Minggu, 30 Agustus 2026

Pancasila ‘Belum’ Dalam Tindakan

Kasman Jaya Saad. Foto: Istimewa

(Refleksi hari lahir Pancasila)

Oleh Kasman Jaya Saad (Dosen Unisa Palu)

Di tengah pandemi Covid-19, kembali negeri ini merayakan hari lahir Pancasila, 1 Juni 2020. Sebagai dasar negara, Pancasila harusnya diposisikan sebagai sumber utama bagi para pemimpin pemerintahan dalam pengelolaan negara. Dan sebagai falsafah bangsa, Pancasila sejatinya harus mampu menjadi ruh dan jiwa bagi setiap perilaku pribadi-pribadi anak bangsa. Jadi tidak sekadar perayaan formalitas an sich dan hanya berhenti dalam lingkaran politik praktis dan kekuasaan. Nilai-nilai Pancasila harus dibumikan, meminjam tema hari lahir Pancasila kali ini adalah Pancasila dalam tindakan.

Namun terpaparnya bangsa ini dengan perilaku koruptif para elit dan gersangnya kepedulian anak negeri ini, ditandai dengan makin kuatnya polarisasi dan penyalagunaan kewenangan  di tengah masyarakat, menunjukkan bahwa kemuliaan nilai-nilai Pancasila masih sebatas retorika, ‘belum’ dalam tindakan. Masih ada jarak antara harapan dengan kenyataan, antara Das sollen atau kaidah atau norma dalam nilai-nilai Pancasila yang seharusnya dilakukan dan Das sein atau kenyataan yang dalam tindakan.  Di tengah pandemi Covid-19 penyalagunaan bantuan sosial masih ‘banyak’ terjadi, dan menggerus kepercayaan masyarakat. Tak ada ketegasan dari pemerintah, masyarakat menjadi apatis, enggan saling membantu.   Tiap-tiap dari mereka merasa paling membutuhkan dan orang lain, itu menjadi urusannya, tidak ada niat baik untuk sesekali berkorban bahwa ada yang lain juga membutuhkan. Begitu juga sebaliknya. Persaudaraan makin memudar, egoisme makin mengemuka.

Dan semangat nilai ketuhanan yang seharusnya menjadi sandaran transenden, tak memiliki makna apa-apa, miskin dalam tindakan. Para elit negeri sudah tidak segan mengkhianati negeri dan sesamanya. Sumpah jabatan sebagai wujud permaknaannya, disalahgunakan, hanya dijadikan formalitas an sich, karena ketamakan dan hasrat meraih kehormatan rendah begitu merajalela.

Pada rana kemanusiaan, yang mestinya mewujudkan kesamaan, kederajatan dan persaudaraan manusia, gotong royong tergilas oleh perilaku pragmatis dan hedonistis para elitnya, sehingga tak lagi memiliki kepeduliaan akan derita rakyat yang tetap kelam dan tak menikmati manisnya makna kemerdekaan yang dijanjikan, adil dan makmur. Dalam bahasan yang lugas Yudi Latif  (Revolusi Pancasila,2015) menyebut, ditemukan di negeri ini adalah  jalan bercabang dua yang satu adalah jalan mulus bagi segelintir orang yang hidup bergelimpangan, sama dapat, sama bahagia, sedang jalan yang satu lagi adalah jalan terjal bagi kebanyakan orang yang hidup berkekurungan, sama ratap, sama sengsara. Kekuasaan datang-hilang, silih berganti membuai mimpi, tetapi nasib rakyat tetap sama, kekal menderita.

Persatuan menjadi dasar penting dalam bernegara, tercegat kepentingan golongan dan kekuasaan, sehingga saling mengucilkan dan bahkan saling meniadakan. Keragaman pun, yang semestinya menjadi wahana saling mengenal, saling belajar dan menyempurnakan serta melayani untuk memperkuat persatuan, justru menjadi wahana untuk mempertontonkan kedominasian yang menyeret untuk saling mengklaim kekuatan, dan mengabaikan nilai-nilai keanekaragaman yang menopang persatuan.

Dan Pemilu atau Pilkada yang sebagai perwujudan demokrasi permuswaratan, dengan maksud untuk memperkuat daulat rakyat, justru menghadirkan polarisasi dan mengancam persatuan. Para elit belum juga menghadirkan demokrasi yang bermartabat, bahwa kepentingan rakyat diatas segala-galanya. Demokrasi hanya dimaknai sekedar jargon dalam proses politik  dan sekedar pilihan sebagai bentuk wujud berlangsungnya proses politik dalam bernegara. 

Demokrasi akhirnya tidak mampu menawarkan solusi berbagai problem sosial masyarakat dan bahkan dibiarkan menjadi alat pembenaran untuk saling menyerang, dengan mengoperasikan sarana pemaksaan dan kebencian. Menghalalkan segala cara yang penting tujuan tercapai, begitu banyak dipraktekkan, yang semestinya tidak mendapatkan tempat dalam Pancasila.  Dan makin kuatnya penetrasi neoliberalisme dalam demokrasi, memaksa demokrasi seakan hanya milik pemodal, dan yang terpilih adalah pada mereka yang memiliki “amunisi gizi (dana)’ yang besar, mengabaikan kapasitas apalagi integritas. Sehingga yang tersisa, hanya kekecewaan dan ketidakberdayaan pemilik kedaulatan yang bernama rakyat. Daulat rakyat bernama pemilu itu akhirnya  hanya memperkuat sekelompok  atau segelintir orang.

Hakekat daripada adil menurut pengertian ilmiah, yaitu terpenuhinya segala sesuatu yang telah merupakan suatu hak dalam hidup bersama sebagai sifat hubungan antara satu dengan yang lain, mengakibatkan bahwa memenuhi tiap-tiap hak di dalam hubungan antara satu dengan yang lain adalah wajib. Namun semangat mewujudkan keadilan di negeri ini  masih saja termangu, terjal dan berliku. Penuh onak dan duri bagi rakyat kebanyakan, sekedar menikmati keadilan. Keadilan seakan menjadi barang langka. Hukum lumpuh tak kuasa meredam penyalahgunaan kekuasaan. Hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Dan  apabila hal ini terus berlanjut, maka Pancasila sebagai dasar  dan falsafah bangsa akan kehilangan eksistensinya. ***

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam