Jakarta, PaluEkspres.com – Pemerintah melalui Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) resmi melakukan Kick Off SMK Go Global, sebuah program strategis untuk menyiapkan Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang terampil, kompeten, dan mampu bersaing di pasar kerja internasional.
Program ini hadir di tengah momentum bonus demografi Indonesia, ketika jumlah penduduk usia produktif masih besar.
Pada saat yang sama, sejumlah negara di Eropa dan Asia menghadapi kekurangan tenaga kerja akibat fenomena aging population atau penuaan penduduk.
Kondisi tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja di berbagai negara. Namun, peluang itu perlu diikuti dengan penyiapan sumber daya manusia yang memiliki keterampilan sesuai standar industri global serta dapat bekerja melalui jalur resmi dan terlindungi.
Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin mengatakan, SMK Go Global merupakan bagian dari upaya pelindungan pekerja migran sejak dari tahap persiapan.
“SMK Go Global merupakan bentuk pelindungan dari hulu. Peserta dibekali kompetensi, bahasa, serta sertifikasi yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja internasional agar siap bekerja melalui jalur yang legal, aman, dan terlindungi,” kata Mukhtarudin.
Menurut dia, program tersebut tidak sekadar diarahkan untuk meningkatkan jumlah pekerja yang ditempatkan di luar negeri.
Lebih jauh, pemerintah ingin memastikan setiap calon pekerja memiliki kompetensi yang benar-benar dibutuhkan negara tujuan.
“Yang kita siapkan bukan sekadar tenaga kerja untuk diberangkatkan, tetapi tenaga kerja yang memiliki kompetensi dan mampu memenuhi standar kebutuhan industri di negara tujuan,” ujarnya.
SMK Go Global juga menjadi bagian dari pelaksanaan arahan Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Kabinet Paripurna pada 20 Oktober 2025 mengenai penyiapan 500.000 tenaga kerja terampil untuk pasar internasional.
Dari target tersebut, sebanyak 300.000 peserta ditargetkan berasal dari lulusan SMK. Sementara 200.000 lainnya berasal dari pendaftar umum, mulai dari lulusan SMA, diploma, hingga sarjana.
Program ini tidak semata-mata mengejar jumlah peserta. Pelatihan dirancang dengan pendekatan berbasis kebutuhan pasar atau demand-driven, terutama melalui program upskilling bagi calon Pekerja Migran Indonesia yang telah memiliki dasar kompetensi.
Dengan pendekatan tersebut, keterampilan yang diberikan diharapkan lebih relevan dengan kebutuhan industri dan negara tujuan, sekaligus meningkatkan peluang terjadinya penempatan tenaga kerja yang tepat.
Kolaborasi dengan Kementerian Perindustrian
Dukungan terhadap SMK Go Global juga datang dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin). Kementerian ini berkomitmen mendukung agenda prioritas Presiden Prabowo Subianto dalam menyiapkan lulusan yang kompeten dan memiliki daya saing di pasar kerja internasional.
Komitmen itu diwujudkan melalui kemitraan strategis antara Kemenperin dan Kementerian P2MI. Kolaborasi tersebut menjadi bentuk sinergi hulu-hilir, dengan masing-masing kementerian menjalankan peran yang saling melengkapi dalam menyiapkan pekerja migran yang berkualitas.
Plt. Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin, Emmy Suryandari, mengatakan Kemenperin mengambil peran pada tahap awal untuk memastikan calon pekerja memiliki keterampilan teknis yang sesuai standar.
“Kementerian Perindustrian berperan di sisi hulu untuk menyiapkan skill dan kompetensi teknis dari para pekerja serta memastikan tersedianya standar kualitas. Sementara itu, Kementerian P2MI berperan di sisi hilir membuka akses pasar kerja, menempatkan lulusan, dan memberikan payung perlindungan,” kata Emmy.
Untuk mendukung proses tersebut, Kemenperin mengoptimalkan peran tujuh Balai Diklat Industri (BDI) yang tersebar di Jakarta, Medan, Padang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, dan Makassar.
Pembekalan bagi calon Pekerja Migran Indonesia dalam program SMK Go Global difokuskan pada tiga pilar utama, yakni pelatihan berbasis kompetensi, sertifikasi kompetensi, dan penguatan etos kerja.
Pelatihan berbasis kompetensi diarahkan untuk memastikan keterampilan teknis peserta sesuai dengan standar dan kebutuhan industri global. Sementara sertifikasi kompetensi menjadi bentuk pengakuan resmi atas kemampuan yang dimiliki peserta.
Adapun penguatan etos kerja ditujukan untuk membentuk mentalitas, kedisiplinan, tanggung jawab, serta profesionalisme calon pekerja selama menjalankan tugas di luar negeri.
Melalui kolaborasi tersebut, pemerintah berharap proses job matching antara calon pekerja dan kebutuhan industri di negara tujuan dapat berjalan lebih efektif.
Pada akhirnya, SMK Go Global diharapkan tidak hanya membuka akses kerja bagi lulusan pendidikan vokasi, tetapi juga meningkatkan nilai tawar dan daya saing Pekerja Migran Indonesia di pasar kerja global.






