Dari Catatan Perjalanan Menjadi Penelitian
Pada awal abad ke-20, perhatian terhadap megalit Sulawesi Tengah semakin besar.
Pada 1902, dua bersaudara asal Eropa, Paul dan Fritz Sarasin, melakukan perjalanan ke kawasan Bada. Mereka merupakan naturalis yang memiliki minat besar terhadap alam dan masyarakat Sulawesi. Dalam perjalanan dari Palu menuju Palopo, mereka melewati sejumlah wilayah di Bada.
Namun perjalanan mereka menghasilkan ironi kecil dalam sejarah penelitian Lore Lindu: meskipun menjadi orang Eropa pertama yang diketahui mengunjungi Bada, keduanya tidak beruntung melihat monumen batu kuno secara langsung.
Beberapa tahun kemudian, Kruyt kembali ke Bada.
Pada 1908, ia melakukan perjalanan ke kawasan tersebut dan kemudian menerbitkan tulisan berjudul Het landschap Bada in Midden-Celebes pada 1909. Dalam tulisan itu, Kruyt menggambarkan sejumlah monumen batu kuno yang ia lihat di berbagai desa. Ia bahkan mencatat sebuah patung yang oleh masyarakat setempat disebut Langke Bulawa, yang berarti gelang kaki emas.
Catatan semacam itu kini menjadi sangat berharga.
Sebab pada masa itu belum ada teknologi pemetaan digital, kamera satelit, GPS, ataupun sistem dokumentasi arkeologi seperti sekarang. Apa yang dilihat seorang peneliti di perjalanan sering kali hanya disimpan dalam catatan lapangan, sketsa, foto, atau tulisan yang kemudian diterbitkan bertahun-tahun setelah ekspedisi berakhir.
Dengan kata lain, catatan para peneliti masa kolonial merupakan salah satu jendela tertua yang memungkinkan generasi sekarang membayangkan bagaimana situs-situs megalitik Lore Lindu terlihat lebih dari satu abad lalu.
Kruyt dan Misteri Kalamba
Salah satu peninggalan yang menarik perhatian para peneliti adalah kalamba—wadah batu berukuran besar yang tersebar di kawasan Lore.
Kruyt dan peneliti setelahnya mencatat keberadaan berbagai kalamba di lembah-lembah Napu, Behoa dan Bada. Dalam laporan-laporan awal tersebut, para peneliti bahkan mencoba memahami fungsi benda-benda itu.
Pertanyaan mereka sangat mendasar: apakah batu-batu tersebut merupakan tempat pemakaman, wadah upacara, atau memiliki fungsi lain?
Pada awal penelitian, jawabannya belum jelas.
Justru proses panjang untuk memahami benda-benda tersebut memperlihatkan bagaimana ilmu arkeologi bekerja. Satu pengamatan menghasilkan pertanyaan. Pertanyaan melahirkan penelitian berikutnya. Penelitian berikutnya kemudian mengoreksi atau memperkuat kesimpulan sebelumnya.
Lore Lindu menjadi semacam laboratorium arkeologi yang terbuka di tengah lanskap pegunungan Sulawesi.
Ekspedisi Belanda Berlanjut
Penelitian tidak berhenti pada Kruyt.
Pada 1910, misionaris Belanda P. Schuyt mengunjungi kawasan Napu dan Besoa. Dalam catatannya, ia juga mendeskripsikan sejumlah monumen kuno dan memberikan interpretasi mengenai fungsi beberapa batu yang ditemuinya.
Kemudian pada 1913, Grubauer melakukan penelitian di Lembah Napu. Ia berusaha menelusuri asal-usul masyarakat yang membangun megalit-megalit tersebut dan mengajukan hipotesis mengenai asal-usul pembangunnya.
Beberapa tahun kemudian datang peneliti lain.
Walter Kaudern, peneliti asal Swedia, melakukan pendataan terhadap megalit di Bada, Napu dan Besoa. Penelitiannya kemudian menjadi salah satu dokumentasi penting mengenai tinggalan megalitik Sulawesi Tengah.
Kaudern mencatat bentuk, lokasi dan karakter berbagai monumen. Ia juga membahas kalamba dan kemungkinan penggunaannya sebagai wadah penguburan. Hasil ekspedisinya kemudian diterbitkan dalam karya besar mengenai kebudayaan Sulawesi.
UNESCO sendiri mencatat bahwa penelitian megalitik di kawasan Lore Lindu telah berlangsung sejak awal abad ke-20, dengan nama-nama seperti A.C. Kruyt, Grubauer, Raven dan W. Kaudern menjadi bagian penting dari sejarah penelitian kawasan tersebut.
