Bagi pasangan suami istri Ustadz H. Abd. Djalil G. Bua dan almarhumah Ustadzah Hj. Fauziah Ismail (1949-2014), Alkhairaat bukanlah sekadar tempat menuntut ilmu. Di sanalah keduanya mengenal dunia pendidikan, memahami arti pengabdian, dan menemukan nilai-nilai keluarga hingga anak keturunannya yang kemudian dirawat sepanjang hidup.
Ketika menempuh pendidikan di MDA dan Muallimin Alkhairaat Palu, Sulawesi Tengah, mereka belajar fikih, tafsir, hadits dan berbagai ilmu agama. Namun ada sesuatu yang lebih penting yang tumbuh dari lingkungan itu, yakni kesadaran bahwa ilmu tidak cukup hanya dimiliki. Ia harus diajarkan dan digunakan untuk kepentingan orang banyak. Para murid Alkhairaat dididik untuk menjadi guru sekaligus pelayan umat. Nilai itulah yang kelak membawa Abd. Djalil dan Fauziah ke sebuah desa bernama Dolago, Parigi Moutong, tempat mereka menghabiskan sebagian besar hidup untuk pendidikan.
Bagi Abd. Djalil, pilihan menjadi guru juga diperkuat oleh sebuah pengalaman yang ia alami dalam perjalanan dengan kapal. Ia melihat sosok bersorban hijau yang diyakininya sebagai Guru Tua. Pengalaman spiritual tersebut kemudian menjadi salah satu bagian penting dalam keyakinannya tentang jalan hidup. Ia merasa semakin mantap untuk menekuni dunia pendidikan dan kembali kepada jalan ilmu. Pilihan itu bukan pilihan yang menawarkan kehidupan berlimpah. Menjadi guru madrasah pada masa itu berarti harus bersedia hidup sederhana dengan penghasilan yang terbatas. Namun Abd. Djalil percaya bahwa mengajar adalah amal jariyah. Ilmu yang diberikan kepada murid akan terus menjadi amal selama ilmu itu diamalkan dan diteruskan kepada orang lain.
Ketika Ustadz Abd. Djalil mulai mengajar di Madrasah Alkhairaat Desa Dolago pada 10 Juni 1972, pendidikan madrasah di daerah tersebut masih sangat sederhana. Fasilitas terbatas, ruang belajar seadanya dan berbagai kebutuhan pendidikan belum dapat dipenuhi dengan baik. Namun keadaan itu tidak membuat masyarakat kehilangan semangat untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Bagi warga Dolago, madrasah bukan sekadar tempat anak belajar membaca dan menulis. Di sana mereka berharap anak-anak memperoleh pengetahuan agama sekaligus belajar tentang akhlak dan kehidupan. Di tengah keadaan seperti itulah Abd. Djalil memulai pengabdiannya.
Setahun kemudian, pada 1973, perjalanan itu mendapat teman hidup. Abd. Djalil menikahi Fauziah Ismail, gadis asal Masigi, Parigi. Sejak saat itu, kehidupan keduanya berjalan berdampingan dengan kehidupan madrasah. Mereka datang sebagai pasangan muda yang sama-sama memiliki latar pendidikan Alkhairaat dan kemudian bersama-sama berada di tengah masyarakat Dolago. Bangunan madrasah ketika itu masih sederhana dan sebagian menggunakan bahan seadanya. Para guru mengajar dengan kesabaran, sementara masyarakat memberikan bantuan sesuai dengan kemampuan mereka. Abd. Djalil dan Fauziah berada di antara orang-orang yang ikut menjaga agar madrasah tetap hidup dan berkembang.
Kehidupan masyarakat Dolago pada masa itu tidaklah mudah. Sebagian besar warga bekerja sebagai petani dan penghasilan mereka sangat bergantung pada hasil panen. Keadaan tersebut turut memengaruhi kesejahteraan para guru. Tunjangan guru biasanya baru diberikan setelah musim panen padi dan kadang-kadang baru diterima sekitar empat bulan sekali. Dalam keadaan seperti itu, masyarakat menjadi bagian penting dari keberlangsungan madrasah. Mereka membantu dengan berbagai cara. Ada yang ikut memperbaiki bangunan, ada yang menyediakan bahan bangunan dan ada pula yang memberikan hasil panen sebagai bentuk penghargaan kepada para guru. Madrasah tumbuh dari kemampuan masyarakat yang terbatas, tetapi juga dari kesediaan mereka untuk saling membantu.
