PALU EKSPRES, PALU– Program padat karya menjadi salahsatu penopang dalam upaya mewujudkan kebersihan Kota Palu. Program ini melibatkan sedikitnya 4.000 warga kurang mampu dengan insentif Rp250ribu per bulan.
Anggota DPRD Palu, Ridwan Alimuda menyatakan, program ini perlu dipertahankan. Bahkan jika perlu insentifnya ditambah agar lebih optimal dalam menciptakan kebersihan kota.
Menurut Ridwan, nilai Rp250ribu masih terbilang kecil. Meskipun mereka hanya bekerja selama dua hari dalam seminggu. Dan hanya dua jam dalam sehari.
Pasalnya, Kota Palu jelas Ridwan, untuk tahun 2018 dinobatkan menjadi salahsatu dari 10 kota terkotor di Indonesia.
“Saya kira ini harus jadi pertimbangan pemerintah untuk perlahan lahan kembali menata kebersihan kota dengan mengoptimalkan padat karya,” kata Ridwan, Minggu 7 April 2019.
Dia menjelaskan, jika memang ada kemungkinan untuk menaikkan insentif, maka Pemkot Palu minimal menambah juga hari kerjanya. Dari dua menjadi tiga atau empat hari dalam seminggu.
Terlebih katanya paska bencana. Bisa jadi jelas Ridwan, ada diantara peserta padat karya yang menjadi korban langsung saat bencana.
Yang sumber utama mata pencaharian terganggu akibat bencana.
“Bisa menjadi bagian dari pemberdayaan korban,”demikian Ridwan.
Untuk diketahui, program ini sebelumnya melibatkan sebanyak 5000 peserta dari keluarga tak mampu.
Dengan insentif Rp500ribu perbulan. Namun bekerja selama lima hari dalam seminggu. Lokasi kerja mencakup tepi jalanan.
Tahun 2017, program ini dirampingkan menjadi sekitar 4000peserta dengan insentif Rp250ribu perbulan.
Akan tetapi pengurangan insentif diikuti dengan pengurangan hari kerja. Dari lima hari menjadi dua hari dalam seminggu. Cakupan kerjanya pun tidak lagi di tepi jalanan, melainkan rumah ibadah dan sarana prasarana umum lainnya.
(mdi/palu ekspres)