Bahkan Ada Ekskavasi
Penelitian terhadap Lore Lindu kemudian memasuki tahap yang lebih sistematis.
Pada 1917–1918, peneliti Amerika Walter Kaudern/Raven melakukan penelitian di kawasan Besoa. Sumber-sumber arkeologi Indonesia mencatat adanya ekskavasi pada salah satu kalamba di Pokekea. Dari penggalian tersebut ditemukan antara lain tanah, lumpur, abu kayu dan pecahan gerabah.
Temuan semacam itu penting karena penelitian tidak lagi sekadar bertumpu pada bentuk batu yang terlihat di permukaan.
Tanah di bawah sebuah monumen juga dapat menyimpan cerita.
Lapisan tanah, abu, pecahan tembikar, tulang dan benda-benda kecil yang mungkin tampak tidak berarti bagi orang awam dapat menjadi petunjuk bagi arkeolog untuk merekonstruksi kehidupan manusia masa lalu.
Dari sinilah Lore Lindu perlahan berubah dari sebuah wilayah yang penuh cerita menjadi salah satu kawasan penting dalam kajian prasejarah Indonesia.
Dari Mata Penjelajah ke Mata Arkeolog
Ada perubahan menarik dalam sejarah penelitian Lore Lindu.
Generasi awal peneliti datang dengan catatan perjalanan dan rasa ingin tahu. Mereka mendeskripsikan apa yang mereka lihat: patung, kalamba, batu berlubang, lumpang dan monumen lainnya.
Generasi berikutnya mulai bertanya lebih jauh.
Bagaimana benda itu dibuat?
Siapa pembuatnya?
Bagaimana masyarakat masa lalu mengorganisasi ruang hidup mereka?
Untuk apa kalamba digunakan?
Bagaimana tradisi megalitik tersebut berhubungan dengan migrasi manusia di kawasan Wallacea?
Pertanyaan-pertanyaan itu kemudian dijawab secara bertahap oleh penelitian arkeologi modern.
UNESCO mencatat bahwa penelitian terbaru menunjukkan kebudayaan megalitik di kawasan Lore Lindu mungkin telah berkembang sekitar 3.000 tahun lalu, dengan perkembangan penting pada periode awal penggunaan logam sekitar 2.500–1.500 tahun lalu.
Artinya, ketika Kruyt dan peneliti Eropa pertama kali berjalan melewati lembah-lembah tersebut, mereka sebenarnya sedang melihat sisa-sisa sebuah kebudayaan yang usianya jauh lebih tua daripada masa kolonial yang mereka jalani.
Mereka hanya belum memiliki seluruh alat ilmiah untuk membacanya.
Batu-Batu yang Menjadi Arsip
Kini, lebih dari satu abad setelah ekspedisi awal para peneliti Eropa itu, cara kita memandang Lore Lindu telah berubah.
Batu-batu yang dahulu hanya dicatat sebagai benda aneh di pedalaman Sulawesi kini dipahami sebagai bagian dari lanskap budaya yang sangat kompleks.
UNESCO mencatat sedikitnya 2.000 tinggalan megalitik dalam 118 situs di kawasan yang mencakup Lembah Napu, Behoa, Bada dan Palu. Jenisnya beragam: kalamba, patung leluhur, lumpang batu, dolmen, batu berukir, batu berlubang, lingkaran batu dan berbagai bentuk monumen lainnya.
Dalam perjalanan panjang itu, catatan Kruyt, Adriani, Sarasin, Schuyt, Grubauer, Raven dan Kaudern menjadi kepingan-kepingan awal dari sebuah teka-teki besar.
Kini para arkeolog Indonesia melanjutkan pekerjaan tersebut dengan metode yang jauh lebih maju.
Tetapi pertanyaan dasarnya tetap sama.
Siapa manusia yang membangun semua ini?
Dan mengapa mereka memilih lembah-lembah di jantung Sulawesi?
Mungkin itulah salah satu daya tarik terbesar Lore Lindu.
Lebih dari seratus tahun setelah para peneliti pertama mencatat keberadaan batu-batu tersebut, kita masih terus mempelajarinya.
Hutan telah tumbuh.
Generasi telah berganti.
Jalan telah berubah.
Tetapi patung-patung batu itu masih berdiri.
Diam, lapuk, dan sebagian tertutup lumut.
Seolah-olah mereka tidak terburu-buru memberikan seluruh jawabannya.
Dan mungkin, memang begitu cara sebuah peradaban tua berbicara kepada manusia modern: bukan melalui kata-kata, melainkan melalui batu yang bertahan lebih lama daripada ingatan manusia.