Pasangan Ustdadz dan Ustadzah ini memahami bahwa anak-anak yang datang ke madrasah adalah harapan bagi masa depan desa. Tidak sedikit murid yang harus berjalan kaki cukup jauh dari rumah untuk sampai ke sekolah. Mereka datang dalam keadaan sederhana, tetapi tetap berusaha mengikuti pelajaran. Pemandangan seperti itu menjadi bagian dari kehidupan mereka sehari-hari. Bagi kedua guru tersebut, keadaan yang serba terbatas tidak boleh mengurangi kesungguhan dalam mendidik. Mereka terus mengajar, membimbing anak-anak dan menanamkan pengetahuan agama serta akhlak.
Tahun-tahun kemudian berjalan dan perlahan-lahan Madrasah Alkhairaat Dolago mengalami perubahan. Jumlah murid semakin bertambah dan perhatian masyarakat terhadap pendidikan agama semakin besar. Tentu saja perjalanan itu tidak selalu lancar. Ada masa ketika madrasah menghadapi keterbatasan dana dan fasilitas, tetapi dukungan masyarakat membuat kegiatan pendidikan tetap berjalan. Dari madrasah itu kemudian lahir murid-murid yang melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. Sebagian di antara mereka menjadi guru, tokoh masyarakat dan pemimpin di berbagai bidang. Bagi masyarakat Dolago, Abd. Djalil dan Fauziah akhirnya tidak hanya dikenal sebagai guru yang berdiri di depan kelas, tetapi juga sebagai orang yang dapat dimintai nasihat dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Rumah keluarga mereka menjadi tempat belajar mengaji anak remaja, putra dan putri. Pada waktu-waktu tertentu, sepekan sekali, juga tempat berkumpulnya para ibu dan bapak saat menggelar pembacaan Barzanji, kitab riyawat Nabi Muhammad SAW.

Namun perjalanan Abd. Djalil bersama Alkhairaat ternyata jauh lebih luas daripada Dolago. Ia tidak hanya dikenal sebagai guru, tetapi juga sebagai seorang murid yang memiliki hubungan panjang dengan para kyai Alkhairaat di Parigi. Pada 1 Januari 1971, K.H. Moh. Sholeh ZA Damar datang ke Parigi sebagai utusan Pengurus Besar Alkhairaat Palu untuk menjadi guru madrasah Alkhairaat. Pada masa itulah Abd. Djalil berada di barisan depan mendampingi sang kyai. Hubungan mereka berlangsung selama puluhan tahun. Abd. Djalil hampir setiap hari berada di sisi K.H. Moh. Sholeh ZA Damar dan kemudian dikenal sebagai “sekretaris abadi” sang guru. Dari 1971 hingga 2006, ia terus mendampingi Aba sampai sang kyai wafat.
Tiga puluh lima tahun adalah waktu yang panjang untuk berjalan bersama seseorang. Dalam rentang itu, Abd. Djalil bukan hanya mengenal gurunya dalam hubungan antara murid dan guru. Ia ikut berada dalam berbagai perjalanan pengabdian Alkhairaat di wilayah Parigi. Ia melihat bagaimana sang kyai berhubungan dengan guru-guru madrasah, masyarakat dan para murid. Ia juga menjadi orang yang berada di dekatnya dalam berbagai urusan sehari-hari. Karena itu, ketika K.H. Moh. Sholeh ZA Damar wafat pada 2006, yang hilang dari kehidupan Abd. Djalil bukan sekadar seorang pimpinan. Ia kehilangan seseorang yang selama puluhan tahun telah menjadi guru sekaligus bagian penting dari perjalanan hidupnya.
Setelah K.H. Moh. Sholeh ZA Damar wafat, tongkat estafet Alkhairaat beralih kepada K.H. Makmur ZA Damar. Abd. Djalil kembali menjalankan tugas yang sama. Ia tetap mendampingi sang kyai, bahkan dalam kesaksian Muhammad Nur Damar, Abd. Djalil seperti bayangan K.H. Makmur yang selalu berada di dekatnya. Hubungan itu berlangsung hingga 2010, ketika K.H. Makmur ZA Damar juga berpulang. Dua orang guru yang selama puluhan tahun berada dalam perjalanan hidup Abd. Djalil telah pergi, tetapi pengabdian yang mereka wariskan tidak berhenti. Abd. Djalil tetap berada di lingkungan Alkhairaat dan meneruskan pekerjaan yang selama ini telah menjadi bagian dari hidupnya.
