Rabu, 2 September 2026

Childfree dan Masa Depan Bonus Demografi Indonesia 2045

Childfree dan Masa Depan Bonus Demografi Indonesia 2045
Childfree dan Masa Depan Bonus Demografi Indonesia 2045./ Foto: calebjones/unsplash

Childfree dan Masa Depan Bonus Demografi Indonesia 2045. Saat ini ide soal Childfree ramai di jagad maya dan dunia nyata.

Istilah Childree yang semula berkembang di Eropa ini adalah gagasan ketika seseorang memutuskan untuk tidak memiliki anak meskipun mereka memiliki pasangan hidup.

Gagasan Childfree akhirnya berkembang kemana-mana hingga ke Indonesia. Sebenarnya sejak tahun 2020 ide ini muncul di masyarakat. Karena maraknya penggunaan sosial media.

Pengamat Sosial Universitas Indonesia, Devie Rahmawati, mengatakan sebetulnya, sejak lama banyak pasangan di Indonesia yang memilih hidup tanpa anak.

Itu dilakukan secara diam-diam dan senyap kata Devie seperti dikutip dari BBC News Indonesia.

Namun ide Childfree marak ketika munculnya generasi baru yang lebih terbuka dalam menyampaikan pendapat. Apalagi kata dia ada ruang media sosial yang secara terbuka membuat masyarakat lebih bebas untuk bersuara.

Keinginan menjadi childfree lahir dari kemudahan akses informasi mengenai parenting. Semakin banyak masyarakat yang terpapar dengan ide-ide dan alternatif baru yang untuk beberapa negara dianggap hal normal. Sebut saja seperti Amerika, China, Jepang, dan Korea Selatan.

Jadi kata Devie, akibat paparan informasi tersebut akhirnya perempuan-perempuan yang dengan cara pandang yang sudah lebih terbuka menyadari bahwa dia sebenarnya punya hak atas tubuhnya untuk melahirkan anak atau tidak.

Lalu bagaimana hubungan Childfree dan Masa Depan Bonus Demografi Indonesia 2045?

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo, mengatakan fenomena childfree dapat menimbulkan krisis demografi seiring berjalannya waktu.

“Jelas akan mengancam demografi, krisis demografi terjadi karena sebentar lagi orang tua jumlahnya sebanyak,” kata Hasto kepada media pada Kamis (16/2).

Hasto menyatakan jumlah lansia yang semakin banyak ditambah dengan kondisi kelompok muda tidak produktif akan berprevalensi terhadap krisis ekonomi.

“Apalagi yang muda tidak produktif dan yang tua banyak, sedangkan yang tua rata-rata pendidikannya 8,3 tahun,” ujarnya.

Meski begitu, Hasto memastikan Indonesia masih jauh dari krisis demografi tersebut.

“Tapi saya yakin Indonesia tidak akan terjadi, masih butuh waktu 50 tahun dari sisi demografi,” ungkap Haryo.

Malah Indonesia diperkirakan akan mengalami lonjakan penduduk usia produktif pada tahun 2045. Indonesia disebut akan mendapatkan bonus demografi yaitu jumlah penduduk Indonesia 70%-nya dalam usia produktif (15-64 tahun). Sedangkan sisanya 30% merupakan penduduk yang tidak produktif (usia dibawah 14 tahun dan diatas 65 tahun). Ini diperkirakan pada periode tahun 2020-2045.

Pandangan Pakar soal childfree?

Hasto Wardoyo kepala BKKBN itu percaya bahwa Indonesia masih lama untuk mengalami krisis demografi akibat pilihan childfree.

Setidaknya pendapat Hasto ini sama dengan pakar sosiologi Universitas Indonesia yang kini menjabat sebagai Peneliti dan Pengajar Tetap Vokasi UI, Devie Rahmawati.

Menurutnya, tradisi dan kultur kental di Indonesia membuat childfree banyak ditentang di masyarakat.

“Walaupun diskursusnya sekarang naik, belum tentu di lapangan praktiknya terjadi. Karena kompleksitas masyarakat kita sangat tinggi,” kata Devie seperti dilansir BBC News Indonesia.

Dia yakin Indonesia tidak akan menghadapi masalah populasi menua seperti China ataupun Jepang dalam waktu dekat. Untuk sampai pada titik itu, kata Devie, Indonesia akan memerlukan waktu 40-50 tahun.

Karena katanya, kecendrungan kompleksitas tradisi lalu sosial yang menganggap pernikahan tanpa anak adalah tabu. Meskipun dia meyakini bahwa banyak orang sekarang yang cara pandangnya sudah terbuka.

“Akibat teknologi dan informasi maka perubahan perilaku itu juga bisa dengan cepat terjadi,” jelasnya.

Seperti pandangan Psikolog yang juga dosen Fakultas Psikologi Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta Ratna Yunita Setiyani Subardjo.

Ratna mengatakan sejatinya memiliki anak adalah sesuatu yang mengikat hubungan suami istri atau keluarga menjadi lebih utuh seperti dikutip dari Kompas.com.

Ini berbeda dengan pandangan orang-orang yang memilih untuk childfree yang tidak ingin memiliki anak karena tidak ingin repot dan terganggu hubungan dengan pasangan.

Ratna menyampaikan, mereka yang tidak ingin memiliki anak dalam pernikahan biasanya memiliki motif dan kepentingan tersendiri.

Selain itu, kata dia, biasanya orang-orang beranggapan bahwa tidak memiliki anak itu memudahkan mereka dalam pekerjaan dan lainnya. Ada beberapa alasan kepentingannya yang lebih ke egosentris, karir, kedudukan, dan materi.

“Jika dilihat dari egosentrisme tentu orang tersebut tidak sehat mental karena ia memiliki ego dan perhatian yang berlebihan pada diri sendiri dan berfokus untuk kesejahteraan diri sendiri dengan mengabaikan orang lain,” tambahnya.

Bagaimana menurut Anda soal Childfree? (aaa/PaluEkspres)

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam