Minggu, 30 Agustus 2026
Palu  

Syarifah Sa’diyah, Putri Guru Tua Tutup Usia

Syarifah Sa’diyah. Foto: Istimewa

PALU EKSPRES, PALU – Syarifah Sa’diyah binti Sayyid Idrus bin Salim Al Djufrie, putri Pendiri Perguruan Alkhairaat, Habib Idrus bin Salim Aljufri (Guru Tua) dikabarkan tutup usia, Ahad (20/12/2020).
Dari pengumuman yang disampaikan Pengurus Masjid Alkhairaat, almarhumah menghembuskan nafas terakhir di RSU SIS Aljufri, sekitar pukul 19.00 Wita dan akan disalatkan di Masjid Alkhairaat, Senin (21/12/2020) pukul 11 siang.
Saat ini, jenazah Syarifah Sa’diyah sedang disemayamkan di rumah duka, Jalan Wahid Hasyim Palu.
Putri kedua pasangan Guru Tua dengan Intje Ami Dg Pawindu ini meninggal dunia di usia sekitar 83 Tahun. Ia lahir di Palu Tanggal 15 Agustus 1937.
Berdasarkan informasi yang diperoleh, Ketua Umum Wanita Islam Alkhairaat (WIA) ini memang telah dirawat di RSU SIS Aljufri, sebelum akhirnya meninggal dunia.
Wanita yang aktif di berbagai kegiatan sosial dan menguasai kitab kuning ini berpulang ke Rahmatullah dengan meninggalkan delapan orang anak, hasil pernikahannya dengan Sayyid Idrus bin Husain Al Habsyi.

ULAMA PEREMPUAN KOTA PALU

Syarifah Sa’ddiyah Al Habsyi binti Idrus bin Salim Al Jufrie bagi masyarakat setempat dikenal sebagai Ulama, dan ketua Wanita Islam serta pimpinan pondok Pesantren Putrie Al Khaerat (WIA). Aktif di bidang Dakwah, Panti Asuhan dan kegiatan Rumah Tangga (Hafsya, sekretaris Umum Wanita Islam 2012-2014). Pengakuan keulamaannya setidaknya diperoleh dari keterangan yang diberikan oleh Prof. DR. KH. Zainal Abidin ketua MUI kota Palu, juga HS. Saggaf sebagai ketua MUI Provinsi Sulawesi Tengah, mengemukakan bahwa ulama Kota Palu mengemukakan bahwa Ulama Syarifah Sa’ddiyah Al Habsyi binti Idrus bin Salim Al Jufri selalu aktif di bidang dakwah, panti asuhan dan kegiatan rumah tangga. (News Al Khaerat. 2011).
Jika kita menengok silsilah keturunan dan sejarah kelahiran Syarifah Sa’diyah binti Sayyid Idrus bin Salim Al Djufrie, tidak terlepas dari ketokohan kakeknya Salim Al Djufrie. Beliau disebutkan adalah salah seorang laki-laki bangsa Hadramaut di Yaman Selatan, dikisahkan bahwa beliau berkunjung ke Sengkang Kabupaten Wajo, di perguruan As’Adiyah. Pada sekelompok komunitas orang Arab, Salim Al Djufrie ingin bertemu dengan seorang perempuan yang bernama Syarifah Nur, anak dari seorang Raja Wajo yang bernama Arung Matoa. Kemudian ketika Syarifah Nur ini bertemu dengan Salim Al Djufrie, ternyata ada hubungan akrab dengan Salim Al Djufrie. Salim Al Djufrie ternyata menaruh hati dan menjalin cinta dan kasih sayang kepadanya, dan pada akhirnya hubungan tersebut semakin membuncah. Hasil dari kasih sayang antara Salim Al Djufrie dengan Syarifah Nur melahirkan kesepakatan bersama untuk meresmikannya dalam sebuah ikatan pernikahan.
Perkawinan ini berlangsung di sekitar tahun 800-an (delapan ratusan). Sejarah ini dikisahkan oleh Prof. DR. Nur Sulaeman dalam buku “Dakwah di Tana Kaili” Kota Palu (800an M). (Wawancara: Habib AlDjufri).
Pernikahan Salim Al Djufrie dengan Syarifah Nur anak raja Kabupaten Wajo yang bernama Arung Matoa, melahirkan seorang laki laki yang bernama Sayyid Idrus bin Salim Al Djufrie (guru Tua).
Sayyid Idrus bin Salim Al Djufrie mengabdikan diri selama kurang lebih 40 tahun di Nusantara (Indonesia Timur) demi kepentingan umat Islam, dengan tujuan untuk membentuk watak manusia beragamais dan Pancasilais bangsa Indonesia.
Singkat cerita, Sayyid Idrus bin Salim Al Djufrie akhirnya mempersunting Intje Ami Dg. Pawindu di kota Palu Sulawesi Tengah (Raja dan bangsawan Kaili-Palu). Perkawinan ini kemudian melahirkan dua orang anak yaitu Syarifah Sida Al Djufrie dan Syarifah Sa’diyah Al Djufrie.
Ia lahir di Palu pada tanggal 15 Agustus 1937. Ia adalah anak kedua dari pasangan Sayyid Idrus bin Salim Al Djufrie dengan Intje Ami Dg. Pawindu, di Palu Sulawesi Tengah. Syarifah Sa’diyah bin Sayyid Idrus bin Salim Al Djufrie masih keturunan Bangsawan Kaili di Palu. Kehidupan Syarifah Sa’diyah sebagai seorang ulama, beliau sebagai ibu rumah tangga, senang bekerja sebagai pedagang, beliau membina Pondok Pesantren Putri, Panti Asuhan dan Majelis Taklim Al Khaerat.
Syarifah Sa’diyah mulai masuk sekolah ketika ia berumur 12 tahun. Di sekolah Madrasyah Ibtidaiyyah Al Khaerat pada 1949 selama 6 tahun, dan selesai pada tahun 1955, umur Syarifah Sa’diyah pada waktu itu 18 tahun. Kemudian melanjutkan pendidikan di sekolah Muallimin persiapan untuk jadi ustadzah, selama 4 tahun dan selesai pada tahun 1961.
Pendidikan Syarifah Sa’diyah tidak tinggi, tapi dari segi ilmunya luar biasa, beliau sekolah di Muallimin (persiapan untuk guru) dan menjadi ustadzah. Ilmu pengetahuannya serba bisa, bukan karena anak ulama pendiri Al Khairaat. Ia bisa baca doa apa saja, dia bisa ceramah apa saja, dan dia bisa bahasa Arab. Syarifah Sa’diyah prilakunya memang bisa dicontoh, dimana pun mereka berada di kawasan Timur Indonesia ini pasti orang mengakui keulamaan dan ketokohannya. Keilmuan agamanya dan prilakunya semua diakui oleh masyarakat.
Prof. DR. H. Zainal Abidin sebagai ketua MUI kota Palu, mengakui bahwa Hj. Syarifah Sa’diyah, dari segi pengetahuan dan ketokohann dan kepemimpinanya dalam memimpin WIA, tidak diragukan untuk dipilih sebagai ulama, karena memang dibina dan dilatih oleh Ayahnya sendiri.
Setelah tamat di mualimin tidak lanjut sekolah tapi jadi ustazah dan mengajar, beliau menjadi ustazah pertama di lingkungan Al Khairaat kemudian menciptakan ustazah berikutnya. Dulu Wanita Islam Al Khairaat sudah ada, tapi belum terbentuk sebagai organisasi, hanya berbentuk pengajian-pengajian wanita di rumah-rumah.

