Sabtu, 8 Agustus 2026

Tahun Ini 80 Pekerja Media Tewas, 348 Dipenjara

PALU EKSPRES – Sebanyak 80 pekerja media terbunuh tahun 2018, kata organisasi Reporter Sans Frontieres (RSF). Kebencian terhadap wartawan dan pekerja media juga dipicu oleh para pemimpin politik. Sebanyak 80 orang pekerja media tewas saat bertugas di seluruh dunia pada tahun 2018.

“Sementara 348 pekerja media dipenjara dan 60 lainnya disandera”, ungkap organisasi Reporter Sans Frontieres (RSF) dalam laporan tahunannya yang dirilis Selasa (18/12/2018) di Paris.

“Kekerasan terhadap jurnalis tahun ini telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan situasinya sekarang sudah kritis,” kata Sekretaris Jenderal RSF Christophe Deloire.

Selanjutnya Deloire mengatakan: “Kebencian terhadap para wartawan kadang-kadang secara terbuka dideklarasikan oleh politisi, pemimpin agama dan pengusaha yang tidak bermoral.”.

RSF dalam laporannya menegaskan bahwa “ekspresi kebencian (terhadap wartawan) melegitimasi kekerasan, sehingga merongrong kebebasan jurnalisme dan demokrasi itu sendiri.”

Jumlah yang tewas itu belum termasuk kasus kematian 10 pekerja media yang menurut RSF masih diselidiki.

“Kasus pembunuhan, pemenjaraan, penyanderaan, dan penghilangan paksa semuanya meningkat,” kata Christophe Deloire menambahkan.

Jadi target pembunuhan

Para pekerja media yang tewas antara lain 63 jurnalis profesional, 13 jurnalis warga dan empat pembantu media. Sebanyak 31 orang tewas ketika menjalankan tugasnya, sedangkan 49 jadi sasaran pembunuhan terarah.

Salah satu kasus terbaru yang mendapat sorotan luas adalah pembunuhan kontributor The Washington Post, Jamal Khashoggi di konsulat Arab Saudi di Istanbul, dan wartawan Slovakia Jan Kuciak serta pasangannya.

Pembunuhan Khashoggi bulan Oktober lalu menunjukkan bagaimana “beberapa orang siap membungkam wartawan yang dianggap merepotkan,” kata RSF.

Afghanistan adalah negara paling berbahaya bagi wartawan pada tahun 2018, dengan 15 pekerja media tewas. Diikuti oleh Suriah dengan 11 kasus kematian jurnalis dan Meksiko dengan sembilan kasus kematian jurnalis.

Kebencian diperkuat oleh media sosial

Christophe Deloire mengatakan, kebencian yang digerakkan dan disebarkan terhadap jurnalis “diperkuat oleh jaringan media sosial, yang memberi kontribusi dan memikul tanggung jawab besar dalam hal ini.”

Cina masih menjadi negara dengan paling banyak kasus penahanan pekerja media, yakni 60 orang berada dalam tahanan, 46 di antaranya adalah blogger. Beberapa orang ditahan “dalam kondisi tidak manusiawi, hanya karena sebuah posting di jejaring sosial.”

Laporan RSF juga mengecam “rezim despotik Turki “di mana wartawan didakwa dengan pasal terorisme atas dasar satu kata atau kontak telepon.” Mesir dan Iran juga masuk daftar hitam dengan 38 dan 28 wartawan yang dipenjara.

RSF juga mengritik Mesir karena kerancuan sistem peradilan militernya. Sebanyak 30 wartawan saat ini masih ditahan dan belum diadili, sedangkan yang lainnya masih tetap ditahan bahkan setelah pengadilan memerintahkan pembebasan mereka.

“Pembunuhan, pemenjaraan, penyanderaan, dan penghilangan paksa semuanya meningkat. Jurnalis belum pernah mengalami kekerasan dan perlakuan kasar seperti pada tahun 2018,” tandas Sekjen RSF Christophe Deloire.

hp/as (afp, rtr, dpa, ap)

 

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital