Rudi Walean. Foto: HAMDI ANWAR/PE
PALU EKSPRES, PALU – Perubahan sistem bagi hasil grab di Kota Palu dinilai tidak manusiawi. Perubahan sistem tersebut menyebabkan penghasilan driver di Kota Palu menurun drastis.
Rudi Walean dari komunitas patriot mitra grab di Palu menjelaskan, akibat perubahan sistem, dia dan ratusan driver grabbike kini kesulitan memenuhi biaya hidup sehari hari.
Menurut dia perubahan sistem yang terjadi berkaitan dengan target dan jarak pengantaran. Termasuk hitungan persentase insentif yang dibagi ke driver dalam setiap pengantaran pelanggan.
“Setelah perubahan kami hitung hitung insentif kami menurun sampai 60 persen dari sebelumnya,” ungkap Rudi, Minggu 7 Juli 2019.
Dengan siatem bagi hasil yang terbaru ini, insentif para driver sebut dia, tidak akan diberikan apabila tidak memenuhi target pengantaran sebagaimana kebijakan manegemen grab ditingkat pusat.
“Yang terjadi justru kami yang dirugikan karena harus menambah biaya operasional akibat jarak tempuh yang bertambah. Jumlah trip memang ditambah tapi insentif kurang,” ujarnya.
Secara umum Rudi menggambarkan insentif yang diperoleh sebelum dan setelah berubahnya sistem. Dalam hitungan rupiah insentif dari satu trip yang sebelumnya bisa Rp10 ribu kini berkurang menjadi Rp8ribu.
“Bagi kami sistem ini sangat tidak manusiawi,” keluhnya. Kondisi itu tambah Rudi kian diperparah akibat tidak proaktifnya management grab driver center (GDC) di Kota Palu. Sebenarnya sistem dari grab pusat bisa menyesuaikan dengan kondisi daerah masing-masing untuk menetapkan sistem bagi hasil.
Dalam artian sistem bagi hasil itu bisa diterapkan berdasarkan kondisi suatu daerah. Asalkan ada usulan dari GDC suatu daerah.
“Ini yang tidak dilakukan GDC di Palu,”ujarnya
. Padahal, sebagai perintis komunitas drivebike di Kota Palu, pihaknya telah menyampaikan masukan bagi management grab. Agar sistem bagi hasil itu perlu menyesuaikan kondisi lapangan di Kota Palu.
“Alasan GDC ini kebijakan grab pusat. Padahal kita di daerah sebenarnya bisa mengusul,”jelasnya. Contohnya kata dia di Kota Makassar dan Manado. Sistem bagi hasil di dua daerah itu dilakukan atas masukan dari para driver yang menjadi mitra kerja grab.
“Jadi atas masukan dari driver inilah kemudian yang dijadikan dasar untuk mengatur aplikasi sistem bagi hasil itu. Tapi pihak GDC tidak faham soal itu,” bebernya.
Sebagai respon atas tidak proaktifnya management GDC Palu, pihaknya lanjut Rudi akan melakukan aksi besar besaran untuk mendesak penggantian management. Dia menilai ada upaya terselubung dari management untuk merugikan mitra grab di Kota Palu terkait pengaturan aplikasi sistem yang menjadi dasar bagi hasil tersebut.
“Kita akan aksi, menguasai kantor GDC. Mereka tidak memahami grab ini tidak akan berkembang apabila tidak ada mitra. Kami inilah sebenarnya yang menjadi tumpuan grab. Bukan para menagemen itu,” pungkasnya.(mdi/palu ekspres)






