Selasa, 18 Agustus 2026
Opini  

FOMO Politik

Oleh: Mohammad Jafar Bua

Ada kebiasaan unik kita di media sosial kita: takut ketinggalan. Anak-anak muda menyebutnya FOMO, fear of missing out, rasa gelisah karena merasa tidak mengikuti sesuatu yang sedang ramai, tidak mengetahui informasi terbaru, atau tidak menjadi bagian dari percakapan yang sedang dibicarakan banyak orang.

Dalam urusan sehari-hari, FOMO mungkin hanya membuat seseorang merasa harus mencoba restoran yang sedang viral, membeli barang yang sedang tren, atau ikut datang ke tempat yang sedang ramai di media sosial. Tetapi ketika rasa takut ketinggalan itu masuk ke wilayah politik, ceritanya bisa menjadi lebih serius.

Kita bukan lagi sekadar takut ketinggalan tren, tetapi mulai takut ketinggalan sebuah kontroversi, sebuah kemarahan, sebuah tuduhan, atau bahkan sebuah “kebenaran” yang sedang ramai-ramainya dipercaya orang.

Di sinilah FOMO politik mulai bekerja. Kita membuka ponsel, lalu melihat sebuah isu sedang memenuhi beranda. Orang-orang membicarakannya, membuat meme, membuat video, saling berdebat, bahkan saling mencaci. Kita mungkin belum tahu persoalannya secara lengkap, tetapi karena hampir semua orang tampaknya sudah mempunyai pendapat, muncul perasaan bahwa kita juga harus punya pendapat. Tidak enak rasanya kalau hanya diam ketika semua orang sedang ramai.

Akhirnya kita ikut berkomentar, ikut membagikan, atau paling tidak ikut memberikan tanda suka. Kadang kita bahkan ikut marah sebelum sempat bertanya apa sebenarnya yang sedang terjadi.

Dulu, ketika mendengar sebuah berita, pertanyaan pertama yang muncul mungkin sederhana: “Benarkah?” Kita mencari sumbernya, membaca berita dari beberapa media, atau menunggu penjelasan yang lebih lengkap sebelum membuat kesimpulan. Sekarang, pertanyaan itu kadang bergeser menjadi: “Ini sedang viral, ya?”

Perubahan kecil ini sebenarnya cukup penting. Sebab sesuatu yang viral sering kali kita anggap penting, dan sesuatu yang dibicarakan banyak orang perlahan terasa seperti sesuatu yang benar. Padahal keduanya tidak sama. Kebohongan bisa viral, kesalahpahaman bisa viral, video yang dipotong dari konteks bisa viral, bahkan informasi yang sengaja dipelintir pun bisa menjadi viral jika berhasil menyentuh emosi orang banyak.

Masalahnya, otak manusia cukup mudah terpengaruh oleh pengulangan. Kita melihat sebuah informasi sekali, mungkin kita ragu. Kita melihatnya dua kali, kita mulai mengenalinya. Kita melihatnya sepuluh kali dari akun yang berbeda, ditambah meme dan video pendek yang mengulang pesan yang sama, perlahan muncul perasaan bahwa informasi tersebut memang benar. Bukan karena kita sudah memeriksanya, tetapi karena kita sudah terlalu sering melihatnya. Kalimat “saya sudah sering mendengar ini” kemudian tanpa sadar berubah menjadi “berarti memang benar”. Padahal, sering didengar bukan berarti benar.

FOMO politik biasanya juga tidak datang melalui tulisan yang panjang dan rumit. Ia datang melalui sesuatu yang sangat mudah dicerna: video berdurasi beberapa detik, potongan pernyataan seorang pejabat, judul yang dibuat provokatif, meme yang lucu tetapi menyimpan tuduhan, atau unggahan seseorang yang terlihat sangat yakin bahwa ia sedang membongkar sebuah fakta besar.

