PALUEKSPRES.COM — Anak tunggal kerap memiliki citra yang berbeda di mata masyarakat. Karena tumbuh tanpa saudara kandung, mereka sering dianggap lebih manja, egois, sulit berbagi, terlalu dekat dengan orang tua, atau justru lebih mandiri dibandingkan mereka yang tumbuh bersama saudara.
Anggapan tersebut bahkan sering dibawa hingga seseorang memasuki usia dewasa. Anak tunggal disebut cenderung menikmati kesendirian, memiliki standar tinggi, lebih nyaman berbicara dengan orang dewasa, hingga sangat menghargai ruang pribadi.
Tetapi, benarkah status sebagai anak tunggal menentukan kepribadian seseorang?
Penelitian psikologi memberikan jawaban yang jauh lebih kompleks.
Salah satu studi terbesar mengenai persoalan ini dilakukan Samantha Stronge, John H. Shaver, Joseph Bulbulia, dan Chris G. Sibley. Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Research in Personality pada 2019 itu melibatkan 20.592 orang dewasa di Selandia Baru.
Hasilnya menarik.
Peneliti memang menemukan beberapa perbedaan rata-rata antara orang dewasa yang tidak memiliki saudara kandung dan mereka yang memiliki saudara. Namun, besarnya perbedaan tersebut sangat kecil, bahkan tidak mencapai ambang efek yang tergolong kecil.
Orang dewasa yang tumbuh sebagai anak tunggal rata-rata memiliki skor sedikit lebih rendah pada conscientiousness dan honesty-humility, serta sedikit lebih tinggi pada neuroticism dan openness to experience.
Namun ukuran efeknya hanya sekitar 0,08–0,11. Peneliti menyimpulkan bahwa keyakinan populer mengenai anak tunggal ternyata tidak sepenuhnya sesuai dengan perbedaan kepribadian yang ditemukan dalam data.
Dengan kata lain, menjadi anak tunggal bukanlah “cetakan” yang otomatis menentukan seseorang akan menjadi seperti apa ketika dewasa.
1. Lebih mandiri dan nyaman melakukan sesuatu sendiri
Salah satu perilaku yang paling sering dilekatkan kepada anak tunggal adalah kemandirian.
Karena tidak mempunyai saudara kandung untuk diajak bermain, berdiskusi, bernegosiasi, atau berbagi tanggung jawab di rumah, anak tunggal mungkin sejak kecil lebih sering melakukan berbagai aktivitas secara mandiri.
Kebiasaan itu bisa terbawa hingga dewasa.
Mereka mungkin lebih nyaman bekerja sendiri, mengambil keputusan tanpa banyak meminta pendapat orang lain, atau menikmati waktu yang dihabiskan seorang diri.
Namun, hal ini tidak berarti anak tunggal lebih antisosial.
Penelitian terhadap anak tunggal justru menunjukkan bahwa mereka tidak secara umum lebih rendah dalam kemampuan sosial dibandingkan anak yang memiliki saudara.
Meta-analisis yang dilakukan Denise F. Polit dan Toni Falbo terhadap 157 penelitian menemukan bahwa anak tunggal dan anak yang memiliki saudara pada dasarnya memiliki hasil yang sebanding dalam sejumlah aspek, termasuk popularitas di antara teman sebaya, ekstraversi, otonomi, kematangan, kecemasan, kesehatan mental, dan masalah perilaku.
Jadi, menikmati kesendirian tidak sama dengan tidak mampu bersosialisasi.
2. Bisa memiliki dorongan berprestasi yang kuat
Anak tunggal juga sering dianggap mempunyai standar yang tinggi terhadap dirinya sendiri.
Ada penjelasan yang cukup masuk akal mengenai hal ini. Ketika hanya terdapat satu anak dalam keluarga, perhatian, waktu, sumber daya pendidikan, dan ekspektasi orang tua tidak perlu dibagi dengan saudara kandung.
Akibatnya, seluruh perhatian keluarga dapat lebih terpusat kepada anak tersebut.
Sejumlah penelitian lama memang menemukan adanya kecenderungan anak tunggal memiliki achievement motivation atau motivasi berprestasi yang relatif tinggi.
Meta-analisis Polit dan Falbo terhadap 141 penelitian menemukan bahwa anak tunggal secara signifikan lebih baik dibandingkan beberapa kelompok pembanding dalam motivasi berprestasi dan penyesuaian diri. Namun, dalam sebagian besar aspek kepribadian lainnya, mereka tidak berbeda secara berarti dari anak yang memiliki saudara.
