Minggu, 9 Agustus 2026

Agama Jadi Alat Politik, Pelaku Bom Bunuh Diri Gampang Direkrut

PALU EKSPRES, JAKARTA – Aksi bom bunuh diri terjadi di Halte Transjakarta Terminal Bus Kampung Melayu, Jakarta Timur, Rabu (24/5) malam.

Ali Fauzi, mantan kombatan, mengatakan, informasi yang didapatkannya menyebutkan, tidak sulit mencari orang yang mau menjadi pengantin bom bunuh diri.

Untuk itu, dia meminta pemerintah benar-benar melakukan program deradikalisasi dengan baik. Selain itu, dia merasa bahwa di Indonesia kini agama juga sudah menjadi alat politik.

”Ini yang membuat situasi lebih buruk,” tandas adik kandung Amrozi dan Ali Imron, dua terpidana mati kasus bom Bali, tersebut.

Kemudian, soal penyerbuan kelompok bersenjata ke Marawi (Filipinan), bagi Ali itu bukan hal yang mengejutkan. Itu menunjukkan sebuah klimaks dari banyak hal.

”Yang pertama harus diingat, Mindanao itu penuh dengan kelompok bersenjata,” katanya.

Dari catatan Jawa Pos, setidaknya ada empat kelompok bersenjata yang paling dominan di sana. Yang pertama dan terbesar adalah MILF (Moro Islamic Liberation Front) bentukan almarhum Ustad Hashim Salamat.

Yang kedua adalah MNLF (Moro National Liberation Front) yang masih dipimpin jagoan gaek Nur Misuari. MNLF pernah menyandera Kota Zamboanga beberapa tahun lalu dan kini masih bersembunyi di kawasan hutan di Sulu.

Yang ketiga adalah Abu Sayyaf. Kelompok tersebut lebih berkiblat sebagai kelompok jihad global. Yang terakhir dan yang makin kecil adalah NPA (New People’s Army), sayap militer kelompok komunis.

Dalam tujuh tahun terakhir, anggota empat kelompok itu bergerak dinamis. Meski awalnya mesra, lalu pecah dan secara resmi masih berperang, anggota dua kelompok tersebut (MILF dan MNLF) makin cair.

”Jadi, di lapangan, yang bawahan ini saling menjalin persahabatan. Terutama jika bertemu dalam kepentingan,” papar pria yang kini menjadi ketua Yayasan Lingkar Perdamaian itu.

Dari informasi yang terakhir didengarnya, MILF pun terpecah. Terutama setelah MILF resmi berdamai dengan pemerintah Filipina untuk membentuk otonomi daerah.

”Ada sejumlah faksi yang menyatakan perdamaian itu sama saja dengan kekalahan,” katanya.

Faksi-faksi itulah yang kemudian bergabung dengan kelompok militan Abu Sayyaf. Gabungan dua kekuatan itulah yang kemudian menjadi pelaku penyerbuan Marawi.

”Memang metodenya seperti ISIS. Tapi, jangan cepat-cepat disimpulkan itu ISIS,” tutur Ali Fauzi.

Soal banyaknya bendera hitam-hitam dengan lafaz tauhid, Ali mengatakan bahwa sejak dulu bendera semacam itu sudah ada. ”Sejak saya masih di sana lebih dari sepuluh tahun lalu,” ucapnya.

Soal kabar mengenai kelompok Maute, Ali mengatakan, soal nama itu bisa apa saja. ”Tapi, kelompok ini mendapat anggota dari mana? Ya dari MILF dan Abu Sayyaf. Sebab, hanya itu yang punya kemampuan kombatan bagus,” imbuhnya.

Itulah yang kemudian menjelaskan mengapa peristiwa tersebut terjadi di Marawi, sebuah kota yang sebenarnya merupakan basis MILF.

Jawa Pos pada 2009 pernah singgah ke Marawi dan tinggal di sana dua hari. Ketika itu Marawi adalah kota terakhir yang menjadi checkpoint sebelum masuk ke Kamp Bushra, kamp pelatihan militer terbesar MILF yang berada di tengah hutan di puncak gunung.

Dibutuhkan waktu lebih dari sepuluh jam untuk menembus hutan dari sebuah jalan kecil di pinggiran Kota Marawi.

Karakter orang Marawi sendiri sebenarnya halus-halus. Juga moderat. Ketika itu hampir tidak pernah terjadi kekerasan bersenjata di kota tersebut. Di sana juga banyak semacam pondok pesantren.

Meski banyak warganya yang simpatisan MILF, kota itu tak pernah menjadi ajang pertempuran. Intinya, situasi di sana sesejuk cuacanya yang dingin karena berada di lereng pegunungan.

Ali Fauzi menganalisis, justru karena situasi warganya yang seperti itu, Marawi menjadi pilihan strategis untuk diserbu.

”Sebenarnya ada daerah yang lebih panas lagi. Seperti di Cotabato City ataupun di Zamboanga. Namun, militer juga ketat di sana,” paparnya.

Apalagi, kata Ali, ada situasi yang memicu militansi kelompok tersebut. ”Yang saya dengar, ada konflik antara pemerintah dan tokoh di sana,” ungkapnya.

Apalagi, banyak warga Mindanao yang kecewa dengan Presiden Rodrigo Duterte. Mereka berharap bisa dibangun seperti Davao, tapi hingga kini belum terlaksana. ”Jadi, sifatnya akumulatif dan dari banyak faktor,” katanya.

Kecewa terhadap pemerintah, mempunyai kemampuan kombatan dan persenjataan yang cukup, penyerbuan seperti itu hanya menunggu waktu.

”Selama perlakuan terhadap Mindanao tidak banyak berubah, cerita tentang penculikan, kerusuhan bersenjata, hingga penyerbuan seperti Marawi ini akan terus terjadi,” terang Ali.

”Dan jika Mindanao jatuh ke tangan kelompok militan, efeknya akan berbahaya. Indonesia bisa akan ketularan,” tambahnya.

(ano/c9/nw)

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital
Pendekatan Baru Dalam Pengelolaan Platform Permainan Daring Modern Terbentuk Dari Blockchain Dan Big Data
Skalabilitas Game Online Di Tengah Pertumbuhan Pengguna Digital Global Didukung Infrastruktur Cloud Native
Transparansi Ekosistem Game Online Berbasis Teknologi Masa Kini Didukung Blockchain Modern Dan Smart Contract
Ekosistem Game Modern Yang Lebih Terhubung Terbentuk Dari Integrasi Internet Of Things Dan Artificial Intelligence
Industri Game Modern Menyesuaikan Layanan Dengan Perubahan Perilaku Digital Berkat AI Berbasis Prediksi
Performa Game Multiplayer Meningkat Melalui Teknologi Edge Computing Dengan Pemrosesan Data Lebih Cepat
Platform Game Multiplayer Mengantisipasi Ancaman Siber Lebih Efektif Berkat Cyber Intelligence Modern
Pengembangan Game Modern Menjadi Lebih Fleksibel Dan Adaptif Berkat Artificial Intelligence Berbasis Cloud
Transformasi Digital Perusahaan Skala Kecil Dan Menengah Dipercepat Melalui Pengembangan Aplikasi Low Code
Visibilitas Konten Pada Google Discover Meningkat Secara Organik Berkat Strategi Search Engine Optimization