Setelah itu, orang lain ikut menanggapi. Ada yang mengatakan pemerintah tidak becus, ada yang mengatakan pejabat berbohong, ada yang mengatakan negara sedang menuju kehancuran, lalu muncul orang lain yang membawa persoalan lama dan memasukkannya ke dalam percakapan yang sama. Semua bercampur menjadi satu. Kita menggulir layar sambil membaca semuanya, dan semakin banyak orang yang berbicara, semakin kuat perasaan bahwa kita juga harus menentukan posisi.

Media sosial memang mempunyai cara yang sangat halus untuk mendorong kita melakukan itu. Kita tidak pernah benar-benar diperintah untuk ikut berkomentar. Tidak ada orang yang mengetuk pintu rumah dan mengatakan, “Kamu harus ikut marah.” Tetapi ketika kita melihat sebuah isu terus-menerus muncul di layar, ketika teman-teman kita membicarakannya, ketika orang yang kita ikuti ikut berkomentar, muncul semacam tekanan sosial yang tidak terlihat. Seolah-olah ada suara kecil yang berkata, “Masa kamu tidak tahu? Masa kamu tidak punya pendapat?” Akhirnya, kita merasa harus segera bereaksi, meskipun sebenarnya belum cukup tahu.

Di sinilah algoritma ikut mengambil peran. Setiap kali kita menyukai sebuah unggahan, menonton video sampai selesai, membagikan konten, atau bahkan berlama-lama membaca komentar, sistem mencatat perilaku kita. Algoritma belajar apa yang menarik perhatian kita, apa yang membuat kita berhenti menggulir, apa yang membuat kita tertawa, takut, atau marah. Kemudian ia menyajikan lebih banyak konten yang serupa. Kita pun semakin sering melihat pendapat yang sejalan dengan apa yang sudah kita sukai sebelumnya. Lama-lama kita merasa semua orang berpikir seperti kita, padahal mungkin kita hanya sedang berada di dalam gelembung informasi sendiri.

Di luar gelembung itu, bisa jadi ada banyak orang yang melihat persoalan yang sama dengan cara berbeda. Tetapi karena konten mereka tidak lagi banyak muncul di hadapan kita, kita merasa seolah-olah pandangan tersebut tidak ada. Akibatnya, sebuah persoalan yang sebenarnya memiliki banyak sisi terlihat hanya memiliki dua pilihan: mendukung atau menolak, membela atau menyerang, pro atau kontra. Politik pun berubah menjadi pertandingan antarkubu, sementara ruang untuk berkata “saya belum tahu” semakin sempit.

Yang agak menggelikan, kita kadang bisa sangat marah terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak kita pahami. Ada orang yang sangat yakin sebuah kebijakan buruk, tetapi ketika ditanya apa isi kebijakan itu, ia kesulitan menjelaskan. Ada yang yakin seorang tokoh sedang berbohong, tetapi hanya melihat potongan video beberapa detik. Ada yang menyebut sebuah angka sebagai kebohongan, tetapi tidak pernah mencari sumber angka tersebut.

Ada pula yang menyebarkan meme berkali-kali tanpa pernah bertanya siapa yang membuatnya dan dalam konteks apa. Yang kita miliki akhirnya bukan pengetahuan yang utuh, melainkan perasaan bahwa kita sudah tahu.

Dan perasaan “sudah tahu” itu kadang lebih kuat daripada keinginan untuk benar-benar mengetahui.

Manusia memang tidak terlalu suka merasa sendirian. Dalam kehidupan sehari-hari, kita cenderung merasa lebih aman ketika berada bersama kelompok. Di media sosial, rasa aman itu bisa muncul dalam bentuk jumlah like, komentar, share, dan jumlah penonton. Ketika melihat sebuah unggahan mendapatkan ratusan ribu tanda suka, kita mudah menganggapnya mempunyai legitimasi. Ketika sebuah video sudah ditonton jutaan kali, kita merasa persoalannya pasti besar. Padahal angka-angka itu hanya menunjukkan bahwa konten tersebut mendapatkan perhatian. Ia tidak membuktikan bahwa isinya benar.

