Bukan hanya kisah Kruyt, melainkan potret Poso yang telah hilang
Pada akhirnya, mungkin justru inilah alasan paling kuat untuk membaca Dienaar der Toradja’s sekarang.
Buku tersebut memang memiliki seorang tokoh utama bernama Albert C. Kruyt. Tetapi semakin jauh kita membacanya, semakin terasa bahwa tokoh sebenarnya bukan hanya Kruyt.
Tokoh sebenarnya adalah sebuah dunia.
Dunia Poso ketika jalan masih berupa jalur tanah dan sungai menjadi salah satu sarana utama perjalanan. Dunia ketika seorang asing dapat berdiri di tengah kampung dan dianggap mungkin datang untuk membangun kekuasaan baru. Dunia ketika sekolah dianggap mencurigakan, ketika kepala manusia masih menjadi bagian dari praktik perang, ketika pesta kematian menjadi peristiwa sosial yang besar, ketika bahasa Bare’e belum memiliki banyak bahan tertulis, dan ketika seorang misionaris harus berjalan berhari-hari untuk menemui satu kelompok masyarakat.
Kruyt menghabiskan empat puluh tahun untuk memahami dunia itu.
Brouwer kemudian menghabiskan waktunya untuk menyusun kembali perjalanan tersebut.
Dan hari ini, lebih dari tujuh puluh tahun setelah buku itu diterbitkan, pembaca Indonesia dapat melakukan sesuatu yang mungkin tidak sepenuhnya dibayangkan oleh penulisnya: membaca kisah itu dari sisi lain.
Bukan hanya sebagai kisah keberhasilan seorang misionaris Belanda.
Melainkan sebagai arsip tentang bagaimana Sulawesi Tengah mengalami perubahan besar ketika dunia kolonial, agama Kristen, pendidikan modern dan ilmu pengetahuan masuk ke dalam masyarakat lokal.
Di sanalah Dienaar der Toradja’s menemukan relevansinya.
Ia adalah buku tentang seorang manusia yang datang membawa keyakinan, tetapi kemudian menghabiskan hidupnya untuk mempelajari manusia lain.
Ia adalah kisah tentang seorang misionaris yang menjadi etnolog.
Tentang seorang asing yang perlahan-lahan menjadi bagian dari sebuah tempat.
Tentang sebuah masyarakat yang tidak berubah dalam semalam, melainkan melalui puluhan tahun tarik-menarik antara adat, agama, kekuasaan dan pendidikan.
Dan yang paling menarik, tentang sebuah perjalanan yang pada akhirnya mencapai titik ketika sang pendatang harus pergi agar masyarakat yang dilayaninya dapat berdiri dengan kakinya sendiri.
Mungkin karena itu judul buku tersebut terasa semakin dalam setelah seluruh kisah selesai dibaca.
Dienaar der Toradja’s — “Pelayan bagi Orang Toraja.”
Bukan “penguasa”, bukan “penakluk”, dan bukan pula “pemilik”.
Seorang pelayan.
Dan dalam logika sejarah yang panjang, ukuran keberhasilan seorang pelayan memang bukan berapa lama ia bertahan di tengah orang yang dilayaninya, melainkan apakah orang-orang itu akhirnya mampu berjalan tanpa dirinya.
Catatan Penulis: Artikel ini adalah ulasan buku Dienaar der Toradja’s karya Dr. K. J. Brouwer, terbit di Den Haag oleh J. N. Voorhoeve pada 1951. Buku ini merupakan biografi tentang Dr. Albert C. Kruyt, tokoh misionaris dan etnolog yang menghabiskan puluhan tahun hidupnya di Midden-Celebes, terutama wilayah Poso dan pedalaman Sulawesi Tengah. Penting Redaksi jelaskan, bahwa identifikasi sebagai Suku Toraja, atas suku-suku di pedalaman Pamona, Poso, termasuk sebagian Suku Kaili di pedalaman Sulawesi Tengah, kemudian dikoreksi oleh penelitian-penelitian selanjutnya. Jadi Suku Toraja yang dimaksud Kruyt dalam buku ini bukanlah dialamatkan pada Orang-orang Toraja yang mendiami Kabupaten Tana Toraja, Kabupaten Toraja Utara, dan Kabupaten Mamasa.






