Rabu, 12 Agustus 2026

Childfree dan Masa Depan Bonus Demografi Indonesia 2045

Childfree dan Masa Depan Bonus Demografi Indonesia 2045
Childfree dan Masa Depan Bonus Demografi Indonesia 2045./ Foto: calebjones/unsplash

Childfree dan Masa Depan Bonus Demografi Indonesia 2045. Saat ini ide soal Childfree ramai di jagad maya dan dunia nyata.

Istilah Childree yang semula berkembang di Eropa ini adalah gagasan ketika seseorang memutuskan untuk tidak memiliki anak meskipun mereka memiliki pasangan hidup.

Gagasan Childfree akhirnya berkembang kemana-mana hingga ke Indonesia. Sebenarnya sejak tahun 2020 ide ini muncul di masyarakat. Karena maraknya penggunaan sosial media.

Pengamat Sosial Universitas Indonesia, Devie Rahmawati, mengatakan sebetulnya, sejak lama banyak pasangan di Indonesia yang memilih hidup tanpa anak.

Itu dilakukan secara diam-diam dan senyap kata Devie seperti dikutip dari BBC News Indonesia.

Namun ide Childfree marak ketika munculnya generasi baru yang lebih terbuka dalam menyampaikan pendapat. Apalagi kata dia ada ruang media sosial yang secara terbuka membuat masyarakat lebih bebas untuk bersuara.

Keinginan menjadi childfree lahir dari kemudahan akses informasi mengenai parenting. Semakin banyak masyarakat yang terpapar dengan ide-ide dan alternatif baru yang untuk beberapa negara dianggap hal normal. Sebut saja seperti Amerika, China, Jepang, dan Korea Selatan.

Jadi kata Devie, akibat paparan informasi tersebut akhirnya perempuan-perempuan yang dengan cara pandang yang sudah lebih terbuka menyadari bahwa dia sebenarnya punya hak atas tubuhnya untuk melahirkan anak atau tidak.

Lalu bagaimana hubungan Childfree dan Masa Depan Bonus Demografi Indonesia 2045?

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo, mengatakan fenomena childfree dapat menimbulkan krisis demografi seiring berjalannya waktu.

“Jelas akan mengancam demografi, krisis demografi terjadi karena sebentar lagi orang tua jumlahnya sebanyak,” kata Hasto kepada media pada Kamis (16/2).

Hasto menyatakan jumlah lansia yang semakin banyak ditambah dengan kondisi kelompok muda tidak produktif akan berprevalensi terhadap krisis ekonomi.

“Apalagi yang muda tidak produktif dan yang tua banyak, sedangkan yang tua rata-rata pendidikannya 8,3 tahun,” ujarnya.

Meski begitu, Hasto memastikan Indonesia masih jauh dari krisis demografi tersebut.

“Tapi saya yakin Indonesia tidak akan terjadi, masih butuh waktu 50 tahun dari sisi demografi,” ungkap Haryo.

Malah Indonesia diperkirakan akan mengalami lonjakan penduduk usia produktif pada tahun 2045. Indonesia disebut akan mendapatkan bonus demografi yaitu jumlah penduduk Indonesia 70%-nya dalam usia produktif (15-64 tahun). Sedangkan sisanya 30% merupakan penduduk yang tidak produktif (usia dibawah 14 tahun dan diatas 65 tahun). Ini diperkirakan pada periode tahun 2020-2045.

Pandangan Pakar soal childfree?

Hasto Wardoyo kepala BKKBN itu percaya bahwa Indonesia masih lama untuk mengalami krisis demografi akibat pilihan childfree.

Setidaknya pendapat Hasto ini sama dengan pakar sosiologi Universitas Indonesia yang kini menjabat sebagai Peneliti dan Pengajar Tetap Vokasi UI, Devie Rahmawati.

Menurutnya, tradisi dan kultur kental di Indonesia membuat childfree banyak ditentang di masyarakat.

“Walaupun diskursusnya sekarang naik, belum tentu di lapangan praktiknya terjadi. Karena kompleksitas masyarakat kita sangat tinggi,” kata Devie seperti dilansir BBC News Indonesia.

Dia yakin Indonesia tidak akan menghadapi masalah populasi menua seperti China ataupun Jepang dalam waktu dekat. Untuk sampai pada titik itu, kata Devie, Indonesia akan memerlukan waktu 40-50 tahun.

Karena katanya, kecendrungan kompleksitas tradisi lalu sosial yang menganggap pernikahan tanpa anak adalah tabu. Meskipun dia meyakini bahwa banyak orang sekarang yang cara pandangnya sudah terbuka.

“Akibat teknologi dan informasi maka perubahan perilaku itu juga bisa dengan cepat terjadi,” jelasnya.

Seperti pandangan Psikolog yang juga dosen Fakultas Psikologi Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta Ratna Yunita Setiyani Subardjo.

Ratna mengatakan sejatinya memiliki anak adalah sesuatu yang mengikat hubungan suami istri atau keluarga menjadi lebih utuh seperti dikutip dari Kompas.com.

Ini berbeda dengan pandangan orang-orang yang memilih untuk childfree yang tidak ingin memiliki anak karena tidak ingin repot dan terganggu hubungan dengan pasangan.

Ratna menyampaikan, mereka yang tidak ingin memiliki anak dalam pernikahan biasanya memiliki motif dan kepentingan tersendiri.

Selain itu, kata dia, biasanya orang-orang beranggapan bahwa tidak memiliki anak itu memudahkan mereka dalam pekerjaan dan lainnya. Ada beberapa alasan kepentingannya yang lebih ke egosentris, karir, kedudukan, dan materi.

“Jika dilihat dari egosentrisme tentu orang tersebut tidak sehat mental karena ia memiliki ego dan perhatian yang berlebihan pada diri sendiri dan berfokus untuk kesejahteraan diri sendiri dengan mengabaikan orang lain,” tambahnya.

Bagaimana menurut Anda soal Childfree? (aaa/PaluEkspres)

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital
Pendekatan Baru Dalam Pengelolaan Platform Permainan Daring Modern Terbentuk Dari Blockchain Dan Big Data
Skalabilitas Game Online Di Tengah Pertumbuhan Pengguna Digital Global Didukung Infrastruktur Cloud Native
Transparansi Ekosistem Game Online Berbasis Teknologi Masa Kini Didukung Blockchain Modern Dan Smart Contract
Ekosistem Game Modern Yang Lebih Terhubung Terbentuk Dari Integrasi Internet Of Things Dan Artificial Intelligence
Industri Game Modern Menyesuaikan Layanan Dengan Perubahan Perilaku Digital Berkat AI Berbasis Prediksi
Performa Game Multiplayer Meningkat Melalui Teknologi Edge Computing Dengan Pemrosesan Data Lebih Cepat
Platform Game Multiplayer Mengantisipasi Ancaman Siber Lebih Efektif Berkat Cyber Intelligence Modern
Pengembangan Game Modern Menjadi Lebih Fleksibel Dan Adaptif Berkat Artificial Intelligence Berbasis Cloud
Transformasi Digital Perusahaan Skala Kecil Dan Menengah Dipercepat Melalui Pengembangan Aplikasi Low Code
Visibilitas Konten Pada Google Discover Meningkat Secara Organik Berkat Strategi Search Engine Optimization
Menekan Spin Delay Is The Key Dengan Irama Tidak Teratur 2 Detik, 5 Detik, 8 Detik Bisa Membingungkan Randomizer Atau Hanya Ritual Ocd Saja
Masa Depan Hiburan Digital Interaktif Dibahas Melalui Perpaduan Teknologi Dan Narasi Pada Wild Bounty Showdown
Inovasi Seotda Baccarat Dari Pragmatic Play Menggabungkan Budaya Korea Dan Format Baccarat Modern Di Tahun 2026
Infrastruktur Game Digital Lebih Siap Menghadapi Gangguan Berkat Cyber Resilience Architecture
RTP Mahjong Scatter Hitam Pragmatic Play Hadir Nonstop 24 Jam Berkat Inovasi Teknologi AI Terbaru
Mahjong Ways Dioptimalkan Dengan Grafis Engine HTML5 Dan Kecepatan Respons Antarmuka Pengguna
Mahjong Ways Menjelaskan Mekanisme Perhitungan Kombinasi Kemenangan Dari Kiri Ke Kanan
Infrastruktur Digital Menjaga Stabilitas Performa Meskipun Beban Sistem Terus Meningkat
Data Historis Menjadi Dasar Pengembangan Algoritma Prediktif Generasi Terbaru
Literasi Risiko Menjadi Penting Seiring Pertumbuhan Investor Pasar Modal Indonesia