Antara sekolah, gereja, dan negara kolonial
Namun Kruyt bekerja dalam lingkungan yang tidak sederhana.
Pemerintah kolonial semakin masuk ke pedalaman. Kekuasaan para penguasa lokal dipangkas. Perang antarkelompok dihentikan. Praktik seperti perburuan kepala, pesta kematian dan sejumlah bentuk adat dibatasi atau dilarang.
Di satu sisi, tindakan pemerintah menciptakan keamanan yang memungkinkan sekolah dan misi berkembang. Di sisi lain, perubahan itu juga menghancurkan sebagian struktur sosial lama.
Kruyt sendiri menyadari paradoks tersebut.
Ketika pemerintah kolonial semakin kuat, masyarakat mulai melihat hubungan antara pemerintah dan misi sebagai sesuatu yang sulit dipisahkan. Kruyt berusaha keras menolak anggapan bahwa dirinya adalah perpanjangan tangan pemerintah.
Namun secara historis, persoalan itu memang tidak mudah diselesaikan.
Kruyt datang sebagai orang Eropa di bawah pemerintahan kolonial Eropa. Ia membutuhkan perlindungan pemerintah. Ia bepergian dengan surat pengantar pejabat. Ia terkadang menggunakan bantuan aparat untuk membuka akses.
Tetapi pada saat yang sama ia tidak ingin masyarakat menganggap kekristenan sebagai kewajiban politik.
Di sinilah pembaca modern perlu bersikap kritis.
Buku Brouwer ditulis dalam perspektif misioner. Istilah-istilah yang digunakan untuk menyebut masyarakat lokal—termasuk pembagian antara “Kristen” dan “kafir”—jelas merupakan bahasa zamannya. Kita tidak boleh membacanya sebagai gambaran objektif tanpa konteks.
Namun justru karena itulah buku ini penting.
Ia menunjukkan bagaimana seorang Eropa pada masa kolonial memahami masyarakat Sulawesi Tengah, dan sekaligus memberikan banyak catatan tentang masyarakat itu sendiri.






