PALUEKSPRES.COM – 7 September 1976 menjadi salah satu tanggal penting dalam sejarah modernisasi transportasi udara TNI Angkatan Udara. Pada hari itu, Fokker F-27 Troop Ship (F-27 TS) pertama untuk TNI AU tiba di Indonesia. Pesawat tersebut kemudian dioperasikan oleh Skadron Udara 2, satuan yang memiliki peran penting dalam angkutan udara militer. Skadron Udara 2 bermarkas di Pangkalan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma, Jakarta.
Pesawat pertama itu tercatat dengan nomor T-2701.
Kedatangannya bukan sekadar penambahan satu jenis pesawat baru. F-27 hadir ketika TNI AU sedang berusaha memperbarui armada angkut yang sebelumnya mengandalkan pesawat-pesawat generasi lebih tua, termasuk C-47 Dakota dan Ilyushin Il-14.
F-27 merupakan pesawat turboprop bermesin ganda buatan Fokker, perusahaan penerbangan Belanda. Dibandingkan pesawat piston yang lebih tua, penggunaan mesin turboprop memberikan kemampuan jelajah dan efisiensi yang lebih baik sekaligus menawarkan kemampuan operasi yang sesuai dengan kebutuhan angkutan militer.
Versi Troop Ship dirancang untuk mengangkut personel maupun kargo. Bagi TNI AU, karakter tersebut membuat F-27 cocok untuk berbagai misi: mengangkut pasukan, logistik, peralatan, bantuan kemanusiaan, hingga mendukung operasi dan mobilitas antardaerah kepulauan Indonesia.
Dan konteks geografis Indonesia membuat kemampuan tersebut sangat penting.
Indonesia adalah negara kepulauan yang wilayahnya terbentang ribuan kilometer. Jalan raya dan jaringan kereta api belum mampu menghubungkan seluruh wilayah. Dalam kondisi seperti itu, pesawat angkut bukan hanya alat militer, tetapi juga salah satu instrumen konektivitas negara.
Dari Dakota ke F-27
Modernisasi tersebut berlangsung secara bertahap.
Setelah T-2701 datang pada 7 September 1976, pesawat-pesawat berikutnya menyusul pada September hingga November 1976 dan satu unit terakhir pada Februari 1977. Dengan demikian, TNI AU secara bertahap membangun satu armada F-27 TS yang lebih modern untuk Skadron Udara 2.
Rangkaian kedatangannya antara lain:
- T-2701 — 7 September 1976
- T-2702 — 26 September 1976
- T-2703 — 26 September 1976
- T-2704 — 20 Oktober 1976
- T-2705 — 1 November 1976
- T-2706 — 12 November 1976
- T-2707 — 29 November 1976
- T-2708 — 9 Februari 1977
Dengan hadirnya armada tersebut, Skadron Udara 2 memasuki fase baru dalam sejarahnya.
Bukan hanya untuk perang
Salah satu hal menarik dari sejarah F-27 TNI AU adalah luasnya jenis misi yang kemudian dijalankan.
Pesawat angkut seperti F-27 tidak selalu berada dalam konteks operasi tempur. Dalam negara kepulauan yang sering menghadapi bencana alam, pesawat semacam ini juga memiliki fungsi kemanusiaan dan penyelamatan.
Armada F-27 Skadron Udara 2 kemudian digunakan dalam berbagai operasi dan misi, termasuk dukungan jembatan udara, pencarian dan pertolongan, serta operasi kemanusiaan. Salah satu catatan penting adalah keterlibatannya dalam penanganan tragedi KM Tampomas II pada Januari 1981.
Dengan demikian, kedatangan F-27 pada 7 September 1976 dapat dilihat sebagai bagian dari proses yang lebih besar: membangun kemampuan negara untuk bergerak cepat di wilayah kepulauan.






