PALU EKSPRES, PALU– Informasi seputar kematian seorang warga Jalan Mangga, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu, diklarifikasi pihak keluarga. Almarhum memang dinyatakan positif korona setelah meninggal. Namun pihak keluarga membantah jika almarhum pernah ikut kegiatan ijtimah di Pakatto Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
Almarhum bernama H. Nurdin Masalanra (47). Tercatat sebagai pegawai di Inspektorat Provinsi Sulteng. Almarhum wafat di Rumah Sakit Anutapura Palu dengan keluhan awal mengarah covid 19.
Almarhum dibawa ke rumah sakit pada, Selasa 24 Maret 2020. Tim medis menyebut gejala yang dialami mengarah ke Covid 19.
Adik kandung almarhum, Rudi Masalandra, mengaku, almarhum kakaknya sebenarnya mengalami sakit bawaan yakni diabetes dan bronkhitis.
Lalu setelah diperiksa, dalam status Pasien Dalam Pengawasan (PDP) terjangkit Virus Corona walaupun tanpa hasil swab sebagaimana mestinya.
Dirawat sekitar 7 hari, hingga akhirnya 30 Maret 2020 sekitar pukul 1:30 dinihari, pasien Nurdin Masalanra menghebuskan nafas terakhirnya.
Rudi kemudian menceritakan kronologis pemakaman kakaknya. Menurut Rudi, dia dan beberapa kerabatnya langsung menuju rumah sakit setelah kakanya dikabarkan meninggal dunia. Saat di rumah sakit, jasad almarhum sudah terbungkus kantong jenazah.
Pihak RS kemudian menyerahkan jenazah untuk melakukan proses pemakaman sekitar pukul 7:00 WITA. Karena pihak RS meminta pemakaman harus dilakukan segera dalam tempo 4 jam setelah meninggal. Karena disampaikan oleh pihak rumah sakit jangan melewati 4 jam.
“Makanya kami langsung menyewa ambulance swasta untuk membawa jenazah,”ungkap Rudi.
Jenazah kemudian dibawa menuju ke rumahnya yang kebetulan satu kompleks dengan markas Tabliqh Palu di Jalan Mangga. Di tempat ini, jenazah tidak diturunkan dari ambulance. Tidak ada proses pemandian dan salat jenazah.
Beberapa menit kemudian jenazah dibawa menuju Desa Beka, Kabupaten Sigi, untuk dimakamkan.
“Sesampainya di pemakaman, proses penggalian kubur masih berlangsung. Sehingga ambulance menunggu dalam jarak sekitar 15 meter,” jelas Rudi.
Proses pemakaman dilakukan tanpa mengeluarkan atau membuka kantong mayat seperti informasi yang tersebar. Kata dia, pihak keluarga hanya menurunkan jenazah melalui tali kantong jenazah dan merapatkan ke liang kubur dan menambahkan kafan dari luar.
“Selang beberapa hari, keluar hasil laboratorium Swab atas pemeriksaan almarhum sebelum meninggal. Almarhum dinyatakan positif terjangkit Covid 19,” ungkapnya.
Mendengar hal itu, sejumlah keluarga yakni adik kandung almarhum serta sejumlah jamaah yang terlibat pemakaman memeriksakan diri ke rumah sakit terdekat, melalui rapid test.
Dari hasil rapid test sendiri, Rudi mengaku dirinya dinyatakan negatif. Padahal, ia pernah ikut ijtimah di Pakatto.
“Sudah ada hasil Rapidku, alhamdulillah negative dan saya juga baik-baik saja belum ada keluhan,” beber Rudi dalam rilisnya.
Iya menjelaskan, informasi yang simpang siur oleh sejumlah media mengenai keikutsertaan almarhum kakaknya dari pertemuan umat Islam atau Ijtima di Pakatto itu sesat.
Kakaknya tidak pernah ke sana (Gowa, red), namun sebelum mengeluh sakit, kakaknya baru pulang dari Jakarta beberapa hari sebelumnya.
“Media menulis asal tanpa bukti yang diikuti oleh sebagian masyarakat yang mem-posting di media sosial. Almarhum tidak pernah ikut atau dari Ijtima umat Islam di Pakatto, Gowa Sulsel, dia dari Jakarta. Kalau saya iya,” katanya tegas.
“Ada keluarga juga yang di kepala almarhum waktu dimasukkan ke liang kubur, warga Beka. Alhamdulillah, sudah rapid test dan negative juga, saya insya Allah satu kali lagi mau periksa, doakan saja baik-baik saja,” tambah Rudi.
Hingga, kemarin Minggu 5 April 2020, istri almarhum H. Nurdin Masalanra dijemput petugas penanggulangan Covid 19 untuk dilakukan karantina di rumah sakit rujukan covid dan dilanjutkan dengan pemeriksaan Swab, seiring dengan beredarnya pesan suara dari istri almarhum yang bekerja sebagai Guru di salah satu SMU di Kota Palu tentang dirinya. Informasi yang mengarah ke fitnah terhadap jamaah dakwah wa tabliqh Palu terus gencar dilakukan pihak-pihak yang tidak tahu soal informasi yang sesuai fakta.
Ansar, salah satu jamaah Palu yang juga terlibat proses pemakaman pasien positif Corona angkat bicara. Senin 6 April 2020 hari ini, dia bersama dengan 10 orang jamaah lainnya mendatangi RS Anutapura Palu untuk mengklarifikasi anggapan mereka tidak kooperatif dan terkesan tidak mau ikut aturan pemerintah.
“Siapa bilang kami tidak kooperatif dan tidak mau diatur pemerintah ? ini perlu diluruskan,” katanya.
Ditambahkannya, sejak kemarin kami mau datang tapi alat Rapid Test habis. Lantas, hari ini pihaknya datang lagi sekaligus mau bertemu dr. Herry (Plt. Dirut Anutapura) untuk pemeriksaan kesehatan dan menjelaskan kronologi awal jenazah dari sini dijemput keluarga dan dimakamkan di Beka.
“Iya alhamdulillah, tadi ketemu pak Walikota juga dan Dr. Hery, kami sudah bilang kami ikuti aturan yang berlaku, tapi soal jenazah kami mandikan dan disalatkan saat di markas Tabliqh Jalan Mangga, serta dibuka dari kantong jenazah waktu penguburan, itu semua informasi sesat. Masyarakat tahu begitu, tolong klarifikasi ke publik,” tegas Ansar.
Ansar maupun keluarga berharap Wali Kota Drs Hidayat Msi dan pihak RS Anutapura ikut membantu mengklarifikasi, dan masyarakat jangan percaya berita maupun informasi yang beredar, padahal tidak sesuai fakta.
Terkait informasi almarhum ikut serta ke pertemuan umat Islam di Pakatto Gowa, Ansar menegaskan bahwa almarhum tidak pernah ikut pertemuan tersebut karena bukan arahan markasnya. Almarhum bermarkas di salah satu masjid di Perumahan Dosen Palu sebagai markas dakwah mereka.
“Almarhum H Nurdin saudara kami itu, memang tinggal di markas Jalan Mangga, tapi markas dakwah beliau di Perdos sana,” terangnya.
“Kalau cari informasi, datanglah ke kami, bukan dengar sana sini yang ternyata tidak betul,” imbuhnya berharap masyarakat berhenti memfitnah usaha Dakwah Jamaah Tabliqh ini.
“Kalau mau salahkan, ya kami, jangan usaha atas agama ini,”demikian Rudi. (**/mdi/palu ekspres)