Karena itu, jika seorang anak tunggal tumbuh menjadi orang dewasa yang sangat berorientasi pada pencapaian, hal tersebut mungkin berkaitan dengan pengalaman keluarga dan pola pengasuhan.
Tetapi bukan berarti setiap anak tunggal pasti ambisius atau perfeksionis.
3. Lebih terbiasa berinteraksi dengan orang dewasa
Tidak memiliki saudara kandung membuat seorang anak lebih sering berinteraksi dengan orang tua atau anggota keluarga dewasa.
Percakapan di rumah, aktivitas bersama, bahkan cara menyelesaikan konflik mungkin lebih banyak melibatkan orang dewasa dibandingkan hubungan antarsaudara.
Pengalaman tersebut secara teoritis dapat membuat sebagian anak tunggal menjadi lebih terbiasa berada di lingkungan orang dewasa.
Ketika dewasa, hal itu mungkin terlihat dari kenyamanan mereka berbicara dengan orang yang lebih tua, berdiskusi mengenai persoalan tertentu, atau menjalin hubungan dekat dengan orang-orang di luar kelompok usia mereka.
Namun, penelitian tidak memberikan dasar kuat untuk menyatakan bahwa anak tunggal secara umum mempunyai kemampuan sosial yang lebih tinggi.
Dalam meta-analisis terhadap 157 penelitian, anak tunggal justru ditemukan sebanding dengan anak yang memiliki saudara dalam berbagai ukuran sosial dan perkembangan.
Artinya, pengalaman berinteraksi dengan orang dewasa mungkin menjadi salah satu pengalaman khas sebagian anak tunggal, tetapi bukan karakter universal.
4. Menghargai ruang pribadi
Tidak mempunyai saudara berarti seorang anak tidak perlu berbagi kamar, mainan, perhatian orang tua, maupun ruang pribadi dengan saudara kandung.
Dalam kondisi tertentu, pengalaman tersebut dapat membuat seseorang terbiasa memiliki ruang sendiri.
Ketika dewasa, kebiasaan itu mungkin muncul dalam bentuk kebutuhan untuk memiliki waktu pribadi, menikmati aktivitas sendirian, atau merasa nyaman bekerja tanpa banyak gangguan.
Tetapi lagi-lagi, hal tersebut tidak boleh disamakan dengan kesepian.
Seseorang bisa sangat menikmati kesendirian sekaligus mempunyai hubungan sosial yang sehat.
Penelitian mengenai anak tunggal secara keseluruhan juga tidak mendukung stereotip bahwa mereka secara otomatis mengalami kesulitan dalam penyesuaian sosial.
Bahkan, meta-analisis terhadap 157 penelitian menemukan bahwa anak tunggal tidak dirugikan dalam hal penyesuaian diri, hubungan dengan orang tua, popularitas teman sebaya, maupun sejumlah ukuran kesehatan mental.
5. Membangun hubungan yang sangat dekat dengan orang tertentu
Tanpa saudara kandung, hubungan dengan teman, sepupu, orang tua, pasangan, atau anggota keluarga lainnya bisa menjadi sangat penting.
Bagi sebagian anak tunggal, teman dekat bahkan dapat menjadi figur yang memainkan sebagian fungsi emosional yang dalam keluarga lain mungkin diisi oleh saudara kandung.
Ketika dewasa, hal itu dapat terlihat dari kecenderungan membangun beberapa hubungan yang sangat dekat dan bermakna.
Namun, pola seperti ini juga tidak eksklusif dimiliki anak tunggal.
Setiap manusia memiliki cara berbeda dalam membangun jaringan sosial. Kepribadian, pengalaman masa kecil, pola asuh, budaya, lingkungan pendidikan, kondisi ekonomi, dan pengalaman hidup dapat memengaruhi cara seseorang menjalin hubungan.
Karena itu, status anak tunggal sebaiknya dilihat sebagai salah satu kondisi lingkungan perkembangan, bukan sebagai penyebab tunggal kepribadian.
Benarkah Anak Tunggal Lebih Egois dan Narsistik?
Salah satu stereotip paling lama mengenai anak tunggal adalah mereka dianggap lebih egois atau narsistik.
Anggapan tersebut sebenarnya telah lama diperdebatkan dalam psikologi.
Penelitian modern tidak memberikan dukungan kuat terhadap stereotip tersebut.
