Empat komoditi unggulan KKP di Parimo sesuai pemaparan Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono. Menurutnya, potensi perikanan berkelanjutan menjadi hal penting. Ada empat komoditi unggulan yang perlu pengembangan di Parimo.
“Pertama adalah, Udang, dan Lobster. Karena kita memiliki miliaran lobster yang juga belum mampu ada pemijahan dengan baik,”ujar Menteri KP Sakti Wahyu Trenggono saat menghadiri kegiatan Hari Ikan Nasional ke IX di Desa Siney Kecamatan Tinombo Selatan. Senin (21/11/2022).
Baca juga : pemprov-sulteng-siapkan-114-ribu-kartu-sakti-untuk-petani
“Pak Dirjen budidaya sudah melapor ke saya. Saya pikir, kalau ada investor yang mengembangkan, ini akan berhasil,” ujarnya menteri KP lagi.
Selanjutnya, kata dia, adalah Kepiting dan rumput-laut pun sangat luar biasa untuk dikembangkan, karena rumput laut sangat strategis.
“Pak Bupati, Gubernur merasa nikel itu emas hitam, maka rumput-laut adalah emas hijau,” katanya menteri KP lagi.
Dia menilai saat ini rumput laut masih terabaikan. Karena masyarakat membudidayakan rumput laut hanya dalam waktu 4 bulan sudah panen. Setelah pengeringan lalu di ekspor.
baca juga : upacara-peringatan-hari-kesaktian-pancasila-begini-kondisi-di-lingkup-pemprov-sulteng
“Jadi ke depan tidak boleh lagi seperti itu. Saya ingin bekerjasama dengan Pak Gubernur dan Bupati untuk mengelola rumput laut dengan baik. Karena di sini banyak teluk yang cukup bagus untuk kita kembangkan,” harapnya.
Menurutnya, rumput laut ini memiliki nilai yang begitu luar biasa. Selain untuk bahan baku pangan, obat-obatan, kosmetik, dan juga material-material pengganti plastik.
“Empat komoditi inilah menjadi harapan saya dalam 20 tahun yang akan datang, Indonesia akan menjadi juara. Sebab, Indonesia mempunyai ribuan jenis ikan yang bisa di kembangkan,” ujarnya.
Sebelumnya, Sakti Wahyu Trenggono mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan bom.
Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap pun harus mengawasi masyarakat nelayan yang masih melakukan pengeboman ikan. Memberi pemahaman supaya mereka menggunakan moda penangkapan atau budidaya yang lebih baik.
“Ini butuh waktu dan butuh dukungan dari teman-teman mediasi,” kata dia.
Untuk mengantisipasi itu, setiap zona ada unit dari Dinas Kelautan dan Perikanan memasang satelit monitoring.
“Di setiap zona itu ada petugas dari Dinas Kelautan dan Perikanan mengawasi wilayah yang terpasang satelit tersebut, guna memastikan pelaku pengeboman,” ujarnya.
Karena, pengeboman dapat merusak wilayah dan lingkungan. Sehingga, pelaku pengeboman harus di tangkap.
“Kalau sampai tertangkap, maka kita akan bisa mengetahui lokasi mana yang di lakukan pengeboman,” ujarnya.
Penangkapan ikan pun kata dia harus secara terukur. Karena, kawasan konservasi tidak hanya untuk pemijahan ikan. Sebab jika tidak terganggu wilayahnya maka ikan akan tetap beranak di tempat tersebut.
“Jadi kalau lautnya rusak, ikannya juga akan habis,” ujarnya.
Di samping itu, menteri KP juga berharap pakan udang vaname dapat diproduksi di Kabupaten Parigi Moutong.
“Memang itu prosesnya tidak cepat, tapi butuh waktu. Saya kira itu bisa (kita) lakukan. Bila tidak kita akan sangat tergantung dan tidak akan pernah menjadi juara.”
Oleh karena itu, pemerintah harus melakukan kebijakan. Adapun kebijakan itu, pertama adalah membuat zona konservasi.
“Ini harus mendapat dukungan dari Pemerintah daerah, baik Provinsi maupun Kepala daerah pesisir.
Sebab menurutnya, zona konservasi sangat penting untuk keberlanjutan kehidupan manusia. (asw/PaluEkspres)