Bagi Muhammad Nur Damar, Abd. Djalil adalah murid dari sang kyai, teman dan sekaligus pendamping setia guru. Ia melihat sendiri bagaimana Abd. Djalil hampir setiap hari berada di sisi K.H. Moh. Sholeh ZA Damar selama puluhan tahun. Ia juga mengetahui bagaimana Abd. Djalil kemudian meneruskan pendampingannya kepada K.H. Makmur ZA Damar. Dari hubungan yang begitu panjang itu lahir banyak kenangan yang tidak semuanya mungkin tercatat dalam sejarah resmi Alkhairaat. Sebagian hanya tinggal dalam ingatan orang-orang yang pernah menyaksikannya.
Ada satu kalimat Abd. Djalil yang kemudian dikenang Muhammad Nur Damar. Kepada Mamat, demikian ia menyapanya, Abd. Djalil pernah berkata, “Tidak ada satu halaman madrasah Alkhairaat di wilayah Parigi Moutong yang tidak saya injak atau kunjungi.” Kalimat tersebut sederhana, tetapi menggambarkan betapa panjang perjalanan yang telah dilaluinya. Ia mendatangi madrasah-madrasah, bertemu para guru dan melihat kehidupan pendidikan di berbagai tempat. Banyak halaman yang pernah diinjaknya mungkin kini sudah berubah. Banyak guru yang ditemuinya mungkin telah tiada. Anak-anak yang dahulu masih kecil pun telah tumbuh menjadi orang dewasa. Tetapi bagi Abd. Djalil, semua tempat itu tetap menjadi bagian dari perjalanan hidup yang tidak mudah dilupakan.
Muhammad Nur Damar juga menyimpan rasa haru setiap kali bertemu Abd. Djalil, terutama ketika mereka bepergian bersama untuk menghadiri ceramah. Dalam sosok Abd. Djalil yang telah memasuki usia senja, ia seperti kembali melihat Aba dan Akang, dua orang guru yang dahulu selalu didampingi. Ingatan semacam itu sering datang tanpa diminta. Sebuah perjalanan, sebuah nama atau seseorang yang masih hidup dapat membawa seseorang kembali kepada masa lalu. Bagi Mamat, Abd. Djalil bukan hanya orang tua yang dihormati. Ia adalah bagian dari sejarah perjalanan Alkhairaat yang pernah ia saksikan sendiri.
Di sisi lain, kehidupan rumah tangga Abd. Djalil juga telah melewati perjalanan yang panjang. Fauziah Ismail wafat pada 2014, setelah bertahun-tahun mendampingi suaminya dalam kehidupan keluarga dan pengabdian di madrasah. Ia telah menjadi bagian dari masa-masa ketika pendidikan di Dolago masih sederhana, ketika masyarakat mengandalkan hasil panen dan ketika para guru menjalankan tugas dengan segala keterbatasan. Kepergiannya tentu meninggalkan kehilangan bagi keluarga. Namun pekerjaan yang mereka jalani bersama tidak berhenti. Madrasah tetap berdiri dan generasi baru terus datang untuk belajar.
Kini, ketika Abd. Djalil telah memasuki usia senja, jejak pengabdiannya masih dapat dilihat di Madrasah Alkhairaat Dolago. Ia dikenal sebagai salah seorang yang merintis dan membangun madrasah tersebut hingga berkembang seperti sekarang. Perjalanan itu berlangsung jauh lebih lama daripada usia satu generasi murid. Ia dimulai ketika fasilitas masih terbatas, ketika tunjangan guru menunggu musim panen dan ketika masyarakat harus bergotong royong untuk menjaga sekolah tetap berjalan. Dari keadaan seperti itulah sebuah lembaga pendidikan tumbuh dan bertahan.
Apa yang terjadi di Dolago menunjukkan bahwa sebuah madrasah tidak pernah dibangun oleh satu orang saja. Ada guru yang mengajar, masyarakat yang membantu, orang tua yang mempercayakan anaknya, tokoh agama yang memberikan arahan dan murid-murid yang membuat seluruh perjuangan itu mempunyai alasan. Abd. Djalil dan Fauziah menjadi bagian penting dari rangkaian tersebut. Mereka berada di tengah masyarakat selama puluhan tahun, menyaksikan perubahan dan ikut mengusahakannya. Karena itu, sejarah Madrasah Alkhairaat Dolago tidak dapat dipisahkan dari kisah kehidupan mereka.
Ada sesuatu yang menarik dari perjalanan Abd. Djalil: ia menghabiskan sebagian besar hidupnya sebagai seorang murid sekaligus guru. Ia belajar dari gurunya, mendampingi gurunya, lalu meneruskan ilmu yang diterimanya kepada murid-murid. Ketika gurunya telah tiada, ia tidak berhenti. Ia membawa ingatan tentang gurunya ke dalam pekerjaan yang masih harus dilakukan. Mungkin karena itulah kesetiaan menjadi salah satu kata yang paling tepat untuk menggambarkan perjalanan hidupnya. Ia setia kepada Alkhairaat, kepada gurunya, kepada madrasah dan kepada anak-anak yang pernah dipercayakan kepadanya untuk dididik.