Studi besar terhadap orang dewasa bahkan menunjukkan bahwa perbedaan kepribadian antara anak tunggal dan mereka yang memiliki saudara sangat kecil.
Penelitian Stronge dan koleganya terhadap lebih dari 20 ribu orang dewasa menunjukkan bahwa meskipun terdapat perbedaan statistik pada beberapa dimensi kepribadian, perbedaannya terlalu kecil untuk dianggap sebagai karakteristik yang kuat dari kelompok anak tunggal.
Temuan ini penting karena seseorang bisa saja menemukan beberapa anak tunggal yang egois, perfeksionis, mandiri, atau introvert.
Tetapi hal tersebut tidak berarti sifat tersebut disebabkan oleh status mereka sebagai anak tunggal.
Anak Tunggal Tidak Otomatis Lebih Kesepian
Stereotip lainnya adalah anak tunggal dianggap lebih kesepian karena tidak memiliki saudara.
Padahal, tidak mempunyai saudara kandung tidak sama dengan tidak mempunyai hubungan sosial.
Seorang anak tunggal dapat memiliki banyak teman, hubungan dekat dengan sepupu, komunitas yang kuat, atau hubungan emosional yang erat dengan orang tua.
Sebaliknya, seseorang yang memiliki beberapa saudara kandung pun dapat mengalami kesepian.
Dengan demikian, jumlah saudara bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan kualitas kehidupan sosial seseorang.
Justru Bisa Memiliki Sejumlah Keunggulan
Menariknya, penelitian tidak hanya menunjukkan bahwa anak tunggal tidak mengalami kerugian secara umum.
Beberapa penelitian justru menemukan keuntungan tertentu.
Meta-analisis Polit dan Falbo terhadap 157 penelitian menemukan bahwa anak tunggal memiliki keunggulan dalam sejumlah ukuran, termasuk kecerdasan, pencapaian pendidikan dan pekerjaan, motivasi berprestasi, harga diri, kepemimpinan, serta hubungan dengan orang tua.
Penelitian mengenai pencapaian intelektual juga menemukan bahwa anak tunggal tidak berada pada posisi yang dirugikan dibandingkan kelompok pembanding. Dalam beberapa perbandingan, mereka bahkan menunjukkan keunggulan dalam kemampuan tertentu, terutama kemampuan verbal.
Namun temuan tersebut juga harus dibaca secara hati-hati.
Keunggulan rata-rata sebuah kelompok tidak berarti setiap individu dalam kelompok tersebut akan memiliki keunggulan yang sama.
Jadi, Seperti Apa Anak Tunggal Saat Dewasa?
Tidak ada satu jawaban.
Sebagian mungkin mandiri dan sangat nyaman bekerja sendiri. Sebagian lainnya sangat sosial dan memiliki banyak teman.
Ada yang berorientasi pada prestasi, tetapi ada pula yang santai.
Ada yang dekat dengan orang tua, sementara lainnya membangun kehidupan yang sangat independen.
Ada yang membutuhkan ruang pribadi, tetapi ada juga yang justru sangat menikmati kehidupan sosial.
Semua kemungkinan tersebut tetap terbuka.
Penelitian psikologi modern menunjukkan bahwa kepribadian manusia jauh lebih kompleks daripada sekadar jumlah saudara kandung.
Bahkan, kepribadian orang dewasa sendiri dapat berubah sepanjang perjalanan hidup. Studi longitudinal mengenai perkembangan kepribadian menunjukkan bahwa sejumlah sifat mengalami perubahan rata-rata seiring bertambahnya usia, termasuk conscientiousness, ekstraversi, dan agreeableness.
Maka, mengatakan bahwa seseorang akan memiliki karakter tertentu hanya karena ia anak tunggal adalah penyederhanaan.
Anak tunggal bukan berarti manja. Tidak punya saudara bukan berarti kesepian. Dan tumbuh tanpa saudara kandung bukan berarti seseorang akan menjadi egois.
Yang lebih menentukan adalah bagaimana seseorang tumbuh: bagaimana orang tua mengasuhnya, bagaimana ia belajar berhubungan dengan orang lain, lingkungan sosial yang ditemuinya, pendidikan yang diterimanya, serta pengalaman hidup yang membentuk cara pandangnya.
Pada akhirnya, jumlah saudara mungkin menjelaskan sebagian kecil dari lingkungan masa kecil seseorang.
Tetapi siapa seseorang ketika dewasa jauh lebih besar daripada sekadar berapa orang anak yang ada dalam keluarganya.






