PALU EKSPRES, PALU – Aksi penyegelan hunian sementara (Huntara) di Kota Palu kembali terjadi. Kini kontraktor menyegel sediktinya 20 unit Huntara di Kelurahan Pengawu Kecamatan Tatanga Kota Palu.
Aksi serupa sebelumnya pernah dilakukan oleh kontraktor Huntara di Kelurahan Mamboro Palu. Pemicunya sama, terkait pelunasan pembayaran pekerjaan Huntara.
Berdasarkan laporan yang diterima Palu Ekspres, penyegelan Huntara di Kelurahan Pengawu dilakukan CV Sinar Tritunggal Jaya. Salah satu kontraktor rekanan PT Adhi Karya. PT Adhi Karya sendiri merupakan salah satu BUMN yang ditunjuk Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU PERA) untuk bangun Huntara di Kota Palu.
Selain menyegel, kontraktor juga memasang garis pembatas serta mencoret didinding Huntara dengan tulisan “Huntara ini disegel dan belum lunas dibayar”. Aksi penyegelan terjadi sekitar pukul 16.00 WITA sore, Jumat 31 Mei 2019.
Pay, salah seorang pekerja di CV. Sinar Tritunggal Jaya menyatakan PT Adikarya bertanggung jawab untuk melunasi sepenuhnya biaya pengerjaan Huntara tersebut.
Sementara itu, Koordinator lapangan CV Karya Cemerlang, Seto, kepada Palu Ekspres mengemukakan Huntara tersebut dikerjakan bersama dengan CV Sinar Tritunggal Jaya. Kedua CV merupakan rekaman sub kontrak PT Adhi Karya.
Seto mengaku terpaksa menyegel Huntara yang mereka bangun lantaran belum ada pelunasan sisa dari biaya pengerjaan Huntara tersebut. Pihaknya kata Seto juga mendapat desakan tagihan dari penyedia material dan biaya lain lainnya.
“Tadi ini (Jumat) PT Adikarya berjanji. Tapi tiba tiba mereka beralasan dokumen belum lengkap. Bagaimana mungkin tidak lengkap sementara format dokumen kontrak mereka yang buat,”kata Seto, melalui sambungan telefon, Jumat malam.
Menurutnya, segel Huntara akan dilepas apabila pihak PT Adikarya memberi kepastian mengenai tanggal pelunasan sisa hutang pengerjaan.
“Tidak mesti dibayar sekarang, tapi paling tidak PT Adikarya memberikan kepastian waktu. Bukan justru menjadikan dokumen tidak lengkap sebagai alasan,”katanya.
Dia mengaku sejauh ini memang telah ada pembayaran sebesar 50persen. Namun saat ini pihaknya perlu mendesak sisa pembayaran lantaran mendapat desakan dari penyedia material dan lain sebagainya.
Seto menambahkan, Huntara yang mereka bangun saat ini sudah ditempati sedikitnya 20 kepala keluarga korban bencana gempa dan likuefaksi. Karenanya dia berharap seluruh pihak bisa bekerja sama untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.
Berdasarkan informasi yang diperoleh Palu Ekspres, penyegelan itu memicu kekawatrian warga. Bahkan sebagian warga dilaporkan mulai mengemasi barang-barangnya karena merasa kawatir Huntara itu dibongkar oleh kontraktor.
(mdi/palu ekspres)