Maka, perlahan-lahan pertanyaan kita bisa berubah. Bukan lagi, “Apa yang benar?”, melainkan “Apa yang sedang dipercaya banyak orang?” Padahal keduanya berbeda jauh. Sesuatu bisa dipercaya banyak orang dan tetap keliru. Sebaliknya, sesuatu yang benar belum tentu langsung dipercaya banyak orang.

Karena itu, FOMO politik bukan penyakit orang bodoh. Orang berpendidikan tinggi pun bisa mengalaminya. Orang yang rajin membaca berita pun bisa terjebak. Bahkan orang yang sering mengingatkan orang lain agar tidak mudah percaya hoaks pun bisa ikut menyebarkan informasi yang belum diperiksa ketika informasi tersebut sesuai dengan keyakinannya. Sebab persoalannya bukan hanya soal kecerdasan atau pendidikan. Ada emosi yang ikut bermain. Ketika kita marah, kecewa, takut, atau terlalu bersemangat, kita cenderung mencari informasi yang membuat perasaan kita terasa benar.

Di situlah kita mulai membaca bukan untuk mengetahui, tetapi untuk mencari pembenaran.

Ada satu kalimat yang sebaiknya kita ingat setiap kali berhadapan dengan isu politik yang sedang ramai: “Semua orang bilang begitu” bukan bukti kebenaran. Seribu akun yang mengulang informasi yang sama tidak otomatis membuat informasi itu benar. Sepuluh ribu orang membuat meme yang sama juga tidak membuat angka dalam meme tersebut menjadi valid. Bahkan jutaan orang dapat mempercayai sesuatu yang ternyata keliru.

Masalahnya, media sosial membuat kesalahan bersama itu bergerak sangat cepat. Satu orang membuat sebuah klaim, orang kedua menirunya, orang ketiga membagikannya, orang keempat membuat meme, orang kelima memasukkannya ke grup WhatsApp, lalu orang keenam membuat video reaksi. Beberapa jam kemudian, informasi yang semula mungkin hanya berasal dari satu sumber sudah terlihat seperti pendapat mayoritas. Yang bertambah bukan bukti, melainkan jumlah orang yang mengulanginya.

Lebih menarik lagi, tidak semua orang yang ikut menyebarkan informasi tersebut adalah buzzer. Tidak semuanya dibayar. Tidak semuanya menjadi bagian dari organisasi tertentu. Banyak yang menyebarkan karena benar-benar percaya bahwa informasi tersebut benar. Mereka merasa sedang membantu, sedang membuka mata orang lain, atau sedang mengingatkan teman-temannya agar tidak tertipu. Justru di sinilah kekuatan sekaligus bahayanya. Seseorang tidak perlu menjadi bagian dari operasi propaganda untuk membantu memperbesar sebuah narasi. Cukup percaya, kemudian tekan tombol share.

Setelah itu, informasi bergerak sendiri. Dari satu grup WhatsApp ke grup lain, dari Facebook ke TikTok, dari TikTok ke Instagram, kemudian kembali lagi ke WhatsApp dalam bentuk tangkapan layar. Sumber awalnya semakin jauh, sementara jumlah orang yang melihatnya semakin banyak. Pada akhirnya, orang mungkin tidak lagi bertanya siapa yang pertama kali mengatakan sesuatu. Mereka hanya melihat bahwa “banyak orang sudah membicarakannya”.

Dalam keadaan seperti itu, politik mudah berubah menjadi pertandingan identitas. Orang yang sejak awal tidak menyukai pemerintah akan lebih mudah menerima informasi yang menyudutkan pemerintah, sementara orang yang mendukung pemerintah cenderung lebih mudah mempercayai informasi yang membelanya. Keduanya bisa merasa sedang bersikap rasional. Padahal, tanpa disadari, keduanya mungkin sedang memilih informasi berdasarkan keyakinan yang sudah ada sebelumnya.