Syarifah Sa’diyah mengajar di sekolah atau Madrasah bertahun tahun dan disisipkan waktunya untuk ceramah pada usia 25 tahun. Syarifah Sa’diyah mulai menjadi Ustazah pada tahun 1950 yang aktif membina dan memberikan dakwah di kota Palu dan sekitarnya antara lain, mulai dari membina pendidikan Formal dan Non Formal, Taman Pengajian Al Quran TPQ dan banyak jabatan organisasi sosial hingga menjadi menjadi Pengurus Partai Golkar Kabupaten Donggala dan menjadi anggota DPRD Kabupaten Donggala.
Pada tahun 1955, Syarifah Sa’diyah bin Sayyid Idrus bin Salim Al Djufrie kawin dengan Sayyid Idrus bin Husain Al Habsyi dengan usia Syarifah Sa’diyah pada waktu itu 18 tahun. Perkawinan ini melahirkan 8 orang anak, 7 orang laki-laki dan 1 orang perempuan yaitu, Sayyid Abd. Kadir Al Habsyi, Lc., Sayyid Abdullah Al Habsyi, Sayyid, Salim Al Habsyi, Syarifah Sakinah Al Habsyi, Sayyid Muh. Al Bagir Al Habsyi, Sayyid Umar Mokhtar Al Habsyi Lc. M. Ag., Sayyid Hasan Al Habsyi S.Ag. M.Ag., dan Sayyid Husain Al Habsyi, S.E. Sedangkan Syarifah Sidah kakak kandung Syarifah Sa’diyah kawin dengan Sayyid Idrus bin Ali bin Husain Al Habsyi, perkawinan ini melahirkan 12 orang anak.
Menurut rencana almarhumah akan dikebumikan besok jam 11 siang. (kia – dihimpun dari Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar)

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam