Kehilangan Adriani dan berakhirnya sebuah zaman
Pada akhir 1920-an, tanda-tanda berakhirnya sebuah zaman mulai terlihat.
Kruyt telah menghabiskan empat puluh tahun di daerah tropis. Pada 1930 ia merayakan empat puluh tahun sebagai zendeling. Rekannya yang paling penting, Adriani, meninggal pada 1926. Istri Papa Woente wafat pada 1929. Banyak orang dari generasi pertama yang ditemuinya telah pergi.
Kruyt sendiri mulai memikirkan kepulangan.
Tetapi sebelum pergi, ia masih memiliki satu pekerjaan besar: menyelesaikan terjemahan Perjanjian Baru dalam bahasa Bare’e yang sebelumnya dikerjakan Adriani dan belum selesai.
Ia menghabiskan berjam-jam setiap hari untuk pekerjaan tersebut. Bahkan keberangkatannya dari Pendolo tertunda sekitar satu tahun karena tugas penerjemahan itu.
Pada Oktober 1932, akhirnya Kruyt dan istrinya meninggalkan Sulawesi Tengah.
Pada 17 Desember 1932, mereka tiba di Belanda.
Empat puluh tahun setelah ia pertama kali menginjak tanah itu, perjalanan tersebut berakhir.