Pada titik tertentu, fakta bahkan menjadi urusan kedua. Yang lebih penting adalah siapa yang mengatakan. Kalau orang yang kita sukai mengatakan sesuatu, kita memberi ruang untuk percaya. Kalau orang yang tidak kita sukai mengatakan hal yang sama, kita buru-buru mencari alasan untuk menolaknya. Kita tidak lagi hanya mengatakan, “Saya tidak setuju dengan pendapatnya”, tetapi mulai mengatakan, “Saya tidak percaya apa pun yang datang dari kelompok mereka.”

Inilah ketika politik berhenti menjadi pertukaran gagasan dan mulai berubah menjadi pertarungan identitas.

Media sosial juga membuat orang merasa harus mempunyai pendapat tentang segala sesuatu. Ketika sebuah isu sedang ramai, diam kadang dianggap tidak peduli. Tidak berkomentar dianggap tidak tahu. Bahkan tidak ikut membagikan sebuah konten bisa dianggap sebagai tanda bahwa kita berada di pihak yang salah.

Akibatnya, muncul perlombaan yang sebenarnya cukup melelahkan: siapa yang paling cepat bereaksi, siapa yang paling cepat membuat meme, siapa yang paling cepat menemukan kesalahan, siapa yang paling cepat membela, dan siapa yang paling cepat menyebarkan tuduhan.

Kecepatan akhirnya menjadi lebih penting daripada ketepatan.
Padahal dalam urusan publik, informasi yang terlambat beberapa menit tetapi benar jauh lebih berguna daripada informasi yang cepat menyebar tetapi ternyata keliru.

Cara melawan FOMO politik sebenarnya tidak rumit. Kita hanya perlu belajar memberi jeda kepada diri sendiri. Ketika melihat sesuatu yang membuat kita marah, jangan langsung membagikannya. Cari sumber pertamanya. Kalau yang beredar adalah potongan video, cari video lengkapnya. Kalau ada angka, cari tahu dari mana angka tersebut berasal. Kalau yang kita lihat hanya tangkapan layar, cari berita atau dokumen aslinya. Dan yang paling penting, tanyakan kepada diri sendiri: “Kalau informasi ini ternyata salah, apakah saya masih ingin membagikannya?”

Kalau jawabannya tidak, mungkin memang lebih baik menunggu.
Tidak ada hadiah bagi orang yang paling cepat menyebarkan berita. Tidak ada penghargaan karena menjadi orang pertama yang marah. Tidak ada medali karena menjadi orang pertama yang menemukan bahan untuk menyerang lawan politik. Dan dunia tidak akan berubah hanya karena kita terlambat lima menit mengetahui sebuah isu.

Demokrasi tentu membutuhkan masyarakat yang kritis, tetapi kritis tidak sama dengan mudah marah. Kritis berarti mau bertanya, mau memeriksa, mau membandingkan, mau mendengar pandangan yang berbeda, dan yang paling penting, bersedia mengubah pendapat ketika fakta menunjukkan bahwa kita keliru. Yang paling sulit justru mengakui bahwa orang yang kita dukung juga bisa salah, sementara orang yang tidak kita sukai kadang bisa mengatakan sesuatu yang benar.

Sikap seperti itu mungkin tidak terlalu menarik di media sosial. Ia tidak selalu viral, tidak selalu mendapatkan ribuan komentar, dan tidak membuat kita terlihat sebagai orang yang paling tahu dalam sebuah grup percakapan. Tetapi justru di situlah kedewasaan dalam berpolitik diuji.

Kita tidak harus menjadi orang pertama yang tahu. Kita juga tidak harus menjadi orang pertama yang berkomentar. Kadang menjadi orang yang sedikit terlambat membagikan sesuatu, tetapi sudah memastikan bahwa informasi tersebut benar, jauh lebih berguna daripada menjadi orang pertama yang ikut menyebarkan sesuatu yang kemudian terbukti keliru.

Jadi, jangan takut ketinggalan keributan. Tidak semua yang ramai harus kita ikuti. Tidak semua yang viral harus kita percaya. Tidak setiap persoalan politik mengharuskan kita segera memilih kubu.

Sebab ketika semua orang sedang berteriak, kemampuan untuk berhenti sejenak, memeriksa fakta, dan berpikir dengan kepala dingin justru merupakan salah satu bentuk keberanian yang paling sederhana, dan mungkin paling langka, di zaman media sosial ini.

*Mohammad Jafar Bua, eks Produser Lapangan CNN Indonesia, kini Tenaga Ahli Anggota DPR RI

Mekanisme Pembayaran Paylines Pada Mahjong Ways Diperkenalkan Agar Pemain Tahu Potensi Menang
Strategi Bertahan Dalam Mahjong Ways Saat Tren Kekalahan Diatur Melalui Panduan Terlengkap
Tabel Pembayaran Mahjong Ways Dibaca Terlebih Dahulu Sebelum Menentukan Besaran Taruhan
Sistem Acak RNG Pada Mahjong Ways Memiliki Fakta Penting Yang Wajib Dipahami Pemain
Transformasi Simbol Emas Menjadi Wild Dalam Mahjong Ways Dimaksimalkan Untuk Meraih Kemenangan
Teknologi Yang Semakin Adaptif Dan Terintegrasi Membantu Kasino Online Mengikuti Perkembangan Zaman
Pengembalian Kasino Online Dibandingkan Melalui Sinkronisasi Akurat Dengan Mekanisme Digital Dan Analisis Modern
Transformasi Kasino Online Diidentifikasi Riset Informatika Untuk Menjelaskan Pergeseran Ekosistem Digital
Dinamika Sistem Kasino Online Terungkap Melalui Deteksi Anomali Algoritmik Dengan Data Komprehensif
Era Baru Kasino Online Dimasuki Seiring Meningkatnya Konektivitas Dan Inovasi Teknologi
Pemodelan Terukur Menerangkan Dinamika Probabilistik Kasino Online dalam Menghasilkan Pola Virtual Mutakhir
Pengalaman Interaktif Kasino Online Berkembang Berkat Pemrosesan Data yang Cerdas
Perkembangan Teknologi Interaktif Mendorong Kasino Online Memasuki Generasi Platform yang Lebih Modern
Kasino Online dari Platform Digital Menuju Ekosistem Interaktif yang Semakin Menarik Perhatian Publik
Kecerdasan Adaptif Kasino Online Mendorong Transformasi Industri Permainan Digital Modern
Dokumentasi Kasino Menjadi Fondasi Penting dalam Menjaga Jejak Keamanan Kepatuhan dan Transparansi Sistem
Peta Kerapatan Probabilitas NextSpin Membantu Menghubungkan Indeks Gates of Olympus dengan Pendekatan Sains
Pengelolaan Dokumentasi Kasino Membantu Memperkuat Keamanan Sistem dan Memastikan Kepatuhan Infrastruktur Secara Lebih Terstruktur
Analisis RTP Membantu Memahami Mengapa Jam Main Tidak Selalu Menunjukkan Pola Hasil Permainan yang Sama
Desain Kalkulatif Probabilitas Sweet Bonanza Candyland Membuka Arah Baru dalam Pengolahan Data PGSoft Berbasis Komputasi
Fenomena Mahjong Ways
Free Spins Mahjong Ways
Paytable Mahjong Ways
Cara Mahjong Ways 2
Mahjong Ways
Mahjong Ways 2 Kasino Online
Perspektif Baru Mengubah Cara Memahami Perjalanan Kasino Digital Dihadirkan Ruang Interaktif
Strategi Kasino Online Tetap Menarik Di Tengah Persaingan Ketat Hiburan Online Dikupas Media Digital
Arah Baru Di Dunia Taruhan Dibawa Ketika Teknologi AI Mengubah Permainan Bakarat Kasino Online
Narasi Baru Dalam Evolusi Permainan Baccarat Di Indonesia Dibawa Oleh Fenomena Teknologi
Cara Pemain Membaca Susunan Simbol Berubah Saat Baris Tambahan Pada Studi Kasus Mahjong Ways
Transformasi Simbol Emas Mahjong Ways Sering Disalahartikan Sebagai Penanda Hasil Putaran Berikutnya
Tampilan Mahjong Ways Dan Sekuelnya Dibandingkan Dalam Menyajikan Informasi Fitur Pada Layar Seluler Modern
Perjalanan Mahjong Ways Dari Tema Tradisional Hingga Menjadi Bagian Industri Game Digital Modern Direkapitulasi
Fungsi Scatter Mahjong Ways Dikenali Tanpa Mencampurkannya Dengan Peran Wild Dalam Susunan Kemenangan
Perubahan Dan Makna Baru Dunia Baccarat Di Era Digital Diungkap Melalui Penyelaman
Perjalanan Mahjong Ways 2 Menghadapi Perubahan Tren Di Industri Hiburan Digital Diungkap Media Gaming
Catatan Perubahan Platform Interaktif Masa Kini Yang Mengubah Cara Bermain Menampilkan Baccarat
Wacana Kasino Online Jadi Sorotan Baru Masyarakat Akibat Pergeseran Media Modern
Bakarat Digital Jadi Sorotan Baru Dalam Percakapan Modern Dibawa Oleh Perubahan Gaya Platform
Pengambilan Keputusan Secara Real-Time Dioptimalkan Kasino Online Berbasis Data Adaptif
Konsistensi Kinerja Di Berbagai Situasi Terjaga Melalui Infrastruktur Digital Adaptif
Peluang Baru Untuk Peningkatan Produktivitas Terbuka Lewat Pengelolaan Kasino Online Berbasis Infrastruktur
Melihat Perkembangan Teknologi Lewat Narasi yang Mengiringi Kasino Online di Indonesia
Stabilitas Sistem Pada Lingkungan Kasino Yang Dinamis Didukung Oleh Otomasi Digital Terintegrasi
Laporan Media Terbaru Ungkap Perjalanan Mahjong Ways dan Dampaknya pada Komunitas Indonesia
Catatan Media Mengulas Perjalanan Baccarat di Tengah Transformasi Teknologi Global
Strategi Pengelolaan Kasino Digital Dioptimalkan Berkat Sistem Analitik Modern
Transformasi Kasino Online Menghadirkan Interaksi Digital Baru di Era Teknologi
Saat Platform Baccarat Makin Interaktif Memicu Perubahan Cara Pembahasan di Dunia Maya
Perjalanan Baccarat dalam Transformasi Media Digital Mengubah Wajah Industri Hiburan
Baccarat Jadi Bagian Evolusi Platform Interaktif Transformasi Dunia Hiburan Digital
Observasi Teknologi Ungkap Pergeseran Narasi Permainan Baccarat dan Dampaknya bagi Pemain
Transformasi Media Bicara Perjalanan Baccarat Melalui Pengalaman Digital yang Mengubah Cara Pandang
Teknologi Kasino Online Mampu Mengolah Data Digital Berkat Perkembangan Perangkat Keras Dan Lunak
Perjalanan Platform Interaktif Mengubah Narasi Kasino Online dengan Perspektif Baru
Kebutuhan Terhadap Sistem Komputasi Kasino Online Semakin Meningkat Seiring Pesatnya Transformasi Digital
Komputasi Menjadi Salah Satu Fondasi Utama Yang Mendorong Kemajuan Teknologi Kasino Online Di Era Modern
Hampir Seluruh Aktivitas Kasino Online Saat Ini Memanfaatkan Sistem Komputasi Dalam Prosesnya
Jalur Pembayaran Yang Putus Setelah Cascading Pada Mahjongways Kasino Online Dibaca Dengan Teknik Ini