Jika suatu hari orang ingin mengetahui seperti apa bentuk pengabdian seorang guru pada masa ketika pendidikan belum memiliki banyak fasilitas, kisah Abd. Djalil dan Fauziah di Dolago dapat menjadi salah satu jawabannya. Tidak ada kemewahan dalam cerita itu. Yang ada adalah ruang belajar sederhana, masyarakat petani, tunjangan yang menunggu musim panen, guru yang tetap datang mengajar dan anak-anak yang berjalan kaki menuju sekolah. Dari keadaan yang sederhana itulah mereka membangun sesuatu yang bertahan lebih lama daripada masa hidup mereka sendiri.
Madrasah Dolago hari ini adalah salah satu saksi dari perjalanan tersebut. Setiap pagi ketika murid-murid datang dan guru memasuki ruang kelas, mungkin tidak banyak yang berpikir tentang orang-orang yang dahulu membangun tempat itu. Namun di balik kegiatan yang tampak biasa tersebut terdapat sejarah yang panjang. Ada Abd. Djalil yang datang sebagai guru muda, ada Fauziah yang kemudian menjadi teman hidupnya, ada masyarakat yang membantu dengan apa yang mereka punya, dan ada para kyai yang selama puluhan tahun menjadi tempatnya belajar dan mendampingi.
Begitulah sebuah pengabdian akhirnya menjadi bagian dari kehidupan banyak orang. Ia tidak berhenti ketika seorang guru meninggalkan ruang kelas. Ia terus berjalan melalui murid-muridnya, melalui guru-guru yang datang setelahnya dan melalui lembaga yang tetap bertahan. Abd. Djalil mungkin tidak dapat mengingat setiap murid yang pernah duduk di hadapannya, dan mungkin tidak semua murid mengingat setiap pelajaran yang pernah ia berikan. Tetapi sebagian dari apa yang ia ajarkan telah menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Dan mungkin itulah yang membuat perjalanan seorang guru berbeda dari perjalanan orang kebanyakan. Ia tidak selalu meninggalkan sesuatu yang dapat dibawa pulang atau dipajang. Yang ditinggalkannya adalah manusia. Selama manusia-manusia itu masih meneruskan ilmu, mengajarkan kebaikan kepada orang lain dan menjaga tempat di mana mereka dahulu belajar, maka pekerjaan seorang guru belum benar-benar berakhir.
Di Dolago, perjalanan itu masih dapat dirasakan. Madrasah tetap menjadi tempat anak-anak belajar. Guru-guru masih mengajar. Masyarakat masih mengenal Alkhairaat sebagai bagian dari kehidupan mereka. Sementara nama Abd. Djalil G. Bua tetap berada di dalam cerita orang-orang yang mengenalnya sebagai guru, murid, pendamping kyai dan salah seorang yang ikut membangun perjalanan panjang pendidikan Alkhairaat di Parigi Moutong. Pasca gempabumi 28 September 2018, gedung sekolah Madrasah Alkhairaat yang juga terdampak bencana, kemudian mendapat bantuan dari JICA (Japan International Cooperation Agency – Badan Kerjasama Internasional Jepang) melalui Pemerintah RI untuk membangun kembali sekolahnya dengan konstruksi ant-gempa, namun bangunan awal sekolah, tempat semua jejak ini dirintis dipertahankan.
Kini, Hj. Fauziah Ismail telah lebih dahulu pergi. K.H. Moh. Sholeh ZA Damar dan K.H. Makmur ZA Damar juga telah lama meninggalkan dunia. Banyak orang yang dahulu berjalan bersama Abd. Djalil mungkin telah menyelesaikan perjalanan mereka masing-masing. Namun sebagian dari kehidupan mereka masih bertemu dalam satu tempat: madrasah. Di sanalah ingatan tentang masa lalu bertemu dengan anak-anak yang sedang memulai masa depan.
Mungkin pada akhirnya bukan siapa yang paling lama dikenang yang menjadi ukuran sebuah pengabdian. Yang lebih penting adalah apa yang masih hidup setelah seseorang selesai menjalankan tugasnya. Di Dolago, jawabannya dapat dilihat dengan sederhana: sebuah madrasah yang tetap berdiri, guru-guru yang masih mengajar dan anak-anak yang masih datang untuk belajar. Di antara mereka semua, ada jejak panjang seorang guru yang sejak muda memilih jalan ilmu, lalu menjalaninya dengan sabar hingga usia senja. ***






